Lompat ke isi utama

Pelaku dan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga

Pelaku kekerasan adalah orang yang melakukan serangan, baik secara fisik maupun non fisik terhadap fisik maupun integritas mental psikologis orang lain. Sebaliknya, korban kekerasan adalah orang yang mengalami kesengsaraan atau penderitaan baik secara fisik, seksual, psikologis, karena adanya ancaman, pemaksaan, dan perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang oleh orang atau pihak lain.

Pada umumnya pelaku kekerasan adalah pihak yang lebih dominan. Dominasi tersebut bisa terkait dengan berbagai hal seperti kewenangan atau kekuasaan yang berkaitan dengan posisinya, dominasi karena memiliki uang lebih, karena lebih berpengaruh, dan sebagainya.  Dengan demikian, pelaku kekerasan sebenarnya tidak melulu laki-laki, tapi bisa siapa saja tergantung pada siapakah yang paling dominan. Sebagai contoh seorang ibu bisa saja menjadi pelaku KdRT pada anak-anaknya atau kepada orang yang bekerja di rumahnya. Seorang perempuan majikan bisa saja melakukan kekerasan terhadap pekerja laki-laki.

Dalam kasus KdRT, semua pihak yang ada dalam rumah tangga berpeluang menjadi pelaku maupun korban kekerasan. Meskipun korban dan pelaku KdRT bisa  siapa saja yang berada dalam lingkup rumah tangga, namun kebanyakan korban adalah perempuan (baca: istri). Hal tersebut dikarenakan:

  • Budaya yang tidak menempatkan laki-laki dan perempuan setara.

Masyarakat menempatkan laki-laki lebih superior. Hal tersebut ditunjukkan dengan misalnya, laki-laki lebih berhak menjadi pemimpin maka laki-laki yang lebih diutamakan dalam meraih pendidikan tinggi. Karena pendidikan laki-laki lebih tinggi, maka laki-laki juga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan lebih baik. Wilayah publik juga didominasi oleh laki-laki. Maka akses terhadap pengetahuan dan pengambilan keputusan lebih didominasi oleh laki-laki, bahkan pengambilan keputusan penting yang menyangkut perempuan juga lebih banyak dilakukan oleh laki-laki.  Kondisi ini menyebabkan laki-laki lebih rentan menjadi pelaku kekerasan.

  • Secara umum tingkat agresifitas laki-laki lebih tinggi dan secara fisik lebih kuat.

Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa agresifitas laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Pada saat emosi, laki-laki lebih banyak mengekspresikan secara fisik (non verbal) dibandingkan perempuan.

Tingkat agresifitas yang lebih tinggi dan kondisi fisik yang cenderung lebih kuat menjadi factor pendukung kerentanan laki-laki sebagai pelaku kekerasan.

  • Sejak kanak-kanak masyarakat mendidik anak laki-laki untuk lebih banyak menggunakan kekuatan fisiknya.

Kita lihat disekeliling kita, sejak kecil anak laki-laki lebih banyak diarahkan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan fisiknya, seperti bermain bola, bela diri, dan berbagai kegiatan lainnya. Hal ini baik, namun kadang yang terlupa adalah mengajarkan kepada laki-laki mengenai kelembutan, sikap menghargai sesama khususnya perempuan, dan bagaimana menjadi pemimpin yang mampu menjalankan tanggung jawabnya dan memenuhi hak-hak yang dipimpinnya.

  • Perempuan dibesarkan dan disosialisasikan untuk bersikap lemah lembut dan mengalah.

Sejak kecil perempuan ditanamkan sikap lemah lembut. Perempuan tidak hanya diharapkan untuk bersikap lembut, namun juga dianggap sebagai makluk yang lemah. Dalam suatu persoalan sering kali perempuan lah yang dituntut untuk mengalah. Seringkali dianggap salah apabila mencoba melawan kekerasan yang dialami. Tidak jarang diantara korban KdRT ada yang mengalami kekerasan berpuluh tahun dan tetap bertahan karena tidak mau dianggap durhaka pada suami, hingga disaat usia renta anak-anaknya lah yang mendorongnya untuk keluar dari kekerasan yang membelenggu ibunya.

  • Ketergantungan pada pelaku khususnya secara ekonomi, dan memikirkan nasib anak-anak seringkali memaksa perempuan bertahan dalam kekerasan yang dialami.

Beberapa kasus KdRT menunjukkan bahwa perempuan setelah menikah dan harus mengikuti suami namun ternyata suami mulai melarang untuk berhubungan dengan dunia luar termasuk dengan keluarga si perempuan. Suami tersebut telah membangun ketergantungan isteri hanya kepadanya. Dan pada saat kekerasan terjadi, dan terus menerus terjadi, si isteri kesulitan untuk keluar dari belenggu kekerasan, karena tidak mengenal pihak lain apalagi orang yang dipercaya untuk membantunya keluar dari persoalan.

Banyak perempuan pekerja yang kemudian melepas pekerjaannya setelah menikah. Secara ekonomi dirinya sangat tergantung kepada suami. Banyak perempuan (isteri) yang tidak mempunyai kuasa atas uang dan barang yang seharusnya menjadi milik bersama suami-isteri. Ketika KdRT menimpa banyak yang mencoba terus bertahan dalam kekerasan karena kondisi tersebut. Pertimbangan lain adalah nasib anak-anak yang tentu juga sangat tergantung pada pelaku.

Dengan demikian tidak bisa dipungkiri bahwa laki-lakilah yang paling rentan menjadi pelaku kekerasan, sebaliknya perempuan dan anak-anak lebih rentan menjadi korban kekerasan. Anak-anak yang dididik dalam lingkungan yang melakukan kekerasan, maka cenderung untuk mereproduksi kekerasan. Anak-anak ini bisa saja hanya melihat kekerasan yang terjadi di sekitarnya, atau bisa juga sebagai korban langsung atas kekerasan yang dilakukan oleh pelaku pada dirinya. Anak-anak yang awalnya menjadi korban, ketika dewasa cenderung akan menjadi pelaku kekerasan.

Anak-anak harus diselamatkan dari semua bentuk kekerasan, untuk membangun generasi sehat, damai tanpa kekerasan.

Oleh:

Vera Kartika Giantari, Aktivis Perempuan Asal Solo

The subscriber's email address.