Lompat ke isi utama

Belenggu Kekerasan: Perempuan dan Rumah Tangga

Memahami Kekerasan terhadap Perempuan

Persoalan kekerasan terhadap perempuan (KtP) merupakan persoalan yang terjadi di hampir seluruh belahan dunia. Lalu, apa bedanya kekerasan terhadap perempuan dengan kekerasan lainnya?

Pada dasarnya kekerasan adalah serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang terhadap sesama manusia. Kekerasan terjadi karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang. Secara specific, kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan pada jenis kelamin perempuan yang terkait dengan anggapan yang bias gender. Bias gender yaitu anggapan yang memberikan peran dan posisi yang memihak pada salah satu jenis kelamin. Anggapan yang bias gender tersebut bisa menjadikan kegiatan, program pembangunan, bahkan kebijakan Negara merugikan jenis kelamin lainnya.

PBB menyebutkan, Kekerasan Terhadap Perempuan adalah:

Setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi’. (pasal 1 Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan).

Kekerasan terhadap Perempuan berbeda dengan kekerasan yang lain, karena KtP mempunyai ciri khusus yaitu:

  • Korban            nya perempuan, karena jenis kelaminnya perempuan. Jadi, kekerasan terjadi pada diri korban karena korban adalah perempuan.
  • Tindakannya adalah dengan sengaja menyakiti perempuan baik dari fisik, psikologis, seksual, maupun ekonomi.
  • Mengakibatkan penderitaan pada keseluruhan diri pribadi korban, meskipun yang diserang adalah fisik.

Memahami Kekerasan dalam Rumah Tangga

Kekerasan terhadap Perempuan tidak hanya terjadi di ruang public, namun juga di ruang domestic yang kita kenal dengan istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KdRT). Pasal 1 UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga menyebutkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah ‘Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga’.

Keluarga, yang seharusnya menjadi tempat terbaik, paling aman dan nyaman, ternyata seringkali menjadi ancaman. Berbagai bentuk kekerasan bisa terjadi dalam lingkup keluarga. Dalam pasal 2(1) UU No. 23 tahun 2004 menyebutkan bahwa, yang dimaksud dengan lingkup rumah tangga adalah :

  • Suami, isteri, dan anak
  • Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud diatas karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga, dan/atau;
  • Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut

Artinya, pihak-pihak tersebut diatas bisa menjadi korban maupun menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Namun demikian secara garis besar, pihak yang lebih dominan, yang merasa mempunyai dan/atau diberi kekuasaan lebih, akan rentan untuk menjadi pelaku kekerasan. Sebaliknya, pihak yang dianggap lemah atau merasa lemah lebih banyak menjadi korban.  Secara umum kita bisa melihat bahwa perempuan dan anak-anak lebih rentan menjadi korban. Strata social juga berpengaruh, misalnya pembantu rumah tangga lebih rentan menjadi korban. 

Faktor-faktor penyebab terjadinya KdRT antara lain:

  • Budaya yang mengedepankan laki-laki sehingga dianggap sebagai manusia unggul/superior, dan perempuan sebagai manusia inferior
  • Pemahaman bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan, atau anggapan bahwa perempuan sebagai milik yang bisa diperlakukan sesuai kemauan laki-laki.
  • Pelaku (dan bisa juga pelaku dan korban) adalah orang yang dididik dalam lingkungan dimana orang tua sebagai pelaku kekerasan atau korban kekerasan. Misalnya, bila sering melihat ayah yang suka memukul dan ibu yang sering dipukul maka anak akan meniru. Bisa meniru sebagai pelaku, atau sebaliknya ketika posisi gender nya sama dengan korban, maka akan meniru bahwa dipukul suami adalah hal biasa. 

Bisa jadi pelaku kekerasan tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan kekerasan pada isteri atau anaknya, karena merasa bahwa dirinya berkuasa atas isteri dan anaknya ditambah alasan untuk mendidik.

KdRT bisa dilakukan baik secara fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran rumah tangga. Kekerasan secara fisik misalnya memukul, menendang, atau cara lain yang bisa mengakibatkan rasa sakit atau luka. Kekerasan psikis adalah kekerasan yang mengakibatkan penderitaan psikis, ketakutan, tidak percaya diri/rendah diri, merasa tidak berdaya, dsb. Kekerasan seksual bisa diartikan pemaksaan hubungan seksual, baik yang dilakukan dengan orang dalam lingkup rumah tangga tersebut, maupun pemaksaan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga tersebut dengan orang lain untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu. Kekerasan yang lain adalah penelantaran ekonomi, yaitu tidak memberikan penghidupan atau pemeliharaan terhadap orang yang menjadi tanggung jawabnya, atau membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak sehingga korban berada dalam kendali orang tersebut.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dalam catatan tahunannya menyebutkan bahwa selama tahun 2013 terdokumentasi 263.285 kasus KdRT dengan berbagai sebab yang berujung pada perceraian. Data kasus tersebut diperoleh dari 359 Pengadilan Agama.

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Penghapusan KdRT membutuhkan peran serta semua pihak. Kebijakan yang komprehensif dalam  penghapusan KdRT diperlukan sebagai jaminan yang diberikan oleh negara untuk :

  • mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga,
  • menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga
  • melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga
  • memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera

 

Upaya pencegahan atas terjadinya KdRT bisa dilakukan, antara lain dengan cara :

  • Memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap setiap individu dalam lingkup rumah tangga.
  • Seluruh anggota keluarga memenuhi kewajiban dan terpenuhi seluruh hak-haknya.
  • Seluruh anggota keluarga memahami bahwa peran domestic, public, dan social dapat dilakukan oleh anggota keluarga baik laki-laki maupun perempuan.
  • Seluruh anggota keluarga bekerjasama dan saling mendukung dalam menjalankan peran-perannya.

Oleh:

Vera Kartika Giantari, Aktivis Perempuan Asal Solo

The subscriber's email address.