Lompat ke isi utama

Kesejahteraan Atlet Difabel Jauh dari Harapan

Solider.or.id, Malang - Kesejahteraan atlet difabel dinilai masih jauh dari harapan. Jauhnya harapan kesejahteraan itu tak terlepas dari persepsi pemerintah yang menilai atlet difabel sebagai atlet yang fungsional. Hal itu diungkapkan oleh Kusminto Ketua National Paralympic Comittee (NPC) Kota Malang di kediamannya pada Kamis (5/6).

"KONI pusat hingga daerah masih melihat kami sebelah mata," ungkap Kusminto. Kusminto melanjutkan, para atlet difabel seharus diberi apresiasi serta penghargaan seperti atlet profesional pada umumnya. "Kami sudah lama suarakan ini, namun belum ada perubahan," jelas Kusminto yang sehai-hari bekerja sebagai penjahit juga.

Masih kuatnya stigma yang mengotakkan antara atlet difabel dan nondifabel, mengakibatkan tunjangan kesejahteraan kepada atlet difabel sangat jauh dari keinginan. Padahal, atlet difabel yang berjuang membawa nama Indonesia sering meraih prestasi di kancah dunia. Akhir 2013 lalu para kontingen atlet difabel Indonesia berhasil menadi juara umum di kejuaran ASEAN Games Paralympic 2013. Fakta itu menunjukkan kalau raihan prestasi atlet difabel melampaui raihan prestasi atlet non-difabel. Namun sayangnya, pencapaian itu masih belum bisa meyakinkan pemerintah kalau atlet difabel pantas mendapatkan hak seperti atlet profesional.

"Atlet difabel paling hanya mendapat 10 juta saja, sementara yang nondifabel bisa melebihi itu," tambah Kusminto sembari berharap pemerintah melalui KONI melakukan perubahan yang mendasar terkait keberadaan atlet difabel.

Sementara itu, atlet difabel bernama Ruli Alkahfi Mubarok juga mengakui kalau perhatian pemerintah terhadap keberadaan atlet difabel sangat minim. "Dari segi pembinaan dan kesejahteraan kurang," katanya saat diwawancarai solider.or.id. Tidak hanya sampai di situ, perbedaan pendapatan atlet difabel dengan nondifabel jika menjuarai suatu kompetisi juga berbeda jauh. Sesuai penuturan Ruli, perbedaan itu bisa sampai 90 persen.

Ruli sangat mengkhawatirkan kesejahteraan atlet difabel jika kondisi seperti itu tak ada perubahan ke depannya. Atlet difabel yang dinilai hanya fungsional, bukan sebagai atlet profesional, membuat mereka dipandang sebelah mata. Tak ada jaminan yang pasti untuk mereka jika terus berada di NPC. "Jangankan jaminan, untuk kesejahteraan saja kurang," ucap Ruli.

Di akhir kesempatan wawancara terhadap kedua narasumber, Kusminto berharap besar kepada pemerintah untuk membantu difabel dalam berwirausaha. Hal itu dinilai penting untuk mewujudkan kemandirian ekonomi para difabel. Sementara Ruli, berharap pemerintah kembali meninjau ulang kesejahteraan para atlet difabel yang sangat jauh dari harapan.

 

The subscriber's email address.