Lompat ke isi utama
Salah satu penampil sedang pentas di malam puncak hari disabilitas internasional Jogja National Museum (19/12).

Bangun Kepedulian dan Inklusivitas dengan Seni

Solider.or.id. Yogyakarta. Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA)  berkolaborasi dengan Handicap International  menggelar malam puncak Disability Day di Jogja National Museum Kamis malam (19/12) pukul 19.00 sampai dengan 21.00 WIB.

Acara diisi dengan pentas seni inklusif dan penganugerahan disability award dan dihadiri sekitar 300 orang dari lintas disabilitas.

Pengisi acaranya antara lain Deaf Art Community (DAC) Yogyakarta, Dance Ability, Jape Mete Band dari Difable and Friends Community (Diff com), komunitas Capoeiera (Senzala) Yogyakarta, band Siswa Mental Retadation “Tanpo Aran” Gunung Kidul, Malmija, band difabel netra “Mardi Wuto” Yogyakarta, komunitas “home schooling” serta sanggar menari “Atta Queen”.

Penganugerahan difable award kepada mereka yang memiliki kepedulian terhadap para penyandang disabilitas. Empat anugrah difable award diserahkan kepada kepala desa Sidomulyo, Bantul, Eddy, sebagai salah satu pelopor desa peduli difabel yang sudah melahirkan peraturan desa (Perdes), Tribun Yogyakarta, sebagai media yang sensitif terhadap isu difabel,  salah seorang pekerja seni Broto Wijayanto pendamping DAC serta Saif Bulgani, seorang difabel pengusaha dari Kretek Bantul.

Tia, salah seorang penonton peduli difabel yang diiwawancarai penulis mengatakan, “Pertunjukan ini membuat saya menangis haru, bahagia, bangga, tertawa dan terkesan. Mereka yang selama ini dianggap tidak berarti dan termarginalkan, ternyata luar biasa dalam aksinya malam ini. Benar bahwa mereka sama seperti yang lainnya, hanya perlu diberikan kesempatan kepada mereka, kesempatan akan mengubah mereka menjadi sempurna,” ungkapnya.

The subscriber's email address.