Lompat ke isi utama

Selarasnya Perkembangan Teknologi dan Peningkatan Aksesibilitas

Kemajuan zaman terus diiringi oleh berkembang pesatnya teknologi. Manusia diuntungkan dengan teknologi yang memudahkan kinerja manusia untuk penghidupannya.  Dalam sebuah diskusi RUU Disabilitas di Yogyakarta pada 20-21 April lalu,  Salah satu anggota yang tuli mengungkapkan, kemajuan peralatan elektronik seyogianya bisa menjadi salah satu jalan keluar untuk memenuhi sarana aksesibilitas kepada difabel. Kemajuan teknologi dirasa 'pincang' jika hanya membantu kelompok non-difabel saja. Difabel juga harus bisa menikmati kemajuan teknologi. Adi, seorang tuli dari organisasi Gerkatin Yogyakarta menceritakan pengalamannya selama tinggal di Hong Kong. Dari penuturannya, Hong Kong telah memanfaatkan teknologi untuk masyarakatnya dengan bijak.

Tidak hanya kepada nondifabel saja, difabel pun bisa menikmati dampaknya. Salah satunya adalah adanya lampu peringatan di dalam hunian apartemen. Lampu tersebut bisa menjadi kode 'SOS' jika terjadi suatu keadaan darurat. Mengingat tuli tak mampu bersuara keras ketika hendak meminta tolong, maka jika lampu berkedip dengan warna yang berbeda, dapat diindikasikan kalau sedang terjadi sesuatu di kamar tuli itu. Sementara di Indonesia sendiri, teknologi semacam itu belum terjangkau meskipun pengadaannya nampak tidak terlalu rumit.

Sementara itu, Hendra yang seorang netra mengharapkan sarana informasi dalam bentuk audio bisa dirasakan di mana saja. Mulai dari tempat pelayanan umum, transportasi, hingga media informasi. Tujuannya tak lain agar difabel netra mampu memahami setiap informasi yang muncul, terutama informasi penting yang bersifat umum. Selama ini, huruf Braile yang biasanya digunakan difabel netra untuk mengakses informasi sangat kurang terjangkau. Hanya ada di beberapa titik lokasi saja kode Braile dapat ditemukan, sementara yang lainnya tidak ada sama sekali. Entah apakah karena tidak tahu atau dirasa sangat sulit memunculkan kode Braile dalam setiap tempat.

Sekali lagi diharapkan teknologi yang semakin canggih dapat membantu difabel menjangkau aksesibilitasnya. Jangkauan aksesibilitas terhadap difabel akan mengantarkan difabel menuju ke kemandirian hidup.

Dengan kemandirian hidup begitu, difabel tidak hanya akan merasa aman dan nyaman, pun mampu berkontribusi besar dalam kemajuan daerah dan bangsa pada umumnya. Namun, ada hal yang dikawatirkan jika seandainya teknologi canggih mampu melayani aksesibilitas difabel. Yaitu, apakah harganya terjangkau atau tidak.

Dalam diskusi itu, seluruh peserta juga tidak menafikan, bahwa harga teknologi canggih yang mampu memberi kemudahan terhadap penggunanya tidak akan murah. Suatu solusi muncul, peran pemerintah dalam hal ini mengontrol besaran biaya harga alat, mampu memberikan jalan kepada difabel untuk membeli dan memilikinya. Namun, harga tidaklah menjadi diprioritaskan dulu. Yang perlu didorong adalah pengadaan alat-alat teknologi yang bisa mengakomodasi akseaibilitas difabel. Indonesia, pemudanya, pemerintahannya, difabelnya dan semua rakyatnya bergerak bersama menuju inklusivitas. Ini akan menjadi tantangan bersama untuk mewujudkan fungsi teknologi dalam membantu aktivitas kehidupan manusia.

Sudah saatnya kemajuan zaman dan teknologi ini berjalan bersama antara difabel dan non-difabel. Tidak akan ada yang dirugikan jika bersama-sama menuju kebersamaan.  Seperti slogan gerakan difabel, nothing about us without us .

The subscriber's email address.