Lompat ke isi utama

Fenomena Gunung Es Kekekerasan terhadap Perempuan dan Anak Difabel

Solider.or.id, Surakarta- Kekerasan terhadap perempuan dan anak saat ini banyak dibicarakan baik di dalam seminar atau diskusi dan di media massa. Semakin dibicarakan secara terbuka ternyata semakin banyak jumlah yang dilaporkan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut. Hal ini disebut dengan fenomena gunung es, jumlah yang mengalami kekerasan sebenarnya lebih banyak lagi dibanding dengan jumlah yang dilaporkan.

Demikian paragraf pembuka pada makalah yang disampaikan oleh Hastin Dirgantari, praktisi hukum, dalam sarasehan tentang Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Difabel yang digelar oleh Pusat Pengembangan dan Pelatihan Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) di aula kantor Dinas Sosial Wonogiri, Rabu (26/3/20140).”Di kesempatan ini pula saya ingin menyampaikan betapa pentingnya pendampingan hukum bagi perempuan dan anak difabel yang menjadi korban kekerasan seksual. Bagaimana pendamping hukum tersebut punya kapasitas yang memadai sehingga pendampingannya tidak mengarah pada sesuatu hal yang malah  merugikan korban. Ini terutama untuk korban difabel tuli dan mental,”papar Hastin Dirgantari.

Hastin Dirgantari juga mengemukakan pentingnya memanfaatkan dengan maksimal keberadaan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di setiap kota/kabupaten. “P2TP2A harus menjadi pelayanan terpadu untuk melayani masyarakat sebagai salah satu tempat di mana masyarakat terutama perempuan difabel korban kekerasan bisa mengakses.”

Menurut keterangan dari Hastin Dirgantari bahwa ada salah satu kasus kekerasan seksual  yang saat ini terjadi di Wonogiri, saat pemberkasan (penyidikan)  ke polisi menyertakan bukti berupa rekaman visualisasi dari keterangan korban. Ini sebuah kemajuan jika polisi dan pengadilan memperbolehkan, demikian ungkap Hastin.  

Sementara itu narasumber yang lain, Diah Ningrum Roosmawati  dari PPRBM menyampaikan hasil riset yang selama ini dilakukannya tentang Kekerasan Perempuan dan Anak Difabel di daerah Sukoharjo pada tahun 2013 lalu. Diah menyampaikan sebuah fakta dari World Health Organization (WHO) tahun 2012 bahwa perempuan dan anak difabel berisiko mengalami kekerasan 4 kali lebih banyak dibanding perempuan dan anak non difabel.

“Perempuan dan anak difabel diposisikan sebagai orang yang lemah, tidak berdaya dan mayoritas miskin. Sedangkan bagi perempuan difabel tuli atau mental tidak bisa memberikan kesaksian karena hambatan komunikasi. Sedangkan kekerasan yang dilakukan oleh negara ada dalam bentuk akses pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, politik dan ekonomi,” tutur Diah.

Pelaku Kekerasan Seksual adalah Orang Dekat

Dalam sesi diskusi terungkap pula kasus-kasus kekerasan perempuan difabel  dengan pelaku adalah orang dekat serta perempuan difabel penghuni panti. Siti Muslimah, aktivis dari sebuah LSM di Wonogiri mengungkapkan kasus yang pernah ditanganinya, dengan korban perempuan difabel yang terjadi puluhan tahun lalu tetapi sampai saat ini masih menyisakan trauma psikis.

Suyanto, ketua Pertuni Wonogiri mengungkapkan tentang kejadian yang pernah dialami beberapa tahun lalu ketika dirinya menjadi penghuni sebuah balai rehabilitasi sosial. “Dulu tahun 2008 ketika panti masih akses untuk tuli (sebelum dipindah di kota lain), saya pernah mendapat laporan jika salah satu penghuni panti menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang oknum, yang bekerja sebagai petugas  kebersihan. Namun , pihak panti tidak merespon dan bahkan saya disuruh tutup mulut,”ungkap Suyanto.

 

The subscriber's email address.