Lompat ke isi utama
Organisasi Difabel yang mengusulkan sekretariat bersama

Organisasi Difabel Solo Usulkan Sekretariat Bersama

Solider.or.id, Surakarta- Organisasi difabel seperti Indonesia Difable Care Community (IDCC), Gerakan Kesejahteraan untuk Tuli Indonesia (Gerkatin)Solo, Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) Solo, MPATI Solo Social Skill Club, Gerakan Peduli Indonesia Inklusi (GAPAI) dan beberapa organisasi difabel lainnya memunculkan ide untuk membentuk Sekretariat Bersama (Sekber) dalam sebuah ruang representatif.

Usulan yang cukup diakomodasi oleh FX. Hadi Rudyatmo walikota Solo  dalam sebuah pembicaran tidak resmi, diakui oleh Joko Sumpeno ketua IDCC Solo salah seorang inisiator pembentukan Sekber. “Apresiasi walikota dalam bentuk anjuran untuk menyampaikan surat resmi kepada beliau yang saat ini disposisi ada pada kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA),”tutur Joko Sumpeno pada pertemuan pertama antara beberapa komunitas difabel dan para Satuan Kerja Perangat Daerah (SKPD) terkait seperti DPPKA, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dikbudpar), dan Inspektorat Kota Surakarta di kantor DPPKA komplek Balaikota Solo, Selasa (9/9).

Dalam pembicaraan awal, komunitas difabel yang notabene adalah perkumpulan nirlaba yang beraktivitas secara sosial mengemukakan bahwa selama ini mereka bergerak sendiri di tempat masing-masing. Agnes Widha MPATI Solo SSC menyampaikan bahwa komunitasnya berbasis pemberdayaan  keluarga dan kendalanya adalah komunikasi karena jika hendak berjejaring maka bila ada sekretariat bersama akan lebih solid dan kegiatan akan lebih maksimal. Anis Diah Ayu Masita dari YCHI telah merintis perpustakaan untuk difabel berupa buku referensi yang dibutuhkan oleh difabel dan orangtua difabel. Bagi Anis, jika ada sekretariat bersama maka akan bisa memaksimalkan fungsi perpustakaan, juga akan memudahkan sharing dengan orangtua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) baru. “Karena kami juga menyediakan konseling gratis bagi orangtua dari ABK,”tutur Anis.

 Joko Sumpeno memberikan pandangan bahwa tempat yang menjadi idaman cukup representatif tersebut berada di kawasan Sriwedari. “Selain mudah diakses, Sriwedari juga dilalui transportasi umum berupa Batik Solo Trans dan leluasa untuk motor roda tiga. Namun untuk menentukan di tempat mana yang pas untuk sekretariat bersama tersebut, kami belum bisa memastikan,”papar Joko Sumpeno.

Tinjau Sriwedari Solo

Mendengar aspirasi dari beberapa komunitas difabel yang mewakili, Moeh. Yani yang mewakili DPPKA menyarankan perwakilan difabel untuk berkonsultasi dengan Diah yang mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yakni dinas yang bertanggungjawab atas kawasan Sriwedari.

“Kami atas nama pemerintah  kota Solo sangat respek dengan keinginan pengadaan Sekber difabel. Namun, semua hal sudah semestinya sesuai aturan yang berlaku terkait Undang-Undang yakni UU Nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara dan daerah yang juga ada Perwali-nya,” tutur Moeh. Yani.

Lilik, staf Dinas Inspektorat Kota Surakarta kemudian menjelaskan berbagai bentuk perjanjian dengan pemerintah kota seperti sewa, pinjam pakai atau kerja sama pemanfaatan atau hak guna serah/Build Own Operate (BOT) dan bangun guna serah/Build Transfer Operate( BTO).

Dalam pembicaraan selanjutnya disepakati bahwa perwakilan komunitas difabel akan meninjau lokasi Sriwedari terlebih dahulu sebelum mengajukan proposal dengan maping dan kriteria yang lebih jelas. “Di kawasan Taman Sriwedari saat ini ada beberapa tempat yang bisa dimanfaatkan antara lain bekas gedung Solo Theatre dan beberapa kios di dekat Joglo Sriwedari,”jelas Diah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.   

The subscriber's email address.