Lompat ke isi utama

Syarat Diskriminatif SNMPTN 2014 terhadap Difabel Dihapus

Solider.or.id.Jakarta. Ketua penyelenggara SNMPTN 2014 yang juga Rektor Universitas Padjadjaran, Ganjar Kurnia, menyatakan sepakat sepakat untuk menghapuskan beberapa syarat diskriminatif untuk mendaftar SNMPTN bagi para difabel.  Pernyataan tersebut disampaikannya pada rapat soal syarat SNMPTN di kantor Ombudsman RI, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (29/4/2014). Dirilis dari detikNews, Rabu (30/04/2014)

Dengan demikian para difabel dapat mengikuti SNMPTN sesuai dengan jurusan yang diminatinya.

Persyaratan yang mendiskrinatif difabel tersebut, terjadi karena ketidak sengajaan dan ketidak pahamannya tentang diskriminasi. Seperti yang diungkapkan dalam petikan pernyataannya, "awalnya kami tidak pernah terpikir bahwa persyaratan itu merupakan bentuk dari diskriminasi dan kami tercengang ketika mendengar teman-teman mengatakan ini diskriminasi. Kami akan mempertimbangkan adanya fasiltas-fasilitas untuk teman-teman dan kami di sini berdiskusi untuk kelanjutan SNMPTN dan SBMPTN 2014," ujar Ganjar Kurnia dalam rapat.

Ombudsman yang merupakan lembaga negara di Indonesia dengan kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah dan maupun swasta, ketika mendapat laporan dari difabel terkait diskriminasi masuk PTN segera melakukan tindakan penyelesaian kasus diskriminatif tersebut.

“Syarat-syarat diskriminatif yang melarang para difabel tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, serta tidak buta warna total untuk mengikuti SNMPTN, jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) para difabel.” Demikian menurut mantan komisioner Komnas HAM yang mewakili Perwakilan Difabel Indonesia (PPDI), Saharudin Daming.  Dia juga mendorong agar universitas bisa memberikan kesempatan bagi para difabel untuk menuntut ilmu.

"Kaum difabel harus diberikan ruang khusus. Tapi kenapa di SNMPTN maupun SBMPTN mencantumkan secara eksplisit syarat-syarat yang diskriminatif itu," ungkap Saharudin yang tunanetra ini.

Setelah melalui pembahasan dengan beberapa perwakilan universitas yang hadir antara lain, UI, UNJ, Unpad, Unibraw, Universitas Sriwijaya, dan Unair, akhirnya Ombudsman memberikan keputusan terkait hal ini. Ombudsman memerintahkan agar penyelenggara SNMPTN dan SBMPTN menghapus syarat-syarat yang dianggap diskriminatif bagi para difabel.

Keputusan ini pun disambut baik para perwakilan universitas yang datang. Para difabel diberi kesempatan untuk mendaftar SNMPTN secara offline hingga tanggal 10 Mei 2014. Maksud off-line, adalah para pendaftar mengisi formulir yang tersedia dan cukup menyerahkannya ke universitas negeri terdekat dan tidak perlu datang ke universitas yang ingin didaftar," demikian kutipan penjelasan Ganjar

The subscriber's email address.