Lompat ke isi utama
Suasana pertemuan kelompok difabel dan keluarga difabel di Gatak Sukoharjo.

Keluarga Difabel Perlu Bersosialisasi

Solider.or.id, Surakarta-Seperti diketahui bersama bahwa banyak keluarga difabel yang masih menyembunyikan anak-anak mereka. Pun begitu yang terjadi pada difabel yang tinggal di pedesaan, yang notabene berdampingan dengan masyarakat perkotaan. Namun, makin terkikisnya stigma-stigma tentang difabilias, maka sedikit dari sedikit para keluarga difabel mulai membuka diri. Tak hanya itu, sesungguhnya, di samping pengenalan tentang disabilitas, para difabel juga membutuhkan motivasi-motivasi yang selalu subur tumbuh dalam dirinya.

Adalah seorang petugas dari Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Gatak, Emi Dwi Hastuti yang berinisiatif untuk membentuk suatu kelompok atau komunitas keluarga dan anak difabel. “Tidak hanya berharap kepada permohonan bantuan, tetapi dengan berkelompok kita menjadi punya rasa tidak sendiri, dan tentunya mengetahui perkembangan disabilitas, “demikian tutur Erni Dwi Hastuti, Minggu (9/2/2014)

Kelompok difabel dan keluarga difabel  kecamatan Gatak dampingan dari Pusat Pengembangan dan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM)yang diketuai oleh Risa, seorang difabel daksa, baru berdiri beberapa waktu lalu. Kelompok ini  menaungi 30 anggota dewasa dan anak-anak. Diharapkan keanggotaan ini akan semakin berkembang.

Dwi Wisnu Wardana, petugas lapangan dari PPRBM mengatakan jika untuk waktu mendatang, kelompok difabel dan keluarga difabel kecamatan Gatak akan menempati wahana yang lebih permanen yaitu di balai desa Trangsan. Hal itu dikuatkan dengan keterangan Emi Dwi Hastuti, “Akan ada sanggar inklusi dan saat ini sedang ada mahasiswa KKN dari Universitas Veteran Semarang. Sanggar dilengkapi dengan perpustakaan desa yang tahun ini juga maju untuk mengikuti lomba di tingkat provinsi Jawa Tengah.”

Triyono, orangtua difabel rungu wicara yang menjadi anggota kelompok mengatakan ketertarikannya mengikuti pertemuan dan diskusi. “Saya juga ingin menularkan ilmu berupa pengetahuan tentang budidaya dan industri rumah tangga, seperti pembuatan bakso, mie atau makanan lainnya. Saya ingin menularkannya kepada difabel atau orangtua difabel sehingga keluarga mereka berdaya dan mandiri secara ekonomi,”jelasnya. 

 

The subscriber's email address.