Lompat ke isi utama

Panduan: Mengenal Ketidakadilan dan Kesetaraan Gender

Memahami Gender

Kita tahu bahwa manusia baik laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan. Namun demikian, sebenarnya laki-laki dan perempuan yang kita kenal juga dibentuk oleh masyarakat. Kita mengenal ciri-ciri perbedaan siapa dan bagaimana laki-laki dan perempuan.

Istilah gender muncul untuk membedakan laki-laki dan perempuan sebagai hasil karya cipta tuhan yang biasa disebut dengan kodrat (perbedaan jenis kelamin/seks), dengan laki-laki dan perempuan sebagai bentukan manusia. Jadi gender adalah pandangan manusia sebagai mahluk social, bukan perbedaan yang kodrati.

Perbedaan gender bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender dapat berubah kapan saja dan di mana saja. Hal yang mengubah pandangan mengenai gender tersebut di antaranya adalah budaya, adat istiadat, penafsiran agama dan sebagainya. Dengan kata lain gender bukan sesuau yang universal dan abadi.

Hal itu berbeda dengan dengan laki-laki dan perempuan secara kodrati. Sebagai contoh, saat bayi lahir kita bisa membedakan laki-laki dan perempuan dari ciri-ciri biologisnya, bahwa laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina. Hal ini berlaku di seluruh belahan dunia manapun, dan kapan pun. Hal ini bersifat kodrati

Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut merupakan hasil dari konstruksi social budaya di masyarakat. Perbedaan gender bersifat dinamis, artinya dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman, dan sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia masih sangat patriarkhal, yaitu pandangan yang mengedepankan laki-laki.

Perbedaan Gender

Perbedaan gender melahirkan perbedaan peran, fungsi, hak, tanggung jawab, bahkan ruang gerak/ruang aktifitas antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat. Perbedaan (baca: pembedaan) gender ini tidak akan menjadi persoalan bila tidak menimbulkan ketidakadilan. Kenyataannya, seringkali terjadi perlakuan yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan dalam hal hubungan, peran, fungsi, kedudukan, hak, dan tanggung jawabnya di masyarakat.

Sebagai contoh, masyarakat menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan kepala keluarga Sebaliknya, perempuan diposisikan sebagai pengatur rumah tangga dan pencari nafkah tambahan saja. Akibatnya, peluang untuk mendapatkan pendidikan dan kesempatan mendapatkan pekerjaan yang baik lebih terbuka untuk laki-laki.. Perempuan yang berjuang mendapatkan nafkah akhirnya lebih banyak mendapatkan kesempatan bekerja di sektor-sektor yang memberi upah minim.

Di sisi lain, penghargaan yang diberikan oleh masyarakat atas suatu pekerjaan atau aktifitas lebih dinilai dengan uang. Masyarakat lebih menghargai wilayah public ketimbang wilayah domestic. Akibatnya orang yang diberi tanggung jawab melakukan pekerjaan publik dianggap lebih bernilai dan lebih hebat.

Ketidakadilan Gender

Pembedaan gender bisa memunculkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender terjadi karena adanya hubungan dan peran gender yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh peluang, kesempatan, partisipasi, manfaat, dan control dalam melaksanakan dan menikmati hasil pembangunan baik di dalam maupun di luar rumah tangga.

Secara kodrati perempuan memiliki vagina, rahim, kemampuan untuk bisa hamil dan melahirkan. Namun karena alasan menjalankan fungsi kodrati tersebut maka perempuan seringkali di tempatkan di ruang domestic. Perempuan dibatasi peran dan posisinya di ruang public, karena ruang public dianggap bukan wilayah perempuan. Lebih jauh lagi pandangan dunia menempatkan perempuan sebagai makluk kedua setelah laki-laki yang tidak pantas memimpin, maka pendidikan dan kesempatan kerja akan mengutamakan laki-laki. Kondisi ini meminggirkan peran perempuan dalam berbagai bidang.

Pandangan dunia juga menempatkan perempuan harus cantik, lembut, melayani, maka perempuan akhirnya banyak dijadikan obyek barang konsumsi agar bisa memenuhi tuntutan menjadi cantik.

Perempuan menjadi rentan mengalami berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti contoh diatas yaitu peminggiran peran perempuan, dan perempuan sebagai kelas kedua/subodinasi. Perempuan meskipun sebagai pencari nafkah utama tetap harus mengurus keluarga sehingga mengalami beban yang berlebih/ multi burden. Perempuan juga lebih rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan.

Mewujudkan Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender akan terwujud apabila ada perlakuan yang adil sehingga tercipta kondisi yang setara, seimbang dan sederajat bagi seluruh masyarakat baik laki-laki maupun perempuan dalam memperoleh kesempatan, hak, peran dan tanggung jawab di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara di segala bidang pembangunan.

Mewujudkan kesetaraan gender dapat dilakukan dengan menerima perbedaan kodrati individu laki-laki dan perempuan sebagai hikmah. Kondisi hidup laki-laki dan perempuan berbeda. Ada kebutuhan-kebutuhan khusus karena fungsi kodrati perempuan. Bicara gender seharusnya juga mempertimbangkan bahwa kondisi tiap individu laki-laki dan perempuan berbeda, ada anak-anak, lanjut usia, juga difabel. Semua memiliki kebutuhan yang berbeda. Untuk itu, mewujudkan kesetaraan gender juga harus dibarengi dengan kebijakan yang adil gender. Kebijakan yang adil bagi laki-laki dan perempuan termasuk untuk anak-anak, lanjut usia, dan difabel

 

 

Oleh:

Vera Kartika Giantari, Aktivis Perempuan Asal Solo

The subscriber's email address.