Lompat ke isi utama
Cucu Saidah dan Eko Riyadi memandu diskusi.

PUSHAM UII Evaluasi Naskah Buku Peradilan bagi Difabel

Solider.or.id, Sleman- Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII mengadakan workshop dan evaluasi naskah buku hak atas peradilan yang fair bagi penyadang disabilitas di Hotel Grand Quality pada Jumat (16/5/2014).  Acara ini merupakan tindak lanjut penelitian kerja sama dari Australian Indonesian Partnership in Justice (AIPJ) tentang difabel berhadapan dengan hukum serta pelatihan bagi hakim yang diselenggarakan akhir tahun lalu. Workshop ni merupakan rangkaian akhir penelitian yang bertujuan untuk membangun perspektif difabilitas hakim dalam peradilan yang fair.

Eko Riyadi, selaku Direktur PUSHAM UII mengatakan dalam kata sambutannya, bahwa acara evaluasi naskah buku ini adalah inisiasi dari hasil penelitian serta pelatihan terhadap hakim yang lebih dahulu dilakukan sehingga dibentuk sebuah modul yang nantinya akan digunakan sebagai alat pelatihan bagi aparat penegak hokum.

“Evaluasi ini bertujuan untuk menambal, menambahkan, serta meluruskan bagian bagian yang dirasa masih perlu perbaikan. Harapannya, agar buku ini benar benar bisa sesuai dengan kebutuhan para difabel. Namun, juga mampu memberikan pemahaman yang signifikan terhadap para aparat penegak hokum nanti yang akan menjadi target dari buku ini. Sehingga, cita-cita untuk memberikan peradilan yang fair mampu terwujud,” imbuh Eko.

Acara yang akan berlangsung selama dua hari ini, Jumat (16/5) dan Sabtu (17/5) ini terbagi atas 7 sesi yang membahas bagian demi bagian dari klasifikasi difabilitas serta penangannnya dalam mata hokum. Dihari pertama diskusi terfokus pada klasifikasi difabel psikososial dan difabel rungu. Dalam diskusi muncul banyak tanggapan, salah satunya meluruskan paradigma psikososial melalui tinjauan perspektif medis, psikologi, serta fakta lapangan langsung yang difasilitasi oleh tiga pembicara, dr. Prianto Djatmiko, SpKJ seorang dokter spesialis jiwa, Dra. Sepi Indianti, Psi selaku psikolog, serta Murhamid Karnaatmaja, selaku ketua Keluarga Sehat Jiwa Cianjur salah satu organisasi perkumpulan psikososial di Jawa Barat.

Klasifikasi yang Masih Rancu

Dari pembahasan tersebut, dalam naskah buku ini masih ada beberapa bagian kelompok psikososial yang terbalik balik dalam kategorisasi, misalkan kleptomania yang dimasukan dalam klasifikasi disabilitas, yang menurut beberapa pakar kleptomania bukan masuk dalam terminologi difabilitas. Diskusi memunculkan argumen mengenai pentingnya psikater untuk memberikan opini rekomendasi tentang kebutuhan serta kondisi difabel psikososial ketika berhadapan dengan hokum.

Selain psikososial, juga diskusi berlanjut pada difabel klasifikasi tuli. Pada klasifikasi ini masih banyak hal yang harus diperbaiki, karena masih banyaknya miskonsepsi tentang kebutuhan tuli. Mulai dari bahasa isyarat yang dipakai hingga keberadaan intrepeter sebagai hak dasar tuli (selain bahasa isyarat) agar mendapatkan informasi yang utuh ketika beradapan dengan hukum.

 

The subscriber's email address.