Lompat ke isi utama

Rehabilitasi berbasis Masyarakat Dorong Lingkungan Inklusif

Pelatihan “Membangun Masyarakat Yang Inklusif Dengan Strategi Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Christian Blind Mission (CBM) para mitranya bertujuan berbagi pengalaman dalam menerapkan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

Ketiga mitra CBM yaitu PPRBM Solo, Pusat Rehabilitasi YAKKUM Yogyakarta dan Yayasan Bhakti Luhur Malang. Pengalaman yang diperoleh dari prinsip RBM yang mereka terapkan bisa menjadi pembelajaran bersama.

RBM Bukan Hanya Milik Isu Difabilitas

Salah satu fasilitator, Adrian Brahma dari CBM menyatakan bahwa selama ini RBM selalu dikaitkan dengan isu difabilitas, padalah prinsip ini diterapkan di beragam isu.

“RBM itu bisa saja menjadi miliknya isu disabilitas, bisa menjadi miliknya perempuan, bisa menjadi miliknya isu anak, bisa menjadi miliknya isu kelompok minoritas, agama minoritas, ras minoritas, bisa masuk siapa saja,” jelasnya di sela-sela memfasilitasi pelatihan.

Lebih lanjut dia menyatakan berbicara tentang RBM, berarti berbicara tentang masyarakat di mana semua stakeholder tergerak untuk mencapai satu tujuan bersama. Di forum ini mitra diharapkan mampu mengidentifikasi stakeholdernya, mampu bekerja dengan masyarakatnya dan mereka mampu menggerakkan masyarakat itu agar menciptakan masyarakat inklusi.

Berbicara tentang masyarakat inklusi merupakan pembicaraan yang sangat luas, dan proses menujunya merupakan proses yang panjang. Adrian menambahkan bahwa RBM tidak seperti pandangan satu arah dimana difabel masuk panti kemudian keluar bisa berinteraksi dengan masyarakat. Namun lebih pada pandangan dua arah dimana masyarakat lebih banyak berperan.

Klasifikasi RBM yaitu kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, sosial dan pemberdayaan, dan di dalam masing-masing klasifikasi itu ada beberapa elemen. Dia menyatakan bahwa tidak ada satupun organisasi yang bisa menangani semua elemen tersebut. Oleh sebab itu perlu adanya jejaring,

“Dalam berjejaring mereka harus tahu siapa jaringannya, stakeholder mereka siapa saja? Siapa stakeholder utama mereka, siapa stakeholder yang bisa diajak beraliansi, dan siapa stakeholder yang mungkin menghambat pekerjaan mereka? Dan mungkin ketika mereka menghambat belum tentu mereka menjadi musuh. Bisa menjadi pendukung utama di kemudian hari asal tergarap dengan baik,” paparnya.

Memastikan Difabel Terakses Di Pembangunan

Barney McGlade, Regional CBR and Inclusive Development Adviser, yang juga memfasilitasi pelatihan tersebut menyatakan penerapan RBM untuk mewujudkan masyarakat inklusi. Prinsip ini berguna untuk memastikan difabel  bisa terakses di semua bidang baik pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan juga ada perubahan paradigma.

Di semua bidang tersebut menurut Barney menjadi penting adanya pelibatan difabel. Misalnya dalam bidang pendidikan adalah memastikan difabel anak bersekolah.

“Jadi daripada kita berbicara mengenai ratifikasi UNCRPD, lebih kita berbicara ini ada anak difabel dan harus sekolah. Dengan mereka bisa sekolah kita sudah melaksanakan UNCRPD dan berkontribusi dalam pembangunan,” paparnya.

Di bidang kesehatan, menurutnya partisipasi difabel sangat penting. Selama ini dokter jarang melibatkan difabel dalam layanan kesehatan baik dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada dengan terlebih dulu memberi informasi memadai.

Dalam penyediaan lapangan pekerjaan, dari pengamatannya selama berada di Filipina difabel sulit mengakses mikro-kredit. Mereka biasanya tidak mendapat kepercayaan dari pemberi pinjaman karena khawatir uang pinjaman tidak digunakan untuk usaha melainkan rehabilitasi medis. Dari sini pandangan difabel itu orang sakit masih tebal.

Pria yang berkantor di Filipina ini juga menyatakan bahwa perempuan difabel masih mengalami stigma ganda. Mereka masih rentan menjadi korban kekerasan dan sulit mendapatkan keadilan hukum.

Penerapan RBM di banyak bidang tersebut tidak bisa ditangani sendiri. Senada dengan Adrian, Barney juga menakankan pentingnya berjejaring untuk menerapkan prinsip ini. Dia menyatakan bahwa berjejaring itu bisa dengan banyak pihak baik pemerintah, DPO maupun NGO. Yang terpenting adalah difabel terinklusi dalam proses pembangunan.

Keberhasilan menginklusikan difabel dalam proses pembangunan juga menjadi kunci keberhasilan pembangunan itu sendiri, dan hal ini harus disadari bersama. Dia menyatakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan adalah pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). Target MDGs tidak akan tercapai jika difabel masih belum bisa terakses dalam pembangunan.

The subscriber's email address.