Lompat ke isi utama

Sekolah Inklusi Masih Terkendala Kualitas Guru Pendamping Khusus

Solider.or.id,-Lombok Tengah- Hartati, Guru pendamping di SDN 2 Puyung Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat mengatakan, saat ini kualitas guru  pendamping khusus (GPK) di sekolah inklusi belum baik. Ia berpendapat, upaya pemerintah daerah menggenjot keberadaan sekolah inklusi sejak 2009 lalu, tidak dibarengi dengan pembinaan guru yang bagus.

“Banyak Guru tidak tetap (GTT) yang mau untuk mengikuti pendidikan yang di laksanakan oleh Dikpora nusa tenggara barat. Tapi berhubung peraturannya ketat, banyak yang harus kecewa karena tidak di terima,” jelas perempuan  yang sejak tahun 2009 ini menjadi guru pendamping anak berkebutuhan khusus di SDN 2 Puyung ini.

Peraturan yang di tetapkan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga  salah satunya adalah guru GTT yang boleh mengikuti pendidikan khusus tersebut harus punya Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidikan (NUPTK) serta sertifikasi. “Sementara Guru GTT yang mendampingi murid Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di setiap sekolah inklusi jarang yang memenuhi kriteria tersebut,” jelas Hartati.

Lebih jauh perempuan kelahiran Bima 1972 ini menjelaskan, di Lombok Tengah ini kurang lebih belasan sekolah inklusi, tetapi hanya satu orang guru pendamping yang memenuhi kreteria yang di tetapkan Dikpora Nusa Tenggara Barat.

“Dengan terkendalanya pendidikan untuk guru pendamping ABK ini cukup berimbas ke materi pelajaran yang mampu di serap oleh mahasiswanya, karena kendala komunikasi yang belum saling memahami antara guru dan muridnya”.

“Untuk sementara para guru hanya berusaha memberikan materi pelajaran sebaik mungkin sesuai memapuan masing-masing.  Walau agak susah kita lakukan yang terbaik,” jelas Hartati.

Sejak awal Hartati memang sudah bergelut di bidang sosial ini punya komitmen untuk tetap sebagai guru pendamping buat murid-muridnya yang difabel. “Saya suka sekali dengan mereka yang, karena saya menilai mereka juga pantas diberi perhatian lebih seperti anak-anak yang lainnya,” Jelas Hartati.

Sementara itu pihak Handicap International (HI) yang memberi pendampingan program sekolah inklusi sejak 2011 mengiyakan dengan permasalahan yang di hadapi oleh guru sekolah Inklusi ini. Namun,mereka tidak bisa terlalu jauh mencampuri peraturan tersebut. Theresia, pihak HI mengatakan bahwa pihaknya akan terus memantau segala kekurangan dari sekolah inklusi di Nusa Tenggara Barat sebagai bahan revisi kegiatan pendampingan selanjutnya. (Lalu Wisnu)

The subscriber's email address.