Lompat ke isi utama

Difabel Punya Banyak Potensi

Solider.or.id, Surakarta- Dalam sebuah cerita silat, ada seorang guru yang mempunyai  murid difabel intelektual. Si murid hanya diajarkan tiga ilmu oleh gurunya, yakni ilmu menyerang, bertahan dan ilmu lari. Kalau ilmu menyerang gagal, maka dia akan bertahan. Jika bertahan pun gagal maka jurus pamungkas adalah lari. Sang guru mengerti akan keadaan muridnya. Dia sengaja tidak mengajarkan ilmu yang lengkap.

Contoh akan hal itu adalah pada suatu hari televisi menyiarkan sesuatu yang luar biasa. Tentang upaya Ciptono mengajarkan Batik Cipratan kepada para siswa SLB di Semarang.” Saya merasa menjadi orang yang bodoh. Saya nggak pernah berpikir bahwa ada Batik Cipratan. Mereka bermain-main saja sesungguhnya, namun menghasilkan. Sesuatu kreativitas yang luar biasa. Batik Cipratan jika dijadikan baju akan sangat bernilai sekali,”papar Andi Hartono, seorang pengusaha yang mempunyai komitmen membantu difabel. Bentuk kepedulian pria berputra dua dan pengusaha rumah makan,  internet dan property  tersebut diwujudkan dengan memberi tempat di warung steak miliknya untuk kantor PPRBM beberapa waktu lalu. 

Andi Hartono kemudian mengungkapkan bahwa talenta difabel adalah membuat atau berkreasi. Dan sebagai seorang pengusaha tugasnya adalah memasarkan. Untuk belajar menghasilkan, utamanya adalah modal kesukaan kepada bidang yang ditekuni. “Untuk apa kita belajar yang kita nggak suka. Misalnya sebulan bekerja hanya menghasilkan 300 rupiah. Ngapain? Lha ini kalau dilakukan, mereka mengerti. Jangan sampai kita membuat sesuatu yang nggak jelas. Dalam bisnis itu kadang tidak jelas, tapi kita bisa membikin supaya jelas. Difabel yang suka bikin kue, kita carikan ibu angkat perusahaan roti,” tutur Andi Hartono.

Difabel Harus Fokus Pada Bidang

“Minat difabel itu pada apa? Kita harus fokus. Contohnya adalah Pak Mulyanto. Dia fokus hanya kepada dunia menulis yang sudah digelutinya sejak dulu. Maka dia tak akan lari atas keprofesionalannya. Pak Mulyanto itu sudah expert (ahli-red). Kalau kita belajar seadanya, maka hasilnya tidak maksimal.  Contohnya adalah Balai Besar Rehabilitasi Sosial dan Bina Daksa (BBRSBD) yang masih sangat kurang levelnya. Gurunya bukan dari pelaku usaha. Kalau gurunya dari pelaku usaha akan sangat mengerti kebutuhan. Sebaiknya guru ada yang resmi dan juga pelaku usaha di bidang itu yang sukses.

Andi mencontohkan lagi yakni jika difabel  yang berlatih fotografi, maka dia harus piawai dan sukses dalam bidangnya. Misalnya dengan menjadi fotografer profesional, jago di lomba foto-foto atau bahkan mempunyai studio foto.

“Saya beberapa kali mengajar di Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Solo dan memberi mata kuliah  kewirausahaan. Lah di wirausaha kok diajarin teori,  ngapain? Dan lagi, yang dinilai bukan kesuksesan anda. Yang dinilai adalah dari Anda membuat plan. Jika di akhir waktu uang modal  habis, Anda bisa belajar. Saya mengajarkan para mahasiswa dengan cara bermain. Dengan difabel pun tak ada masalah. Berilah mereka kesempatan yang sama dengan yang lainnya. Ada teman difabel yang belum bekerja saya tanya dia ingin  apa? Mau kerja di bagian apa? Maka tugas saya adalah mencarikan solusinya,”pungkas Andi Hartono.

 

 

 

 

 

 

 

 

The subscriber's email address.