Lompat ke isi utama

Kepercayaan Diri Disabilitas Tergantung pada Lingkungan dan Keluarga

Solider.or.id, Makassar – Tingkat kepercayaan diri penyandang disabilitas ternyata sangat ditentukan oleh bagaimana keluarga menerima dan memperlakukan seorang penyandang disabilitas sejak ia lahir dan dibesarkan secara wajar tanpa diskriminasi. Hal ini terungkap dalam acara talkshow Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar yang bertajuk “Dunia Wanita” menghadirkan nara sumber seorang perempuan disabilitas asal Boyolali Jawa Tengah, Ida Putri pada akhir Februari lalu

“Saya sendiri tidak pernah merasa sebagai penyandang disabilitas sejak kecil sampai saya menyelesaikan studi di tingkat perguruan tinggi,” ungkap Ida Putri yang berprofesi sebagai jurnalis pada portal khusus disabilitas www.solider.or.id danwww.majalahdiffa.com tersebut. “Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan non disabilitas dan saya juga bersekolah di sekolah umum, sehingga saya merasa tidak ada masalah dan saya dapat mengembangkan kemampuan saya secara optimal tanpa hambatan yang berarti,” lanjutnya.

“Ayah, ibu dan saudara-saudara saya memperlakukan saya dengan baik, tidak merasa malu mempunyai keluarga yang berbeda secara fisik dengan mereka, kasih sayang mereka pun tidak berbeda antara saya dan adik kakak saya,” kata aktivis disabilitas perempuan asal Boyolali itu. “Di sekolah dan di kampus teman-teman pun bergaul dan berinteraksi secara wajar dengan saya, tak ada yang melecehkan maupun mengolok-olok saya,” lanjutnya kepada Sutati Sabanmiru, pemandu acara tersebut.

“Namun setelah saya selesai kuliah dan mencoba mengakses pekerjaan di sektor formal, disitulah saya baru merasakan ternyata di luar sana masih banyak diskriminasi yang menurut saya tidak seharusnya kami alami.” ucap alumnus Universitas Gajah Mada jurusan Kimia ini. “Selama tiga tahun saya mencoba mendapatkan pekerjaan di sector formal tapi tak ada yang mau menerima saya karena kondisi disabilitas saya, saat itulah saya menyadari bahwa ada yang nggak benar, ada masalah di sini. Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja pada organisasi yang menyuarakan hak-hak perempuan selama lima tahun, dan setelah setahun terakhir ini saya mencoba bergabung dengan komunitas disabilitas seperti yang sedang saya jalani sekarang ini.”

Selain aktif sebagai jurnalis pada media on line, Ida juga aktif pada Forum Komunikasi Difabel Boyolali (FKDB) sebagai pendamping, yang bertugas memperkuat kapasitas dan jaringan organisasi tersebut.

“Sekarang ini FKDB sedang aktif memperjuangkan lahirnya peraturan daerah tentang disabilitas di Boyolali dengan target Ranperda tentang hak-hak disabilitas tersebut dapat disahkan tahun depan.” Jelas wanita penyandang “Little People” atau Orang Dengan Postur Tubuh Kecil ini.

 Ida juga pernah mewakili Indonesia dalam training Women Institute Leadership for Disabilities (WILD) pada tahun 2010 di Amerika. Program ini bertujuan mengembangkan dan mengoptimalkan peran perempuan penyandang disabilitas dalam membangun gerakan bagi perjuangan mereka.

The subscriber's email address.