Lompat ke isi utama

Panduan Difabel Berhadapan dengan Hukum: Tindak Pidana Perampokan #korban #1

Pada prinsipnya, perampokan dan pencurian adalah dua perbuatan yang sama-sama mengambil barang milik orang lain, hanya saja dua perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara yang berbeda. Dalam KUHP, tidak dikenal istilah perampokan, yang ada hanyalah pencurian (biasa) dan pencurian dengan kekerasan. Pencurian dengan kekerasan lah yang disebut sebagai perbuatan perampokan.

Pencurian dengan kekerasan atau sering disebut sebagai perampokan diatur dalam pasal 365 ayat 1, 2, 3, dan 4 KUHP. Adapun isi dari ketentuan tersebut adalah :

Pasal 365 ayat 1 :

Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai, atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta (pelaku) lainnya, atau untuk menguasai barang yang dicuri.

Pasal 365 ayat 1 ini menjelaskan bahwa sebelum melakukan perbuatan pencurian, pelaku telah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk melakukan tindakan kekerasan kepada korban agar pencurian itu dengan mudah dilakukan.

Contoh pasal 365 ayat 1 :

Pencurian yang dilakukan dengan cara menyekap seseorang agar korban tidak bisa melawan lalu karena korban tidak mampu melawan maka pelaku akan dengan mudah mengambil barang-barang yang dibawa oleh korban, seperti dompet, gelang, kalung dan perhiasan lain yang melekat ditubuh korban

Pasal 365 ayat 2 :

Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun :

  1. Jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, di jalan umum atau dalam kereta api yang sedang berjalan
  2. Jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu
  3. Jika masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu
  4. Jika perbuatan mengakibatkan luka luka berat

Pasal 365 ayat 2 ini menjelaskan bahwa pencurian dilakukan di malam hari di dalam sebuah rumah atau tempat lainnya, yang pencurian itu dilakukan oleh seorang diri atau lebih dan untuk mempermudah pencurian itu dilakukan dengan cara merusak pintu rumah, memanjat rumah dan melukai pemilik rumah, lalu korban mengalami luka berat.

Menurut pasal 90 KUHP, luka berat adalah :

  1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan untuk sembuh sama sekali atau yang menimbulkan bahaya maut.
  2. Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian
  3. Kehilangan salah satu pancaindera
  4. Mencapat cacat berat
  5. Menderita sakit lumpuh
  6. Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih
  7. Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

Contoh pasal 365 ayat 2 ;

Pencurian yang dilakukan oleh satu atau dua orang pada jam 12 malam di suatu rumah milik orang lain, dan untuk masuk ke dalam rumah dilakukan dengan cara merusak pintu rumah, lalu biar pemilik rumah tidak teriak, pelaku menyekap dan melukai, menganiaya, memukul pemilik rumah serta orang orang yang ada di rumah tersebut.

Pasal 365 ayat 3 :

Jika perbuatan mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun

Pasak 365 ayat 3 ini menitik-beratkan soal akibat yang dialami korban, yakni jika korban pencurian sebagaimana pasal 365 ayat 1 dan 2 mengalami kematian maka ancaman hukumannyya menjadi lebih berat dari sembilan dan dua belas tahun menjadi lima belas tahun.

Pasal 365 ayat 4 :

Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu atau paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau  lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam pasal 365 ayat 1 dan 3.

Pasal 365 ayat 4 ini menjadi lebih berat ancaman hukumannya karena perbuatan pencurian itu dilakukan oleh dua orang atau lebih dan korbannya lebih dari satu orang, diantaranya ada korban yang luka berat dan ada juga yang mati. Dan pencurian itu juga dilakukan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 365 ayat 2 angka 1 dan 3. Orang yang melakukan perbuatan pencurian sebagaimana dimaksud dalam pasal 365 ayat 4 ini diancam dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Langkah-langkah yang harus dilakukan jika  difabel menjadi korban tindak pidana perampokan :

