Lompat ke isi utama
Staf UNS diskriminatif (baju biru)

Petugas Parkir UNS Berlaku Diskriminatif pada Difabel

Solider.or.id, Surakarta – Berniat menjalankan pekerjaannya Entok Darmanto dan empat rekannya dari Koperasi Harapan justru mengalami perlakuan diskriminatif. Mereka dilarang memarkir kendaraan di kawasan parkir Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, di Kawasan Kentingan Surakarta pada Selasa (18/3/2014).

Saat dihubungi melalui telepon genggamnya Entok memaparnya kejadian yang menimpanya. Dia bercerita bahwa petugas yang berjaga di pos parkir tidak memberi kesempatan mereka yang beroda tiga masuk dengan alasan parkir penuh. Petugas tersebut menyuruh motor roda tiga parkir di lokasi parkir lain yang letaknya jauh dan jalannya menanjak. Padahal tiga diantara lima orang tersebut penyandang polio yang memakai alat bantu prostese dan tongkat sehingga tidak kuat berjalan jauh.

Ora mesakne to pak iki wong difabel kabeh (Apa tidak kasihan pak kami semua difabel-red),” kata Entok mengulangi ucapannya pada petugas.

Kelima orang pegawai koperasi yang dimiliki oleh para difabel tersebut tetap tidak diperbolehkan masuk. Namun, ketika ada mahasiswa yang masuk diperbolehkan, meski sebelumnya petugas menyatakan tempat parkir telah penuh.

“Katanya kalau mas itu boleh masuk tapi orang itu (difabel yang bermotor rodatiga-red) tetap tidak boleh masuk,” kata Entuk menirukan ucapan petugas yang berlaku diskriminatif tersebut.

Dengan pertimbangan kondisi Entok menyuruh kedua rekannya Wiratno dan Atina ikut menyerobot masuk ketika palang terbuka untuk lewat mahasiswa tersebut. Dia menyatakan petugas tampak kesal dengan tindakan ini. Namun Entok menilai Wiratno yang difabel dan berusia lanjut serta Atina yang memakai prostese akan sangat kesulitan ketika berjalan jauh dan melalui jalan menanjak.

Geram dengan kejadian ini Entok berinisiatif memotret petugas tersebut dan mempublikasikannya melalui media sosial. Dia menyebut petugas berseragam biru yang tampak di foto ini yang melakukan tindakan diskriminatif padanya dan rekan-rekan difabel. Atas ijinnya Solider bisa mempublikasikan foto ini agar bisa memberi efek jera bagi petugas yang berlaku diskriminatif.

Ketika dikonfirmasikan mengenai hal ini Munawir Yusuf, dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNS menyatakan bahwa kampus UNS sudah menjadi kampus inklusi. Hal ini memungkinkan siapapun, termasuk difabel mengaksesnya. Menanggapi permasalahan yang ada dia menyatakan kemungkinan pemahaman difabilitas belum tersosialisasikan secara menyeluruh sampai ke tingkat bawah seperti petugas parkir.

The subscriber's email address.