Lompat ke isi utama
Mujiono, Caleg Difabel dari Karanganyar

Mujiono, Caleg Difabel Kabupaten Karanganyar

Solider.or.id, Karanganyar -Mujiono, kelahiran Karanganyar 3 Februari 1976 adalah salah satu calon legislatif (Caleg) difabel yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan daerah pemilihan (dapil) kecamatan Kebakkramat, Tasikmadu, dan Jaten. Suami seorang istri dan tiga anak ini adalah manajer pada Persada Bina Mandiri, perusahaan yang bergerak pada pembiayaan barang-barang elektronik. Ditemui baru-baru ini ketika  rapat pembahasan Ranperda kesetaraan difabel, Mujiono mengatakan jika saat ini fokusnya adalah penguatan terhadap Ranperda agar segera disahkan. “Kita sedang proses. Karanganyar  kan sedang proses membuat rancangan perda kesetaraan difabel, harapan kita kalau ada dukungan dan  penguatan segera diundangkan, diperdakan,” tutur Mujiono.

Selain karir politik dengan berorganisasi pada partai , beberapa prestasi olah raga ditorehkan oleh Mujiono, difabel daksa tanpa alat ini antara lain peraih medali emas Asean Para Games Solo 2013 di cabang badminton kelas double. Juga medali perunggu pada kelas single. Pada Poparnas Riau 2013 Mujiono meraih medali emas untuk badminton double. Pada Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) ZJwa Tengah  2013 di Solo, Mujiono mendapatkan medali emas beregu dan perak untuk kelas double.

Mujiono aktif di NPC Karanganyar  dan Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) sebagai sekretaris. Namun,di PPCI dia mengaku tidak seeksis di NPC yang pada tahun 2014 organisasi ini tembus mendapat anggaran 100 juta dari APBD Karanganyar. Disinggung soal pergerakan DPO yang berada di Karanganyar, pria tamatan SMA N 2 Karanganyar tahun 1993 ini mengatakan bahwa ada kesenjangan yang terjadi. “Saya melihat ada kesenjangan, DPO yang bekerja sendiri-sendiri, “jelas Mujiono.

Fokus Mujiono  saat ini adalah mengubah paradigma masyarakat, menyadarkan masyarakat yang masih pragmatis.  Adanya pendekatan dengan  program salah satunya melalui TAD yang telah dikehendaki oleh difabel. “Paradigma tentang difabel secara umum, secara Indonesia, belum ada satu wadah yang bisa mengayomi  dan menyatukan harapan bersama,”pungkas Mujiono.

The subscriber's email address.