Lompat ke isi utama
Risnawati Utami, aktivis gerakan difabilitas Indonesia

Komparasi Gerakan Sosial Disabilitas di Indonesia dan Amerika

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang telah memiliki apresiasi positif mengenai disabilitas. Meskipun sampai saat ini belum merativikasi konvensi Hak-hak Difabel (UNCRPD) tetapi pemenuhan hak-hak difabel di Amerika Serikat justru lebih baik ketimbang Indonesia. Padahal Indonesia telah merativikasi konvensi ini beberapa tahun silam. Pendapat tersebut diutarakan oleh Risnawati Utami, salah seorang difabel asal Indonesia yang menimba waktu  di Amerika Serikat.

Saat ditemui seusai dari sebuah acara di Solo, acara perempuan yang pernah menimba ilmu di Amerika Serikat ini menyatakan bahwa pemenuhan hak difabel di negara itu terjadi akibat kuatnya gerakan sosial.

“Kalau menurut saya di Amerika itu kan lama ya pergerakannya dan konsisten,” jelas Risna saat berbincang seusai acara.

Founder Organisasi Harapan Nusantara (OHANA)  ini menceritakan bahwa pergerakan difabel di Amerika dimulai dari California dan dirintis oleh Ed Robert, seorang penyandang polio yang juga harus memakai alat bantu respirator. Di negara itu memang difabel berat memiliki akses di masyarakat, tidak seperti di Indonesia yang lebih banyak terkurung di rumah. Gerakan ini kemudian menjamur hingga ke negara bagian lain.

Adanya jaringan yang kuat dan kesamaan visi dalam memperjuangkan American with Disabilitie Act (ADA) menjadi faktor munculnya gerakan sosial disabilitas di Amerika Serikat. Proses advokasi yang dilakukan oleh pegiat disabilitas di sana cukup panjang hingga pada akhirnya memunculkan Section 504. Section 504 merupakan undang-undang yang melarang adanya diskriminasi terhadap difabel di Amerika Serikat. Undang-undang inilah yang menjadi landasan terpenuhinya hak-hak difabel.

Pendukung Gerakan Difabel di Indonesia

Sementara di Amerika sektor-sektor terkait gerakan disabilitas berjalan bersama dan ada sinergitas, sementara di Indonesia mereka masih berjalan sendiri-sendiri. Hal ini yang masih menjadi kendala pergerakan disabilitas di Indonesia menurut Risna.

Risna menilai di Indonesia lembaga riset, organisasi difabel, pemerintah dan sektor swasta bekerja sendiri-sendiri, tidak saling bersinggungan. Padahal seharusnya lembaga riset memberi solusi, misalnya untuk teknologi bagi difabel, sementara sektor swasta memiliki peran untuk mengembangkannya. Sinergitas ini juga harus bisa diakses oleh difabel, dengan menyertakan peran difabel itu sendiri.

Hal lain yang tidak kalah penting dalam membangun gerakan disabilitas menurut Risna adala penyatuan visi organisasi difabel. Saat ini organisasi difabel masih mengalami beragam friksi. Yang terjadi organisasi difabel yang ada masih berjalan sektoral berdasarkan kepentingan masing-masing. Hal ini membuat difabel sendiri belum memiliki visi yang menjadi dasar gerakan bersama.

Selain itu pertisipasi organisasi difabel yang secara aktif untuk berbagi peran juga menjadi salah satu elemen penting. Dalam hal ini organisasi difabel ini memiliki peran untuk memastikan difabel dilibatkan dalam jaringan gerakan disabilitas itu.

 

The subscriber's email address.