Lompat ke isi utama

Panduan Difabel Berhadapan dengan Hukum: Tindak Pidana Pemerasan #korban #1

Tindak pidana pemerasan ini diatur dalam pasal 368 dan 369 KUHP, tindak pidana pemerasan ini sangat mirip dengan dengan pencurian dengan kekerasan atau biasa disebut perampokan seperti diatur dalam pasal 365 KUHP. Bedanya antara perampokan dengan pemerasan adalah bahwa dalam hal perampokan, si pelaku sendiri mengambil barang yang dicuri, sedangkan dalam hal pemerasan, si korban setelah dipaksa dengan kekerasan, menyerahkan barangnya kepada si pemeras.

Pasal 368 ayat 1 :

Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 368 ayat 2 :

Ketentuan pasal 365 ayat kedua, ketiga dan keempat berlaku bagi kejahatan ini.

Pasal 369 ayat 1 :

Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan ancaman pencemaran, baik dengan lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia, memaksa seseorang supaya memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang itu atau orang lain atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 369 ayat 2 :

Kejahatan ini tidak dituntut  kecuali atas pengaduan orang yang terkena kejahatan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan jika  difabel menjadi korban tindak pidana pemerasan :

  1. jika pemerasan tersebut dilakukan dengan kekerasan dan korban tidak hanya kehilangan barang-barang berharganya tapi juga mengalami luka-luka akibat dari kekerasan tersebut maka periksalah terlebih dahulu ke rumah sakit mengenai luka-luka yang diderita tersebut agar hasil dari pemeriksaan bisa dijadikan sebagai salah satu alat bukti berupa visum et repertum pada saat penanganan perkaranya nanti
  2. Ketika  difabel ada yang menjadi korban tindak pidana pemerasan, maka mintalah pendampingan hukum ke lembaga bantuan hukum terdekat atau lembaga yang mau memberikan pendampingan secara sukarela atau meminta pendampingan kepada kantor pengacara. Beberapa langkah yang harus dilakukan jika meinginkan bantuan hukum :
  • Datanglah ke lembaga yang mau memberikan jasa bantuan hukum
  • Ceritakanlah apa yang  difabel alami tanpa harus berbohong atau menutup-nutupi sesuatu
  • Mintalah pendapat hukum mengenai persoalan yang  alami
  • Sampaikanlah keinginan  difabel agar lembaga bantuan hukum atau kantor pengacara tersebut mau menjadi penasihat hukum bagi  difabel untuk mendampingi selama proses peradilan secara sukarela
  • Jika lembaga bantuan hukum tersebut bersedia menjadi penasihat hukum bagi  difabel, maka  difabel harus membaca surat kuasa yang dibuat oleh penasihat hukum dan harus menandatanganinya sebagai pemberi kuasa dan penasihat hukum sebagai penerima kuasa
  • Surat kuasa adalah surat yang isinya memuat identitas pemberi kuasa dan penasihat hukum sebagai penerima kuasa dan untuk hal apa saja pemberi kuasa memberikan kuasa kepada penasihat hukum tersebut serta tanggal dan tanda tangan antara pemberi kuasa dan penerima kuasa
  • Surat kuasa tersebut berakhir saat kuasa yang diberikan oleh pemberi kuasa sudah dijalankan oleh penerima kuasa atau surat kuasa tersebut bisa diakhiri dengan cara dicabut oleh pemberi kuasa dengan alasan tidak puas atau kecewa dengan kinerja penerima kuasa selaku penasihat hukum
  1. Jika  difabel merasa tidak membutuhkan pendampingan penasihat hukum, maka  difabel yang menjadi korban dapat menempuh upaya hukum pelaporan secara sendirian atau bisa didampingi oleh keluarga, saudara atau teman.
  2. Laporkan tentang apa yang yang dialami kepada kepolisian selaku penyelidik di unit sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) di kantor kepolisian sektor (POLSEK) atau kepolisian resor (POLRES) atau kepolisian daerah (POLDA) tempat peristiwa tersebut terjadi.
  3. Laporan tersebut bisa disampaikan secara lisan maupun tertulis oleh korban maupun oleh orang lain seperti saudara korban, keluarga korban atau teman korban.
  4. Pada saat  difabel sudah berada di Unit SPKT, sampaikanlah identitas  difabel sebagai pelapor dan sampaikanlah rangkaian peristiwa yang  ketahui saja seperti :
  • Kapan peristiwa yang dilaporkan tersebut terjadi
  • Di mana peristiwa yang dilaporkan tersebut terjadi
  • Siapa pelaku (terlapor) dalam peristiwa tersebut
  • Siapa saja orang-orang yang melihat peristiwa tersebut
  • apa saja barang yang berhasil dirampas

Kalaupun  difabel yang tidak bisa melihat, tidak bisa menyampaikan siapa orang yang diduga melakukan tindak pidana tersebut, tidak menjadi persoalan. Karena tugas penyelidik lah yang harus mampu mencari tahu siapa pelakunya dalam peristiwa tersebut.