  1. Sesaat setelah perampokan terjadi, jangan pernah merapikan barang-barang yang sudah dirusak oleh perampok sampai pihak kepolisian datang untuk melakukan olah tempat kejadian perampokan tersebut
  2. Jika perampokan tersebut, mengakibatkan ada korban yang terluka, maka periksalah terlebih dahulu ke rumah sakit mengenai luka-luka yang dialami, agar hasil pemeriksaan tersebut berupa visum et repertum bisa dijadikan salah satu alat bukti
  3. Setelah melakukan pemeriksaan ke rumah sakit dan  difabel ada yang menjadi korban tindak pidana, maka mintalah pendampingan hukum ke lembaga bantuan hukum terdekat atau lembaga yang mau memberikan pendampingan secara sukarela atau meminta pendampingan kepada kantor pengacara. Beberapa langkah yang harus dilakukan jika meinginkan bantuan hukum :
  • Datanglah ke lembaga yang mau memberikan jasa bantuan hukum
  • Ceritakanlah apa yang difabel alami tanpa harus berbohong atau menutup-nutupi sesuatu
  • Mintalah pendapat hukum mengenai persoalan yang  alami
  • Sampaikanlah keinginan  difabel agar lembaga bantuan hukum atau kantor pengacara tersebut mau menjadi penasihat hukum bagi  difabel untuk mendampingi selama proses peradilan secara sukarela
  • Jika lembaga bantuan hukum tersebut bersedia menjadi penasihat hukum bagi  difabel, maka  difabel harus membaca surat kuasa yang dibuat oleh penasihat hukum dan harus menandatanganinya sebagai pemberi kuasa dan penasihat hukum sebagai penerima kuasa
  • Surat kuasa adalah surat yang isinya memuat identitas pemberi kuasa dan penasihat hukum sebagai penerima kuasa dan untuk hal apa saja pemberi kuasa memberikan kuasa kepada penasihat hukum tersebut serta tanggal dan tanda tangan antara pemberi kuasa dan penerima kuasa
  • Surat kuasa tersebut berakhir saat kuasa yang diberikan oleh pemberi kuasa sudah dijalankan oleh penerima kuasa atau surat kuasa tersebut bisa diakhiri dengan cara dicabut oleh pemberi kuasa dengan alasan tidak puas atau kecewa dengan kinerja penerima kuasa selaku penasihat hukum
  1. Jika  difabel merasa tidak membutuhkan pendampingan penasihat hukum, maka  difabel yang menjadi korban dapat menempuh upaya hukum pelaporan secara sendirian atau bisa didampingi oleh keluarga, saudara atau teman.
  2. Laporkan tentang apa yang yang dialami kepada kepolisian selaku penyelidik di unit sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) di kantor kepolisian sektor (POLSEK) atau kepolisian resor (POLRES) atau kepolisian daerah (POLDA) tempat peristiwa tersebut terjadi.
  3. Laporan tersebut bisa disampaikan secara lisan maupun tertulis oleh korban maupun oleh orang lain seperti saudara korban, keluarga korban atau teman korban.
  4. Pada saat  difabel sudah berada di Unit SPKT, sampaikanlah identitas  difabel sebagai pelapor dan sampaikanlah rangkaian peristiwa yang  ketahui saja seperti :
  • Kapan peristiwa yang dilaporkan tersebut terjadi
  • Di mana peristiwa yang dilaporkan tersebut terjadi
  • Siapa pelaku (terlapor) dalam peristiwa tersebut
  • Siapa saja orang-orang yang melihat peristiwa tersebut
  • Apa saja barang yang dirampok

Kalaupun  difabel yang tidak bisa melihat, tidak bisa menyampaikan siapa orang yang diduga melakukan tindak pidana tersebut, tidak menjadi persoalan. Karena tugas penyelidik lah yang harus mampu mencari tahu siapa pelakunya dalam peristiwa tersebut.

