Lompat ke isi utama
Siti Hasrun

Siti Harsun, Aktivis Perempuan sekaligus Orangtua ABK Kelola Adituka Qta

Solider.or.id, Surakarta-Pernah menjadi korban Trafficking, lalu dapat melarikan diri saat kapal yang hendak membawa dirinya dan rombongan ke Sorong (Papua) bersandar di pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Siti Harsun kemudian memutar haluan hidupnya dengan menjadi aktivis perempuan. Pada tahun 2002 dia memulai pengorganisasian perempuan di  tempat tinggalnya saat itu, Desa Ketapang, Susukan Kabupaten Semarang. Tahun 2009 Siti Harsun yang juga aktif di Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) Salatiga ini mengumpulkan orangtua yang memiliki anak seusia anak-anaknya . Ketika itu ada 15 orangtua yang sepakat menitipkan anaknya seminggu tiga kali untuk diasuh bersama dan kegiatan berlangsung di rumah salah satu warga yang peduli. Selanjutnya, komunitas untuk anak usia dini yang diberi nama Adituka Qta tersebut saat ini memiliki pos pembelajaran di sebuah Gazebo sederhana di samping sebuah masjid.

Berawal dari Mempunyai Anak Berkebutuhan Khusus

“Saya mempunyai tiga anak perempuan, Keysha, Aline dan Rizqia. Aline anak kedua saya  adalah difabel Cerebral Palsy, kelainan motorik kasar dan komunikasi verbal yang kurang. Saat ini di usia 5 tahun dia belum bisa berjalan dan hanya berada di kursi roda. Aline lahir di usia kandungan 6 bulan dengan berat badan 1,3 kg. Dalam hati kecilku, karena kondisi Aline ini, saya berniat membuat yayasan sosial yang peduli kepada anak berkebutuhan khusus,” tutur Siti Harsun kepada Solider di sela-sela acara bedah buku Pandora, yang berisi pengalaman nyata aktivis perempuan muda di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS Sebelas Maret, Solo baru-baru ini.  

Pada awal pembentukan, sekolah untuk anak usia dini tersebut mempunyai konsep sebagai wahana momong anak bareng karena para orangtua butuh bersosialisasi dan mengembangkan kecerdasan utamanya kecerdasan sosialnya. Setiap hari Sabtu biasanya anak-anak diajak berjalan-jalan atau belajar di ruang terbuka untuk menggali potensi lokal yang ada. Bagi sekolah Adituka Qta  pendidikan moral, tata karma, dan etika menjadi sesuatu yang penting dibanding Calistung (Baca, Tulis, Hitung). Sekolah yang berbasis komunitas mempunyai parameter sendiri tentang definisi cerdas bagi anak. “Setiap kami mengajarkan doa sebelum dan sesudah makan, maka kami akan menyebut rasa terima kasih kami kepada bapak ibu tani yang telah menanam beras yang kami makan pada hari itu,” tutur Siti Harsun.

“Saat ini Adituka Qta menggandeng Puskesmas Sidorejo Kidul Kecamatan Tingkir Salatiga untuk deteksi dini Anak Berkebutuhan Khusus. Kami juga membuat forum orangtua untuk memberikan informasi tumbuh kembang anak. Tanggapan mereka positif dan sangat bersemangat. Ada tiga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang bersekolah dari 25 jumlah siswa. Kami sudah berjejaring dengan UCP yang menyanggupi bantuan kursi roda. Ketiga ABK kami masing-masing penyandang Down Sydrome, Meningitis, dan kelainan tulang belakang,”pungkas Siti Harsun.

 

The subscriber's email address.