Lompat ke isi utama
Salah satu lift di pusat perbelanjaan kota Solo

Aksesibilitas Lift Perlu Dipertanyakan

Solider.or.id, Surakarta-Aksesibilita untuks tuli saat mengakses lift baik di perkantoran, swalayan dan mal perlu dipertanyakan. Tak ada lampu kedip sebagai penanda jika lift penuh. Tombol bertuliskan ‘Full’ menyala jika penumpang lift mulai penuh, namun tidak semua difabel tunarungu/rungu wicara bisa memahami. Kurangnya aksesibilitas tersebut sangat menyulitkan ketika tuli mengakses lift.
Pun aksesibilitas difabel netra perlu diperhatikan karena tidak semua lift mempunyai sinyal sensorik suara untuk menunjukkan jika pintu lift terbuka maupun tertutup atau sedang berada di posisi lantai ke berapa. Aksesibilitas lift yang ideal bisa dijumpai di rumah sakit-rumah sakit besar atau hotel berbintang lima. Namun demikian tidak di sarana publik lainnya.
Bagi difabel dengan kategori Little People akan bermasalah jika tombol yang menunjukkan angka-angka terletak lebih tinggi dari jangkauan tangan. Hal yang sama juga berlaku bagi difabel daksa pengguna kursi roda. Sebagian lift telah dilengkapi handrail sebagai pegangan tangan bagi difabel pemakai kruk. Namun sebagian lagi tanpa handrail.
Pengalaman Solider terhadap aksesibilitas lift di sebuah Mal di Solo saat mengakses bersama tuli membuktikan bahwa masih ada kekurangan yang mesti dibenahi. Sudah ada suara sebagai sinyal dan handrail sebagai pegangan. Namun belum ada sinyal lampu berkedip yang lebih bisa dilihat oleh mata sebagai penanda untuk menunjukkan penumpang lift penuh. Hal ini sangatlah penting terlebih dengan predikat Solo sebagai kota Inklusi tentunya juga ramah difabel.
Sepertinya masalah aksesibilitas lift masih perlu dievaluasi dan disosialisasikan, baik di tingkat pemangku kebijakan juga para pelaksana pembangunan. Kembali kepada konsep Universal Design yang aksesibel bagi semua. “Hal-hal yang menyangkut pengalaman di atas harus mulai diperhatikan dan menjadi kebijakan yang dipersyaratkan untuk fasilitas ruang publik. Universal design harus jadi kebijakan yang menyertai Solo sebagai kota Inklusif. Saya ikut miris kalau melihat teman-teman berkebutuhan khusus, karena ketidaktersedianya fasilitas yang membuat mereka tidak merasa telah dinomorduakan, “tutur Dhian Hastuti, pengajar desain interior di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

The subscriber's email address.