Lompat ke isi utama

Sulit Berjalan dan Tanpa Bicara, Basuki Penuhi Tanggungjawab sebagai Kepala Keluarga

Setelah menikah denga istrinya Ratnawati Dwiningsih pada 2005 lalu, Wisono Basuki (52) dikaruniai dua orang anak Sandhya Putra Basuki yang duduk di kelas 3 SD dan Wanda Fitri Isabel yang duduk di kelas 2 SD. Sadar diri menjadi seorang kepala keluarga yang harus menfkahi istri dan anaknya-anaknya, sejak 2005 Basuki memiliki usaha menjual peralatan pijat dan dapur. Hingga kini, Wiisono Basuki masih menggeluti usahanya.

Dengan kondisi tidak lancar berbicara, namun mampu mendengar dan hanya berjalan dengan lututnya, sehari-hari Wisono Basuki menjual dagangannya dengan motor gede (moge) yang ia modifikasi di bengkel temannya. Saat kontributor melihat kondisi motornya, sebetulnya motor yang dimodifikasi adalah jenis Honda 70. Pria lulusan SD itu memang punya angan-angan memiliki motor Harley-Davidson sejak lama. Ia juga mengakui ingin menjadi anggota Harley-Davidson Indonesia. Namun, karena masih belum bisa mewujudkan mimpinya mengendarai Harley-Davidson, Honda 70 yang ia miliki dimodifikasi sedemikian rupa. Pada motor yang ia kendarai sehari-hari itu juga terdapat banyak stiker mulai dari tulisan Motor Penyandang Cacat (MPC), logo Pramuka hingga logo Harley-Davidson.

Saat pagi menjelang, sekitar pukul 6 pagi, Wisono Basuki sudah siap menjajakan dagangannya ke warga sekitar rumahnya. Begitu waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, ia segera berpindah ke depan Bakso Kota yang berlokasi di depan RS Lavalatte Malang. Di sana, ia akan menunggu pembeli datang membeli dagangannya. Jika ada pembeli yang datang, tanpa bicara, Basuki menunjuk nominal harga yang tertera pada barang dagangannya kepada para pembeli. Pembeli pun mengerti apa maksud Basuki. Sampai pukul 16.00, setelah itu ia pulang ke rumah yang biasanya baru sampai saat maghrib. Seperti itu gambaran aktivitas Basuki, anak Purnawirawan TNI-AD itu.

Wati, panggilan akrab istri Basuki menyadari penghasilan yang didapat suaminya memang tidak banyak. “Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja,” ungkapnya. Menyadari uang yang didapat dari suaminya belum cukup, Wati pernah mencoba menjadi buruh rumah tangga di tetangga sebelah rumahnya, namun kemudian Basuki melarang dengan alasan agar Wati tidak terlalu capek karena harus mengurus rumah, anak-anaknya dan Basuki sendiri. Wati pun mengikuti permintaan suaminya itu dengan tidak berat hati.

Menjadi buruh rumah tangga memang bukan hal baru bagi Wati. Perempuan asal Gondanglegi, Kabupaten Malang itu secara terbuka menceritakan pertemuan awalnya dengan Wisono Basuki adalah saat ia menjadi buruh rumah tangga di kediaman Basuki sendiri.

Saat itu, ayah dan ibu Basuki masih hidup. Lima bulan bekerja di rumah Basuki, Wati dipersunting Basuki dan mereka memulai membangun rumah tangga sejak 9 tahun yang lalu. “Saat pernikahan kami berlangsung, hanya ada ayah suami saya. Itu pun keadaannya sudah pikun karena faktor usia,” kenang Wati.

 

Satu-Satunya Anggota Pramuka Luar Biasa

Selain sibuk menjual dagangannya, Basuki terlihat aktif pada kegiatan-kegiatan Pramuka di Kota Malang. Ia adalah satu-satunya anggota Pramuka Luar Biasa yang aktif sejak masih duduk di Sekolah Dasar hingga saat ini. Jiwa patriotismenya memang tinggi. Bisa jadi karena ia merupakan anak Purnawirawan TNI-AD dan hidup dalam keluarga besar militer. Bahkan, kakak iparnya, pensiunan seorang Brigadir Jenderal.

Basuki, anak ketiga dari tiga bersaudara itu menyukai kegiatan Pramuka karena di sana banyak teman yang ia temui. Cerita awal bagaimana ia bisa memulai usaha berdagang peralatan dapur dan pijat pun diawali saat bertemu dengan teman Pramukanya. Hingga kini, pasokan bahan jualan basuki didapat dari teman Pramukanya itu.

Ketika solider.or.id memasuki kediamannya di Jl. JA Suprapto III/93, pernak-pernik Pramuka banyak menempel di tembok rumahnya. Tak kalah menarik dari tempelan-tempalan di motornya. Foto anak-anaknya yang mengenakan seragam Pramuka juga banyak. Basuki sendiri merupakan anggota Kwaran Blimbing. Setiap ada kegiatan Pramuka, Basuki selalu menyempatkan diri hadir di tengah-tengah anggota Pramuka yang lain.

Kini, Basuki banyak dikenal di kalangan Pramuka, TNI dan bahkan Kepolisian. Namun sayangnya, Basuki tidak memiliki SIM D seperti para difabel lainnya. Ia pernah mencoba mengurus SIM D, namun petugas yang mengurus berkesimpulan ia belum cakap untuk memiliki SIM D. Basuki sempat bersikeras mendapatkan SIM D, tapi tetap belum bisa ia dapatkan. Kemudian pihak berwenang memanggil istrinya dan memberi pengertian langsung kepadanya. Sejak saat itu, Basuki tidak pernah lagi berupaya memiliki SIM D.

 

Tetap Berjuang

Basuki tidak pernah berharap akan pindah dari pekerjaanya saat ini. “Selama usia masih diberi, akan tetap berjuang,” ungkapnya dengan aksen yang terbata-bata. Sang istri, Wati, juga tetap berada di sisi suaminya untuk memberi dukungan.

Anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar menjadi cambuk tersendiri bagi Basuki untuk terus berjuang mengantarkan buah hatinya ke pendidikan yang lebih baik. Untuk biaya sekolah anak-anaknya, keluarga Basuki dibantu oleh kakak-kakaknya.

Basuki tetap berjuang keras untuk menafkahi keluarganya dengan kondisi seadanya. Ia tak pantang menyerah dengan kondisi yang ia alami saat ini, justru ia ingin menunjukkan kepada banyak orang bahwa difabel seperti dia bisa mandiri tanpa harus diberi belas kasihan atau meminta-minta. Walaupun ia tahu kalau uang yang didapat belum sepenuhnya bisa menghidupi roda perekonomian keluarga. 

The subscriber's email address.