Lompat ke isi utama
Sosialisasi Pemilu 2014 di SLB-C N Pembina Yogyakarta, Kamis (3/4/2014)

Sosialisasi Pemilu 2014 di SLB C Negeri Pembina Yogyakarta

Solider.or.id,Yogyakarta. Relawan Demokrasi (Relasi) KPU Kota Yogyakarta dari Segmen Difabel berkolaborasi dengan Relasi Segmen Agama dan Relasi Segmen Pemilih Pemula mengadakan sosialisasi Pemilihan Umum (Pemilu)  Legislatif 2014, di Sekolah Luar Biasa Jurusan C (SLB-C) Negeri Pembina Yogyakarta, Kamis (3/4/2014).

Salah satu Relasi Widy Haryanti menyampaikan informasi di hadapan 50 siswa yang sudah memiliki hak pilih, bahwa Pemilu akan berlagsung pada, Rabu, 9 April 2014.  “Pemilu adalah pesta demokrasi yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali. Semua warga yang sudah berusia 17 tahun termasuk anak-anak yang berkumpul di sini,siswaSLB-C Negeri Pembina memiliki hak untuk ikut pesta demokrasi, menggunakan haknya untuk memilih wakil rakyat yang akan menjadi wakil, untuk menyuarakan hak-hak kita semua.”

"Anak-anak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) tempat tinggal anak-anak, untuk mendapatkan surat suara, anak-anak boleh didampingi oleh orang tuanya (ibu/bapak) atau saudaranya. Cek surat suara sudah ada tanda tangan Komisi Panitia Pemungutan Suara (KPPS) atau belum jika belum minta ditanda tangani, perhatikan surat suara rusak atau tidak (sobek, atau sudah dicoblos), kalau rusak minta ganti pada petugas KPPS, jika surat suara dipastikan tidak rusak lipat lagi, bawa masuk ke bilik pencoblosan. Buka dan coblos sesuai dengan pilihan, setelah mencoblos anak-anak tidak boleh bilang siapa-siapa tentang partai atau caleg yang dicoblos (diam), kemudian lipat kembali, masukkan surat suara sesuai dengan warna kotak suaranya.  Surat suara kuning masuk dalam kotak kuning, hijau ke kotak hijau, biru ke kotak biru, dan merah ke kotak merah," lanjut Widy dalam penjelasannya.

"Pemilu 2014 ini lebih mudah. Boleh mencoblos pada gambar partai, boleh mencoblos gambar Calon legislatif (Caleg). nyoblosnya jangan di luar garis, boleh juga mencoblos dua caleg dan satu partai. tetapi tidak boleh mencoblos dua gambar partai, nanti suaranya tidak sah,"lanjut Priyono Relasi lainnya.

Enny Kusumawati, salah seorang guru SMA kelas Keterampilan di SLB tersebut menyampaikan pendapatnya, “Bagaimana kalau siswa SLB mental retardasi ini dibebaskan dari hak pilihnya, karena konsep berpikir mereka masih seperti anak-anak. Menurut saya, tingkat intervensi dan dimanfaatkan oleh orang lain akan tinggi terhadap anak-anak SLB C ini.”

Dalam kesempatan terpisah, Priyono salah satu Relasi menyampaian bahwa, “Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk meminimalisasi angka golongan putih (golput). Dan yang lebih penting adalah mengapresiasi siswa-siswa SLB-C  yang sudah memiliki hak pilih, salah satu bentuk pemenuhan haknya sebagai warga negara.”

“Meskipun mereka ini usia mentalnya masih anak-anak tetapi usia KTPnya sudah memenuhi syarat dan memiliki hak memilih pada pemilu 2014 ini. Jadi tidak boleh suara mereka dihapuskan, hak mereka harus diperjuangkan dalam pemilu,” tambahnya.

 

 

The subscriber's email address.