Lompat ke isi utama
Wahyono

NPC Membuka Diri untuk Tingkatkan Kualitas Atlet Paralimpik

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo dalam sambutan pelepasan atlet yang akan berlaga di Asean Para Games (APG) Myanmar menyatakan jumlah atlet yang berlaga kali ini lebih besar dibanding APG lalu. Bahkan saat itu APG dilaksanakan di Solo, namun dari segi kuantitas atlet yang berlaga kali ini justru lebih besar. Hal ini menjadi sebuah pencapaian yang patut diapresiasi dari kinerja National Paralympic Committee (NPC).

Ditemui di sela-sela acara, Wahyono pengurus NPC Jawa Tengah (Jateng) berbincang mengenai peningkatan kualitas organisasi yang menaungi atlet paralimpik ini. Menurut pria asal Boyolali ini salah satu kesuksesan NPC dalam perekrutan atlet adalah dengan membuka diri. Dia menegaskan bahwa organisasi tanpa membukadiri tidak akan bisa berkembang secara optimal. Langkah menggandeng media, masyarakat maupun lembaga pendidikan menjadikan NPC mampu menggali bakat-bakat atlet paralimpik baru yang bisa dikembangkan untuk mengharumkan nama bangsa.

Bangun komunikasi dengan masyarakat dan orangtua difabel

Saat ini upaya NPC dalam mencari bakat-bakat baru atlet paralimpik tidak lepas dari komunikasi. Bentuk komunikasi yang dilakukan di antaranya adalah meyakinkan orangtua untuk mendukung kemampuan anak. Selain itu NPC Jateng juga berperan memberi masukan maupun mengingatkan organisasi difabel agar dikenal public, masyarakat juga orangtua difabel.

“Jangan punya rasa malu, difabel maupun nondifabel kita punya hak yang sama. Tinggal bagaimana kepedulian rekan-rekan,” tegas pengurus di Biro Hukum NPC Jateng ini.

Selain menggali bakat-bakat baru, upaya lain yang dilakukan NPC adalah melakukan pembinaan pengurus cabang serta mengoptimalkan pelatihan atlet. Dengan ini harapannya bakat-bakat potensial ini mampu dikembangkan secara optimal sehingga mereka mampu berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional.

Selain itu besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat umum bagi dunia disabilitas juga harus ditanggapi secara serius oleh NPC. Adanya kejuaraan-kejuaraan paralimpik nasional menjadi pintu untuk mengenalkan atlet-atlet daerah.

“Antara pengurus cabang harus proaktif dan membentuk komunikasi dan terbuka. Ini menjadi perkembangan baik dengan adanya Popcanas maupun Percanas sehingga atlet daerah bisa memacu prestasi,” tambahnya lagi.

Kesiapan Menghadapi APG Myanmar

Ketika ditanya lebih lanjut tentang persiapan atlet dalam mengikuti APG ketujuh di Myanmar ini Wahyono menyatakan sudah bagus. Selama ini NPC sudah mengukur kesiapan tanding para atlet. Namun yang menjadi kendala meraih juara umum adalah keberadaan tim Thailand yang sampai saat ini dipandang masih cukup kuat.

Berkali-kali menggondol juara umum di ajang APG menjadikan Thailand sebagai lawan yang tangguh. Untuk itu Wahyono mengharap agar kali ini tim Indonesia mampu menggeser tim Thailand.

Sebagai catatan Thailand telah berkali-kali meraih juara umum APG. Bahkan pada APG 2012 di Solo lalu Indonesia terpaksa mengakui ketangguhan tim mereka dan meraih peringkat kedua. Atlet wheelchair racing Doni Yulianto dan Ahmad Saidah pernah menyebut salah satu factor yang menjadikan tim Thailand unggul adalah perhatian dari pemerintah yang sudah bagus. Selain pemerintah menyediakan sarana prasarana memadai seperti pengadaan kursi roda balap yang canggih, perhatian pemerintah bagi kesejahteraan atlet paralimpik juga sudah menjadi poin keberhasilan mereka.

The subscriber's email address.