Lompat ke isi utama
Gerkatin dan DVO sedang kampanye bahasa isyarat Bisindo di car free day jalan Slamet Riyadi, Solo.

Bisindo Bahasa Ibu bagi Tuli

Solider.or.id, Surakarta-Kampanye Gerakan Aku Cinta Bisindo kembali digalakkan oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) dan Deaf Volunteer Organization (DVO) di Car Free Day (CFD) Solo, Minggu (22/13).

“Gerakan ini baru lima bulan berjalan dan akhirnya Kemensos dan Kemendikbud  menyetujui melalui petisi. Harapan kami ada 10 ribu penandatangan petisi. Saat ini Gerkatin pusat dan Solo gencar melakukan kampanye,” ujar Muhammad Isnaeni, Ketua Gerkatin Solo.

Pada saat kampanye ada 25 tuli se-Solo Raya yang hadir menyemarakkan acara dengan kursus gratis dan memberikan selebaran kepada pengunjung stand Gerkatin. Selebaran tersebut berisi hal apa saja yang selama ini dilakukan oleh Gerkatin Solo dan DVO. Selain itu disediakan juga layanan internet di tempat untuk mengakses petisi melalui www.change.org.

 “Saat ini sudah ada 2700-an penandatangan petisi di seluruh Indonesia,” ujar salah seorang relawan DVO.

Harapkan Pemerintah Akui Bisindo

Ketua Gerkatin Solo, Muhammad Isnaeni mendorong dan meminta pemerintah untuk mengakui  bahasa isyarat alami yang sudah lama kaum tuli miliki yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).  Sistem bahasa yang diisyaratkan cetusan Kemendiknas (1994)atau SIBI telah gagal diterapkan. Kamus SIBI yang dibuat bukan oleh orang tuli dan tanpa melibatkan komunitas tuli bukanlah representasi bahasa isyarat orang-orang tuli di Indonesia.

Di tempat yang sama, Bias Hasby relawan dari DVO menjelaskan bahwa pemerintah telah menentukan kebijakan yang  tidak sesuai kebutuhan masyarakat tuli. “Harapan saya dari pemegang kebijakan sektor pendidikan mengakui keberadaan Bisindo tidak dengan melarang anak-anak SLB untuk berisyarat. Selama ini pendidikan di SLB menggunakan bahasa oral. Bahkan ada kasus pemukulan pada anak tuli di sebuah SLB. Di Indonesia paling banyak kasusnya di Wonosobo. Di Solo kasus pelarangan itu ada di Yayasan Rehabilitasi Tunarungu Wicara (YRTW). Di Solo masih ada SLB yang menggunakan SIBI,” papar Bias.

“Bahasa isyarat adalah bahasa yang setara dengan Bahasa Indonesia, dan memiliki sistem sendiri. Bisindo adalah bahasa ibu bagi tuli,”pungkas Muhammad Isnaeni.

 

 

 

The subscriber's email address.