Lompat ke isi utama

Seminar Difabel Day UNS :Komitmen Gubernur Terhadap ABK

Solider.or.id, Surakarta- Bertempat di Aula Gedung F Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (FKIP) Universitas Negeri Surakarta (UNS) Sebelas Maret, Sabtu (15/2/2014)600 peserta terdiri dari guru SLB dan mahasiswa PLB mengikuti Seminar Difabel Day Pendidikan Non Diskriminatif untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Acara yang diselenggarakan oleh PLB UNS, APPKhI, dan Pusat Studi Difabel LPPM UNS dibuka dengan paparan makalah dari Prof. Dr. Sunardi, M.Sc ditutup dengan pembicara kunci Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan makalah yang dibawakannya  “Menuju Provinsi yang Ramah Difabel/Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)”.

”Perda sudah berproses. Kalau mentok panggil para pengambil kebijakan dan ada baiknya jika dosen menugasi mahasiswa untuk mengamati atau mengawal perundangan agar segera digolkan dan awasi implementasinya. Tentu ini terkait dengan misi politik yakni sebuah pendidikan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, dan tugas mahasiswa adalah amati dan awasi pelaku politik aktor per aktor,”tutur Ganjar Pranowo.

Menjawab pertanyaan dari tiga peserta salah satunya adalah Kepala Sekolah SLB Yakut  Purwokerto tentang perlakuan diskriminasi yang ditimpakan kepada guru SLB yakni antara guru di bawah asuhan kabupaten/kota dan pemerintah provinsi yang menyebabkan disharmoni di lapangan, Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan jika memungkinkan 20 persen anggaran  pendidikan provinsi  Jawa Tengah untuk kewenangannya diberikan kepada SLB saja.

Mulai Juli 2014 Kurikulum Baru untuk SLB Diberlakukan

Sementara itu dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNS, Drs. Munawir Yusuf M.Psi di depan para peserta seminar menjelaskan  jika mulai Juli 2014 akan diberlakukan kurikulum baru untuk SLB. Kurikulum baru tersebut adalah modifikasi kurikulum 2013 yang sebelumnya telah digodok selama berbulan-bulan oleh tim bentukan Pendidikan Khusus- Layanan Khusus ( PK-LK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mardani, Kepala Sekolah SLB B C  Yayasan Pendidikan Anak-anak Luar Biasa (YPAALB) Langenharjo Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo menyampaikan harapan atas diberlakukannya kurikulum baru tersebut. “Saya setuju dengan pelaksanaan kurikulum 2013. Namun, perlu dipertimbangkan dengan jenis ketunaan terutama anak tuna grahita karena setiap individu anak tuna grahita punya kemampuan yang berbeda-beda. Harapan saya semoga semua fasilitas baik buku pegangan guru maupun peserta didik sesuai dengan kurikulum sehingga memudahkan dalam pelaksanaan kurikulum 2013,” tutur pendidik yang sudah mengabdi selama 17 tahun di SLB tersebut.

The subscriber's email address.