Lompat ke isi utama
Lomba debat difabel UIN Sunankalijaga

Lomba Debat Difabel Milad UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Solider.or.id.Yogyakarta. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyelenggarakan berbagai macam lomba dalam rangkaian Milad ke 7-nya. “Lomba Debat Difabel” menjadi salah satu agenda lomba yang paling banyak peminatnya. Dengan diikuti oleh 22 tim dari berbagai universitas, diantaranya Univesritas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, dan Universitas Negeri Solo (UNS), babak penyisihan dan semi final telah dilaksanakan pada Kamis (1/1/2014)

Babak penyisihan ditentukan hasil enam besar, selanjutnya diperlombakan lagi dalam babak semi final untuk ditentukan empat finalis yang akan beradu argumen pada babak final, Senin, 5 Mei 2014. Keempat tim yang berhasil melaju ke babak final adalah Tim Jurusan Politik dan Pemerintahan (JPP) 4 UGM, UKM Peduli Difabel UGM, KPK 1 UIN, dan KPK 2 UIN.

Terdapat tujuh tema yang menjadi bahan perdebatan diantaranya, urgensi pendidikan inklusif di perguruan tinggi bagi difabel, persyaratan SNMPTN melanggar hak pendidikan difabel, pentingkah relawan (pendamping) mahasiswa bagi difabel, difabel berhak memilih dan belajar pada bidang studi apapun di perguruan tinggi, Unit Layanan Difabel sebagai bentuk inklusivitas kampus, beasiswa khusus mahasiswa difabel Indonesia, dan konstruksi kebijakan tinggi inklusif di Indonesia.

Pengundian tema bagi peserta debat dan posisi sebagai tim yang pro atau kontra dilaksanakan saat regristasi peserta, sebelum dilaksanakannya lomba. Dengan demikian peserta debat harus meguasai semua tema yang ditetapkan oleh panitia.

Salah satu Yuri Lomba Debat Liana Aisyah, MA, yang juga dosen Fakultas Sain dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga mengutarakan pada Solider, “Menurut saya, lomba debat difabel ini dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman generasi muda tentang isu disabilitas dan pendidikan inklusifdi perguruan tinggi”

“Saya sangat terkesan dengan penguasaan materi dan kemampuan berargumentasi semua tim. Sekilas kami menduga tim yang mendapatkan undian untuk menjadi kelompok PRO akan memperoleh keuntungan karena lebih mudah membangun argumen. Yang menarik, ternyata tim KONTRA juga cukup sering berhasil memenangkan debat dengan membawa wacana ke arah desain yang lebih besar dan komprehensif. Ini menunjukkan para peserta telah melakukan riset yang lebih dari memadai.” Liana Aisyah menambahkan keterangannya.

The subscriber's email address.