Lompat ke isi utama

Penerimaan Jadi Sikap Utama Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus

Solider.or.id, Surakarta-Sikap menerima dengan ikhlas  segala kelebihan dan kekurangan adalah tanggung jawab orangtua ABK autis. Hal tersebut  menjadi langkah awal untuk mendidik ABK menjadi  pribadi mandiri. Selain itu juga diperlukan sikap untuk realistis dengan semangat memperbaiki kekurangan dan menyelesaikan hambatan.

“Idealis dengan membandingkan atau bahkan menyamakan  dengan ABK autis lain yang dinilai berprestasi dengan sederetan  piala penghargaan, misalnya,  adalah kontraproduktif karena yang didapatkan nantinya adalah bukannya maju melangkah namun sarat hal keputusasaan. Saya mempelajari bahwa nantinya saya akan mati lalu berpikir untuk mendidik kemandirian anak saya yang autis,terutama kemandirian yang mendasar  setidaknya dia bisa melakukan apa yang menjadi kebutuhannya. Lantas saya mengubah pandangan dari “Apa yang tidak bisa saya lakukan” menjadi “Apa yang bisa saya lakukan”,”papar Agnes Widha orangtua anak autis dan aktivis di depan 20 orangtua yang tergabung dalam Parent Support Group (PSG) Taman Pendidikan Prasekolah Alfirdaus, Jumat (19/9/2014).

Jika ABK autis mampu untuk mandiri maka hendaknya jangan terus digandeng, karena nantinya dia akan hidup bersosialisasi di masyarakat. “Semakin dini pembiasaan untuk mandiri akan semakin bagus seiring bertambahnya usia. Anak saya harus mampu bagaimana dia bertanggung jawab dengan dirinya di  rumah. Kemudian saat berkumpul dengan teman-temannya ada banyak hal yang harus dia pahami dan itu butuh peran besar orangtua ”jawab Agnes Widha menganggapi pertanyaan salah satu orangtua anak autis.  

Sementara itu Rizka Amalia, koordinator inklusi di Taman Pendidikan Prasekolah Al-Firdaus menjawab pertanyaan Solider terkait dengan akses ABK ke sekolahnya . Bahwa pada dasarnya semua anak mempunyai kesempatan bersekolah namun ada semacam assessment yang diajukan karena dari awal ditekankan jika si anak butuh terapi panjang dianjurkan untuk tidak bersekolah dulu  tetapi di terapi center. “Kami belum bisa menerima ABK berkursi roda karena gedung  sekolah belum akses. Itu yang kami perlihatkan kepada calon siswa dan orangtuanya. Namun, saat ini ada  satu siswa cerebral palsy. Ada 14 siswa ABK yang masing-masing mempunyai guru pendamping, sedangkan beberapa ABK lainnya yang tidak memiliki guru pendamping kami juga programkan penanganan dua kali seminggu. Sedangkan untuk PSG kami selenggarakan dua kali dalam setahun, ”jelas Rizka.

Senada dengan Rizka, Anna Wahyu Budiarti okupasi terapis  mengatakan bahwa tujuan acara adalah lebih pada peningakatan kapasitas orangtua untuk mengupdate hal-hal baru seputar pengetahuan anak-anak berkebutuhan khusus juga untuk berbagi pengalaman dan konsultasi.

Nurbaiti Lubis dan suaminya, orangtua dari Azzam (4) siswa TK A Alfirdaus  yang masih kesulitan dalam artikulasi saat berbicara menyatakan perkembangan siginifikan anaknya. “Azzam setiap hari Jumat mengikuti terapi juga di sekolah ini,”pungkas ibu rumah tangga berputra empat itu. 

 

The subscriber's email address.