Lompat ke isi utama
SLB Cahaya Mentari

SLB Autis Cahaya Mentari Programkan Parenting dan Pelatihan Keterampilan

Solider.or.id, Sukoharjo- Sekolah Luar Biasa (SLB) Autis Cahaya Mentari berdiri sejak tahun 2011 lalu semula didirikan oleh Heny Wahyu Sri Hastuti (31) atas bentuk keprihatinannya terhadap seorang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tetangganya yang tak tersentuh pendidikan. Penduduk Tegalmulyo, Pabelan Kartasura yang merupakan kader Bina Keluarga Balita (BKB) di Posyandu dan lulusan Akademi Fisioterapi Poltekkes Surakarta ini awalnya juga menemukan kasus Balita penyandang Down Syndrome (DS) pada deteksi dini yang dilakukannya. Lalu Balita tersebut dengan suka rela diterapi olehnya sebelum sekolah benar-benar berdiri dan sampai sekarang menjadi salah satu siswa peserta didik. Berpengalaman menjadi terapis  dan mengajar di Salatiga serta sebuah sekolah autis di Solo Baru, Heny Wahyu mendirikan SLB Autis Cahaya Mentari dengan tenaga terapis sebanyak empat orang serta  dua belas siswa yang terbagi dalam tiga sesi belajar.

Belum Mendapat Fasilitas Dispora Setempat Tetapi Tersentuh oleh Lembaga RBM

SLB Autis Cahaya Mentari mempunyai program awal yakni  dengan mengumpulkan terlebih  dahulu para orangtua  untuk dididik bersama dalam program parenting. Program parenting berupa pelatihan keterampilan pembuatan manik-manik dan kain flannel.

Meski belum mendapat fasilitas dari Dinas Pendidikan dan Olah Raga (Dispora) setempat, namun SLB Autis Cahaya Mentari yang status gedungnya masih pinjam pakai telah mendapat respon yang baik oleh Rehabilitasi Berbasisi Masyarakat (RBM) Sehati Sukoharjo dengan diberikannya akses Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang dikelola oleh orangtua siswa. Selain itu bagi orangtua siswa hal yang mendapat porsi perhatian lebih besar adalah pola pengasuhan anak dengan menciptakan anak yang mandiri.

Sistem pembelajaran sekolah sekaligus terapi di SLB Autis Cahaya  Mentari adalah one by one. “Kami melakukan terapi juga mengajar akademik pada anak,” tutur  Heny Wahyu.  Sedangkan pembayaran uang sekolah bervariasi sesuai kemampuan orangtua siswa. Ada yang dikenai biaya mingguan, bulanan dan setiap kali kunjungan serta  ada yang digratiskan. Ada orangtua asuh serta donasi dari pihak luar sekolah.  “Saya ingin sekolah ini berdiri menjadi lembaga yang mandiri,”pungkas Heny Wahyu, ibu berputra dua ini.

The subscriber's email address.