  1. Laporan dan Pengaduan adalah Hak dan kewajiban bagi setiap warga negara, jika kepolisian dalam hal ini penyelidik menolak laporan seseorang, maka tindakan penolakan tersebut dapat dilaporkan kepada Divisi Profesi dan Pengamanan POLRI di masing-masing Polres atau Polda, guna penyelidik yang melakukan penolakan laporan tersebut diberikan sanksi etik atau disiplin.
  2. Setelah menyampaikan semua tentang peristiwa yang dialami dalam laporan, maka karena tugas dan kewajibannya penyelidik menerima laporan dan memberikan surat tanda penerimaan laporan (STPL) atau surat tanda bukti lapor (STBL) kepada pelapor.
  3. Setelah penyelidik memuat laporan  difabel dalam bentuk surat (STPL atau STBL), maka bacalah kembali isi laporan tersebut atau minta dibacakan mengenai apa yang tertuang dalam surat tersebut, setelah dibaca dan dianggap sesuai dengan apa yang telah  difabel sampaikan maka tandatanganilah surat tersebut (STPL atau STBL) dan setelah ditandatangani maka korban/pelapor berhak menerima surat tersebut (STPL atau STBL) sebagai bukti bahwa  difabel telah melaporkan secara resmi kepada kepolisian
  4. Setelah mendapatkan STPL atau STBL, maka pelapor atau korban akan dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyelidik pada hari saat pelaporan dilakukan atau hari berikutnya.
  5. Pada saat dimintai keterangan, tunjuklah seseorang untuk menjadi penterjemah bagi  yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, tidak bisa menulis agar membantu  dalam menyampaikan keterangan.
  6. Pada saat dimintai keterangan (diperiksa), sampaikanlah keterangan tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami mengenai peristiwa yang dilaporkan sebelumnya.  tidak perlu menyampaikan keterangan yang  sendiri ragu atas keterangan yang mau disampaikan tersebut dan tidak perlu menyampaikan keterangan yang mengada-ada.
  7. Pada saat dimintai keterangan (diperiksa), perhatikanlah dengan seksama pertanyaan dari penyelidik dan jawablah pertanyaan tersebut apa adanya sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Jika tidak paham terhadap pertanyaan penyelidik, maka mintalah penyelidik untuk menyampaikan kembali pertanyaannya dengan bahasa yang mudah dimengerti
  8. Pada saat dimintai keterangan (diperiksa), serahkanlah beberapa barang bukti yang dimiliki korban, pelapor atau saksi kepada penyelidik dan mintalah berita acara penyerahan tersebut sebagai bukti bahwa barang bukti sudah dalam penguasaan aparat penegak hukum.

Catatan : barang bukti adalah barang yang dijadikan alat untuk melakukan kejahatan, atau barang yang didapatkan dari hasil kejahatan

  1. Keterangan yang disampaikan seorang saksi akan dimuat dalam berita acara pemeriksaan yang apabila pemeriksaan terhadap saksi tersebut telah dianggap selesai, penyelidik harus meminta kepada saksi agar memeriksa kembali antara keterangan yang disampaikan dengan keterangan yang telah dimuat dalam berita acara pemeriksaan tersebut, jika keterangan yang disampaikan saksi dengan keterangan yang termuat dalam berita acara pemeriksaan dianggap sesuai, maka tandatanganilah berita acara pemeriksaan tersebut.

Catatan :

Cukup sering penyelidik memasukkan keterangan palsu atau memalsukan keterangan, oleh karenanya saksi harus juga aktif memeriksa berita acara pemeriksaan tersebut sebelum ditandatangani.

  1. Setelah menyampaikan keterangan sebagai korban, pelapor yang menjadi saksi. Maka penyelidik akan meminta keterangan kepada saksi lainnya guna menemukan 2 alat bukti yang sah sebagai dasar ditetapkannya seseorang sebagai tersangka
  2. Setelah korban melapor, lalu menyampaikan keterangan kepada penyelidik/penyidik, penyelidik/penyidik akan mencari alat bukti lain yang sah dan melimpahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut umum agar bisa diproses di pengadilan setempat. Oleh karenanya selama proses penyelidikan-penyidikan-pelimpahan ke jaksa penuntut umum-pelimpahan ke pengadilan negeri setempat, korban atau pelapor atau saksi berhak mengajukan permohonan ke penyelidik atau penyidik, mengenai pemberitahuan dan perkembangan hasil penyidikan atau yang sering disebut permohonan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP). Permohonan SP2HP ini harus diajukan oleh korban atau saksi agar mengetahui sejauh mana proses hukum yang telah dilakukan oleh penyelidik atau penyidik.
  3. Pada saat berkas perkara yang dilaporkan sudah dilimpahkan ke pengadilan, maka pada saat sidang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, korban akan diperiksa terlebih dahulu sebagai saksi, maka saat sudah ada surat panggilan dari jaksa penuntut umum untuk bersaksi di persidangan, korban harus datang memenuhi panggilan tersebut.
  4. Setelah pemeriksaan selesai, korban bisa pulang kembali ke rumah.
  5. Setelah berkas perkara tersebut sudah selesai diperiksa oleh pengadilan secara keseluruhan, maka pengadilan akan memberikan putusan.
  6. Setelah putusan dibacakan, korban berhak mengajukan kepada ketua pengadilan negeri untuk mendapatkan salinan putusan tersebut.

Oleh: Sarli Zulhendra, SH

The subscriber's email address.