Lompat ke isi utama
Kamar difabel di Rusunawa Malang

Jatah Kamar Difabel Tak Tepat Sasaran, UPT Rusunawa Kota Malang Akan Evaluasi

Solider.or.id, Malang - Dinas Pekerjaan Umum Kota Melang, melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rusunawa setahun ke depan akan melakukan evaluasi terhadap para penghuni Rusunawa Buring 1 Kota Malang. Evaluasi itu dilakukan pasca ditemukannya fakta bahwa Rusunawa yang seharusnya ditempati oleh warga miskin dan difabel, ternyata dihuni oleh warga yang memiliki kemampuan ekonomi terbilang cukup.

Sesuai pantauan solider.or.id, Rusunawa Buring 1 mulai ditempati penghuni sejak 1 September lalu. Namun, empat kamar yang dikhususkan bagi difabel baru ditempati dua kamar saja sementara yang dua tersisa masih belum ditempati. Salah seorang petugas lapangan yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan dua kamar yang masih kosong sebetulnya sudah dibooking oleh difabel. "Karena belum tanda tangan kontrak, jadi ruangan kosong," ungkapnya saat ditemui di Rusunawa Buring 1.

Sementara itu, sebuah keluarga yang tinggal di kamar khusus difabel ternyata bukanlah seorang difabel. Setelah digali informasi lebih dalam, ternyata keluarga itu bisa menempati kamar khusus difabel karena salah satu keluarganya adalah seorang difabel yang masih berusia belasan tahun.

Saat didatangi ke lokasi, difabel yang bersangkutan tidak ada. Ida, difabel yang masih remaja itu sehari-harinya justru berada di rumah ibu angkatnya. "Karena tempat mengajinya jauh dari sini, jadi dia memilih berada di sana," ungkap Aria Pradana, salah seorang keluarga dari difabel itu yang kini menempati kamar khusus difabel. Pun begitu juga satu orang difabel yang berada di kamar sebelah tidak ada di lokasi. Keterangan yang didapat, yang bersangkutan sedang bekerja.

 

Difabel yang Jadi Kepala Keluarga

Hary Prasetyo selaku Kepala UPT Rusunawa Kota Malang mengatakan kalau kamar khusus difabel seharusnya ditempati oleh difabel yang menjadi kepala keluarga. Ketika dikonfirmasi terkait temuan di lapangan, Hary Prasetyo tak dapat menghindari fakta itu. "Tata cara sudah ada sejak 2011, itu sebelum saya datang. Seharusnya kepala keluarga yang difabel," ungkap Hary saat di temui di kantornya pasca penandatangann kontrak dengan penghuni Rusunawa pada Senin (15/9). Sanksi administrasi hingga sanksi dikeluarkan dari Rusunawa pun sudah siap menanti jika terjadi pelanggaran terkait penempatan Rusunawa Buring 1 Kota Malang.

Sejak diangkat menjadi Kepala UPT Rusunawa Mei lalu, Hary sudah menemui 400-an kepala keluarga yang sudah siap menempati kamar. Dengan kondisi SDM yang hanya tiga orang, Hary mengakui perlu waktu untuk melakukan evaluasi agar masyarakat yang berhak betul-betul bisa menempati.

Saat disinggung kemungkinan ditambahnya kamar khusus difabel, Hary tak bisa memastikan dalam jawabannya. Dua kamar yang dibangun merupakan instruksi dari pemerintah pusat, sehingga UPT Rusunawa Kota Malang tidak bisa begitu saja jika berkeinginan menambah ruangan bagi difabel. Padahal, ada beberapa difabel yang ingin menempati Rusunawa. "Kemarin ada tunanetra yang daftar, tapi karena kamar sudah penuh, jadi tunanetra tersebut tidak bisa menempati kamar," kata Hary.

Di Rusunawa Buring 1 Malang itu terdapat 96 kamar setiap blok gedung. Dari 96 kamar itu, hanya ada dua kamar saja yang dikhususkan bagi difabel. Di Rusunawa Buring 1 terdapat dua blok gedung sehingga ada empat kamat khusus bagi difabel. Para difabel yang tinggal di situ datang dari rekomendasi Dinas Sosial Kota Malang.

Pantauan kontributor media ini, ruangan yang disediakan khusus difabel cukup akses. Terdapat ramp dan WC duduk di kamar mandi dengan besi sebagai pegangan bagi pengguna kursi roda. Sebulannya, penghuni difabel yang berada di lantai dasar membayat uang sewa sebesar Rp. 75 ribu.

 

The subscriber's email address.