Lompat ke isi utama

Diskriminatif, Lion Air Didenda Akibat Perlakuan Diskriminatif kepada Difabel

Solider.or.id, Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memberikan hukuman administratif kepada maskapai penerbangan Lion Air berupa tebusan dengan jumlah Rp. 50 juta. Putusan itu dikeluarkan atas gugatan yang dilayangkan oleh Ridwan Sumantri, difabel yang mendapat perlakuan diskriminatif saat melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Bali pada 11 April 2011 lalu.

Seperti dikutip detik.com, Ridwan menggugat Lion Air, PT. Angkasa Pura 2 dan Dinas Perhubungan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. PN Jakpus lantas menganggap Lion Air dan instansi pemerintah bersalah atas tindak diskriminasi yang lakukan kepada Ridwan.

Pada 7 April lalu, pihak Lion Air melakukan kasasi hukum. Melalui kuasa hukumnya, pihak Lion Air menjelaskan bahwa upaya mereka melakukan kasasi semata-mata untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum. "Kami tidak akan menghilangkan tanggungjawab kami," kata Haris selaku kuasa hukum Lion Air dalam pernyataannya di media. Namun, di tingkat banding, putusan ditingkatkan. Para tergugat harus membayar Tp. 50 juta ang sebelumnya hanya Rp. 25 juta  dan permohonan maaf lewat media massa.

Heppy Sebayang, kuasa hukum Ridwan Sumantri mengatakan upaya hukum yang ditempuh kliennya adalah upaya untuk membangun kesadaran bagi maskapai penerbangan dalam memberi pelayanan kepada difabel. "Kalau tujuaannya adalah materi, efeknya kan hanya kepada Ridwan. Namun, tujuan kami agar hak difabel yang lain bisa terpenuhi," tambah lawyer yang juga seorang difabel itu.

Heppy juga menyayangkan sikap maskapai yang masih melakukan kasasi hukum. Menurut Heppy, kritik yang diberikan kepada Lion Air justru untuk meningkatkan pelyanan yang ramah bagi penumpang difabel.

Ridwan menceritakan, ia dipaksa menandatangani surat pernyataan sakit. Jika ia tidak mengikuti permintaan Lion Air, ia akan diturunkan. "Saat itu saya dilema. Apakah turun atau membubuhkan tanda tangan. Namun akhirnya saya bubuhkan tanda tangan," kata Ridwan ketika diwawncarai oleh stasiun televisi swasta dalam sebuah segmen acara di pagi hari pada  (9/9).

Sampai penghujung acara itu, pihak terkait seperti Dishub dan PT. Angkasa Pura 2 tidak dapat dihubungi untuk mengklarifikasi persoalan yang ada.

 

 

The subscriber's email address.