Lompat ke isi utama

Masyarakat Inklusi Bukan tentang Difabilitas Saja

Solider.or.id, Surakarta-Christian Blind Mission (CBM) menyelenggarakan pelatihan bersama ketiga rekanan yakni Pusat Pelatihan dan Rehabilitasi Bersumberdaya  Masyarakat (PPRBM) Solo, Pusat Rehabilitasi YAKKUM dan Yayasan Bhakti Luhur, Malang. Acara pelatihan yang diikuti 36 peserta  berlangsung selama 3 hari (15-17/9/2014) di Hotel Azisa  Solo difasilitatori oleh Barney McGlade, CBM –SEAPRO, Regional Adviser on CBR and Inclusive Development, Adrian Brahma, Inclusive Development Officer CBM Indonesia, dan Nurul Saadah Andriani, direktur SAPDA Yogyakarta.

Rofik, salah seorang peserta dari PPRBM Solo menyampaikan pendapatnya tentang pelatihan ini. “PPRBM pada prinsipnya sudah menjalankan RBM, tapi di pelatihan ini benar-benar kami mendapatkan sesuatu yang baru dengan fasilitator yang baru dan metode baru pula,”jelasnya. Di kesempatan yang sama,  Muhammad Isnaini  peserta tuli saat ditanya Solider mengatakan bahwa selama ini dia tidak mengetahui jika ada sanggar inklusi. “Saya baru tahu jika ada sanggar inklusi dan sepertinya selama ini tuli belum dilibatkan di dalamnya. Semoga ke depan kami bisa terlibat, ”jawab Muhammad Isnaini.

Adrian Brahma, fasilitator yang ditemui Solider menjelaskan berbagai hal tentang pelatihan bahwa  konsep workshop RBM  bergerak di  isu inclusive development .“Dan kalau kita berbicara RBM sebenarnya melibatkan segala macam stakeholder di masyarakat. Mungkin selama ini dikenalnya RBM  itu hanya isu difabel, tetapi ketika kita bicara RBM  sebenarnya bisa multiisu. Isu anakpun juga bisa dibawa ke RBM.  Mengapa terjadi demikian, karena selama ini konteks RBM  dimengerti lebih pada rehabilitasi medis. Dalam matrik RBM  ada kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, sosial dan pemberdayaan. Kesehatan kita berbicara tentang promosi, prevensi, perawata. Di pendidikan kita bicara pendidikan usia dini, dasar, nonformal dan sebagainya,”tutur Adrian.

Aksesibilitas untuk Semua

Saat ditanya mengapa CBM mengangkat isu difabilitas untuk pembangunan masyarakat inklusi, Adrian menjawab,”Kenapa kita berbicara difabilitas? Itu karena anak bisa masuk dengan anak dengan difabilitas, perempuan dengan difabilitas.  Strategi untuk masyarakat inklusi, bukan hanya berbicara tentang difabilitas doang, itu domain setiap orang dan di dalam masyarakat inklusi ada yang namanya penguatan ataupun aksesibilitas. Aksesibilitas itu kan kemudahan. Kemudahan bagi semua komponen untuk mengakses. Ketika bicara kemudahan, bisa miliknya difabilitas, miliknya isu perempuan, bisa miliknya isu anak, atau kelompok minoritas.”

Di ujung wawancara Adrian menyampaikan bahwa acara pelatihan bukan sebagai ajang menggurui, namun saling bertukar pengalaman dari para partner yang diundang. “Sharing-nya sangat luar bisa, pengalaman mereka bisa memperkaya. Saya sama Barney lebih memfasilitasi penguatan kapasitas. Bukan berarti kami lebih pintar dari mereka, tidak. Fasilitator itu kan hanya memfasilitasi, bukan menggurui. Proses pembelajaran itu berlangsung antara kedua belah pihak,”pungkas Adrian.

The subscriber's email address.