Lompat ke isi utama
Difabel cerebral palsy

Mengetahui Kerentanan Difabel melalui Penelitian Etnografi

Solider.or.id,Sleman- Salah satu kegiatan lanjutan dari program sekolah penelitian difabilitas, yang diselenggarakan Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) dan The Asia Foundation (TAF), adalah live in. Bentuk dari kegiatan ini adalah peserta pelatihan diwajibkan tinggal bersama keluarga difabel selama sepuluh hari, adapun tujuannya adalah mengetahui kerentanan yang dialami oleh keluarga difabel tersebut. Kemudian lokasi yang dipilih adalah Kabupaten Sleman, karena permasalahan yang dihadapi keluarga difabel bervariasi, demikian seperti dijelaskan Muhamad Syafi’ie selaku penanggung jawab kegiatan pada Rabu (04/06/2014), kemudian  kegiatan live in akan berlangsung dari tanggal 4 sampai dengan 14 Juni 2014.

Sementara Aries (24), salah seorang peserta pelatihan mengatakan,” Live In akan membantu peneliti mengetahui kehidupan sebenarnya dari keluarga difabel, khususnya kerentanan yang dihadapi keluarga difabel tersebut”.

Aries sendiri  yang merupakan alumni Universitas Islam Negeri ( UIN) Sunan Kalijaga menambahkan bahwa, pengalamannya berhubungan dengan difabel masih kurang. Kemudian pada kegiatan live in dia mendapat lokasi dirumah keluarga Ertanto, seorang penyandang Cerebral Palsy (CP) yang sudah sekolah di sekolah dasar (SD) umum, tetapi sudah dua kali tidak naik kelas. Sementara orang tua tidak mempunyai pekerjaan tetap dan setiap hari ibunya harus mengantar dan menjemput ke sekolah.

Tanggapan keluarga difabel

Sementara Turwanto (47), mewakili orang tua keluarga difabel yang rumahnya digunakan untuk kegiatan  live in mengaku senang rumahnya gunakan untuk kegiatan seperti ini. Salah satu alasannya adalah dapat bertukar pikiran untuk mengurus anak difabel, apalagi kebetulan peserta pelatihan yang tinggal di rumah Turwanto juga seorang difabel.

Turwanto yang tinggal di Jolanan, Kalurahan Sindumartani, Kecamatan Sleman mengaku bahwa, selama ini warga di daerahnya masih sangat minim yang mau menerima keberadaan penyandang difabel seperti anaknya. Bahkan sepertinya sangat merendahkan dan sama sekali tidak memperhatikan penyandang difabel. Turwanto sendiri memiliki seorang anak yang juga penyandang CP dan sekolah di SD umum, tetapi gurunya juga tidak mau memberikan perhatian khusus,selain itu kondisi gedung sekolah juga tidak aksesibel, demikian imbuh Turwanto kepada solider.

The subscriber's email address.