  1. Laporan dan Pengaduan adalah Hak dan kewajiban bagi setiap warga negara, jika kepolisian dalam hal ini penyelidik menolak laporan seseorang, maka tindakan penolakan tersebut dapat dilaporkan kepada Divisi Profesi dan Pengamanan POLRI di masing-masing Polres atau Polda, guna penyelidik yang melakukan penolakan laporan tersebut diberikan sanksi etik atau disiplin.
  2. Setelah menyampaikan semua tentang peristiwa yang dialami dalam laporan, maka karena tugas dan kewajibannya penyelidik menerima laporan dan memberikan surat tanda penerimaan laporan (STPL) atau surat tanda bukti lapor (STBL) kepada pelapor.
  3. Setelah penyelidik memuat laporan  difabel dalam bentuk surat (STPL atau STBL), maka bacalah kembali isi laporan tersebut atau minta dibacakan mengenai apa yang tertuang dalam surat tersebut, setelah dibaca dan dianggap sesuai dengan apa yang telah  difabel sampaikan maka tandatanganilah surat tersebut (STPL atau STBL) dan setelah ditandatangani maka korban/pelapor berhak menerima surat tersebut (STPL atau STBL) sebagai bukti bahwa  difabel telah melaporkan secara resmi kepada kepolisian
  4. Setelah mendapatkan STPL atau STBL, maka pelapor atau korban akan dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyelidik pada hari saat pelaporan dilakukan atau hari berikutnya.
  5. Pada saat dimintai keterangan, tunjuklah seseorang untuk menjadi penterjemah bagi  yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, tidak bisa menulis agar membantu  dalam menyampaikan keterangan.
  6. Pada saat dimintai keterangan (diperiksa), sampaikanlah keterangan tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami mengenai peristiwa yang dilaporkan sebelumnya.  tidak perlu menyampaikan keterangan yang  sendiri ragu atas keterangan yang mau disampaikan tersebut dan tidak perlu menyampaikan keterangan yang mengada-ada.
  7. Pada saat dimintai keterangan (diperiksa), perhatikanlah dengan seksama pertanyaan dari penyelidik dan jawablah pertanyaan tersebut apa adanya sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Jika tidak paham terhadap pertanyaan penyelidik, maka mintalah penyelidik untuk menyampaikan kembali pertanyaannya dengan bahasa yang mudah dimengerti
  8. Pada saat dimintai keterangan (diperiksa), serahkanlah beberapa barang bukti yang dimiliki korban, pelapor atau saksi kepada penyelidik dan mintalah berita acara penyerahan tersebut sebagai bukti bahwa barang bukti sudah dalam penguasaan aparat penegak hukum.

Catatan : barang bukti adalah barang yang dijadikan alat untuk melakukan kejahatan, atau barang yang didapatkan dari hasil kejahatan

  1. Keterangan yang disampaikan seorang saksi akan dimuat dalam berita acara pemeriksaan yang apabila pemeriksaan terhadap saksi tersebut telah dianggap selesai, penyelidik harus meminta kepada saksi agar memeriksa kembali antara keterangan yang disampaikan dengan keterangan yang telah dimuat dalam berita acara pemeriksaan tersebut, jika keterangan yang disampaikan saksi dengan keterangan yang termuat dalam berita acara pemeriksaan dianggap sesuai, maka tandatanganilah berita acara pemeriksaan tersebut.

Catatan :

Cukup sering penyelidik memasukkan keterangan palsu atau memalsukan keterangan, oleh karenanya saksi harus juga aktif memeriksa berita acara pemeriksaan tersebut sebelum ditandatangani.

  1. Setelah menyampaikan keterangan sebagai korban, pelapor yang menjadi saksi. Maka penyelidik akan meminta keterangan kepada saksi lainnya guna menemukan 2 alat bukti yang sah sebagai dasar ditetapkannya seseorang sebagai tersangka
  2. Setelah korban melapor, lalu menyampaikan keterangan kepada penyelidik/penyidik, penyelidik/penyidik akan mencari alat bukti lain yang sah dan melimpahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut umum agar bisa diproses di pengadilan setempat. Oleh karenanya selama proses penyelidikan-penyidikan-pelimpahan ke jaksa penuntut umum-pelimpahan ke pengadilan negeri setempat, korban atau pelapor atau saksi berhak mengajukan permohonan ke penyelidik atau penyidik, mengenai pemberitahuan dan perkembangan hasil penyidikan atau yang sering disebut permohonan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP). Permohonan SP2HP ini harus diajukan oleh korban atau saksi agar mengetahui sejauh mana proses hukum yang telah dilakukan oleh penyelidik atau penyidik.
  3. Pada saat berkas perkara yang dilaporkan sudah dilimpahkan ke pengadilan, maka pada saat sidang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, korban akan diperiksa terlebih dahulu sebagai saksi, maka saat sudah ada surat panggilan dari jaksa penuntut umum untuk bersaksi di persidangan, korban harus datang memenuhi panggilan tersebut.
  4. Setelah pemeriksaan selesai, korban bisa pulang kembali ke rumah.
  5. Setelah berkas perkara tersebut sudah selesai diperiksa oleh pengadilan secara keseluruhan, maka pengadilan akan memberikan putusan.
  6. Setelah putusan dibacakan, korban berhak mengajukan kepada ketua pengadilan negeri untuk mendapatkan salinan putusan tersebut

Oleh: Sarli Zulhendra, SH

The subscriber's email address.