Lompat ke isi utama

Difabel Mental di Masyarakat

Masihkah anda berfikir bahwa “orang gila” adalah gelandangan yang tak perlu mendapatkan perhatian? Mirisnya, persoalan “orang gila” di Indonesia acap kali dijadikan kaum paling minoritas, dan tertindas. Padahal, dalam konsepsi disabilitas, “orang gila” yang kerap diasingkan, dibuang, bahkan dianiyaya ini merupakan salah satu jenis disabilitas yang harus diperjuangkan juga hak-hak nya.

Psikosis adalah salah satu masalah kejiawaan yang berat yang ditandai dengan ketidakmampuan berat dalam menilai kenyataan, orang dengan psikosis tidak bisa membedakan antara yang fantasi dengan realitas. Gangguan psikosis yang paling umum juga paling berat serta banyak penderitanya di Indonesia adalah Skizofrenia. Skizofrenia ini lah yang kerapkali disebut “orang gila” dalam masyarakat.

Tak banyak orang yang paham tentang disabilitas mental, khususnya Skizofrenia. Menurut kacamata medis, disabilitas mental merupakan suatu gejala pola prilaku atau psikologik yang secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan penderitaan(distress) serta kerusakan(imparment) dalam fungsi aktifitas psikososial.

Prianto Djatmiko salah satu dokter spesialis kejiawaan yang juga merupakan ketua perhimpunan dokter spesialis kedokteran jiwa Indonesia cabang DKI menjelaskan bahwa disabilitas mental mampu dijelaskan secara konsep operasional melalui terminology gangguan jiwa menurut paradigm medis. Prianto merasa perlu untuk meluruskan paham yang selama ini salah kaprah dimasyarakat.

Disabilitas mental menurut Prijanto merupakan keterbatasan kemampuan dalam hal ketidakmampuan memaksudkan suatu tujuan yang sadar, sedangkan tujuan yang sadar adalah tujuan yang berdasarkan kenyataan realitas, dalam hal ini para disabilitas mental seringkali mengarahkan maksudnya pada hal yang halusinasinya. Selain itu, disabilitas mental juga memiliki ketidakmampuan dalam mengarahkan serta mengendalaikan kemauan atau tujuan tindakannya, serta tidak memahami nilai dan resiko tindakannya.

Disabilitas mental dalam paradigm medis adalah gejala disfungsi symptom. Yang dalam hal ini, difabel mental syzrofenia dan bipolar kekurangan Dopamin dalam tubuhnya, sehingga halusinasi menjadi tidak ada bedanya dengan kenyataan. Pengertian medis ini lah yang tak banyak dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Persoalan kesalahan pemahaman soal difabel mental di masyarakat ini menyebabkan berbagai tindakan diskriminasi terhadap difabel mental. Nurhamid Karnaatmaja selaku ketua Keluarga Sehat Jiwa (KSJ) Cianjur mengatakan bahwa ditataran masyarakat para difabel mental memang masih diartikan sebagai orang gila. Tak heran, jika perlakuan masyarakat masih diskriminatif. Kekerasan kerap kali ditujukan pada difabel mental ini. Kekerasan bisa dalam bentuk fisik yaitu dipukuli, dipasung, dibuang dari satu daerah ke daerah lain, sedangkan kekerasan dalam bentuk psikis, dihina, diejek menjadi santapan sehari hari para penyadang difabel mental.

“Difabel mental di Indonesia seringkali menjadi korban ketidakadilan dan perlakuan yang semena-mena oleh masyarakat. Perlakuan yang salah disebabkan oleh pengertian yang salah, bahwa difabel mental yang mengalami gangguan jiwa adalah orang gila yang tak dapat disembuhkan. Tak heran, kekerasan dan penelantaran masih sering ditemukan di masyarakat,” papar Nurhamid yang juga seorang Bipolar.

Nurhamid juga menambahkan bahwa kerapkali para difabel mental ini merupakan sasaran kekerasan seksaul, kerapkali difabel mental menjadi korban perkosaan, korban pelecehan seksual, bahkan kekerasan seksual. Sayangnya, kekerasan seksual dan segala diskriminasi yang terjadi pada difabel mental ini tidak mampu diakomodir oleh aparat penegak hokum. Stigmatisasi difabel mental sebagai orang gila dianggap sebagai orang yang tak cakap hokum. Ketika tak cakap hokum ini dilekatkan pada mereka, maka kesaksian mereka diperadilan dianggap palsu. Selain itu, mereka juga tidak memiliki akses terhadap mekanisme pengaduan, para difabel mental tidak bisa mengadukan kekerasan yang menimpa dirinya. Sehingga, hak mereka sebagai warga Negara yang mestinya dilindungi oleh Negara juga di rampas.

“Difabel mental memang sering luput dari perhatian, padahal difabel mental ini komposisinya lumayan banyak di Indonesia. Total keseluruhan difabel mental, dalam hal ini syzrofenia dan bipolar saja prosentasenya 1% dari jumlah penduduk Negara Indonesia. Dan ini tersebar diseluruh daerah di Indonesia,” tutur Nurhamid.

“Masih banyak difabel mental yang tidak diperjuangkan, bahkan ditempatkan ditempat penampungan yang tidak manusiawi.”

Ketika berbicara tentang difabel mental, tak banyak yang mengetahui apa saja hak hak dasar difabel mental. Selain, hak sebagai warganegara sebagai hak dasar mereka sebagai warga Negara para difabel mental juga memiliki alat bantu sehingga membuatnya bisa setara dengan orang pada umumnya. Salah satunya adalah obat. Orang dengan difabilitas mental, misalkan saja bipolar seperti Nurhamid harus ketergantungan dengan obat agar bisa menstabilkan dirinya.

“Obat bagi difabel mental sama urgennya seperti tongkat bagi para difabel netra, ataupun kursi roda bagi difabel daksa. Karena ketika kita kehilangan alat bantu tersebut, kita tidak bisa berbuat apa-apa, atau kesulitan dalam mobilitas. Sama seperti itu, urgensi obat merupakan hak dasar para difabel mental,” Imbuh Nurhamid.

Kebutuhan obat bagi para difabel mental ini pun beragam, setiap jenis difabel mental memiliki kebutuhan obat yang berbeda, membutuhkan dosis yang berbeda pula disetiap tubuh difabel mental. Obat yang dikonsusmsi hampir sepanjang hidup difabel mental ini tentunya harus menjadi perhatian pemerintah untuk bisa memenuhi kebutuhan difabel mental ini.

“Baru di Cianjur, yang bupatinya merekomendasikan langsung untuk obat obat bagi para difabel mental ini dimasukan dalam jaminan kesehatan daerah. Pemerintah daerah cianjur yang mengalokasikan dana daerahnya untuk mensubsidi kebutuhan obat para difabel mental, baru di cianjur, padahal difabel mental tersebar diseluruh daerah di Indonesia,” tegas Nurhamid.

“Masalah fundamentalnya adalah stigma. Stigma tersebutlah yang menyebabkan lingkaran setan kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap para penyandang difabilitas mental. Maka penyadaran dan pembongkaran stigma ini lah yang harus dilakukan bersama,” pungkas Nurhamid.[]

 

The subscriber's email address.