Lompat ke isi utama
Juru bicara pengunjuk rasa, Abdul Rahman sedang memaparkan kronologis penyerobotan lahan SLB YPPLB Sudiang Makassar oleh oknum mafia tanah di depan pejabat Pemprov Sulsel, Selasa (17/12/2013)

Mahasiswa Tuntut Pengembalian Lahan SLB YPPLB Makassar

Solider.or.id, Makassar – Tanah Sekolah Luar Biasa Yayasan Pembina Pendidikan Luar Biasa (SLB YPPLB) 2 Makassar diserobot oleh mafia tanah. Hal tersebut mendorong puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa (HMJ-PLB) Universitas Negeri Makassar berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Jalan Urip Sumihardjo Makassar, Selasa (17/12).

Unjuk rasa yang dimulai sekitar pukul 11.00 WITA ini berlangsung tertib dan damai. Mahasiswa pengunjuk rasa mempertanyakan peran Pemprov Sulsel dalam melindungi aset milik pemerintah yang di atasnya berdiri SLB khusus bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Penyandang Tuna Grahita (Mental Retaldasi) sejak tahun 1980-an tersebut.

 “Lahan yang terletak di Kelurahan Sudiang Kecamatan Biringkanayya itu diperuntukkan bagi SLB YPPLB C 2, sebenarnya merupakan aset Pemprov Sulsel, tapi kok malah dibiarkan begitu saja diserobot oleh oknum mafia tanah yang mengaku-ngaku sebagai pemilik lahan,” ungkap Erwin, mahasiswa PLB UNM yang bertindak sebagai koordinator lapangan kepada wartawan.

“Lahan yang diklaim oleh penyerobot tanah tersebut adalah seluas 2,5 hektar dengan bukti kepemilikan mereka (penyerobot tanah) hanya berupa rincik, sedangkan bukti kepemilikan yang dipegang oleh Pemprov adalah sertifikat hak milik,” tambahnya.

Ada perlakuan kekerasan

Orasi mahasiswa diterima oleh Muh. Hardi Sanusi sebagai Kepala Bidang Fasilitasi Hubungan Antarlembaga di ruang aspirasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sulsel. Pada pertemuan itu, mahasiswa mengungkapkan bahwa penyerobotan tanah oleh orang yang diduga sebagai mafia tanah tersebut, ternyata sudah berlangsung sekitar lima bulan dan mereka kerap menggunakan cara-cara kekerasan yang mengakibatkan guru-guru, kepala sekolah, pihak yayasan dan siswa siswi SLB jadi ketakutan.

 “Bahkan kondisi terakhir di sana, lokasi sudah dipagari dengan kawat berduri dan seng plat oleh si mafia tanah. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, pemerintah harus bertindak tegas,” pinta Rahman di depan para pejabat kantor gubernur tersebut.

Pertemuan tersebut berakhir pada sekitar pukul 12.20 Wita dengan tanggapan bahwa pihak Pemprov telah melaporkan kasus penyerobotan itu ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulselbar dan tahapannya sudah dalam penyelidikan. Pihak Pemprov juga telah menyurat ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) agar segera melakukan pengembalian batas lokasi yang sebelumnya diserobot oleh mafia tanah tersebut. Para pejabat kemudian menghimbau mahasiswa tetap bersabar menunggu dan mengawal proses hukum dari pihak kepolisian.

Mahasiswa kemudian melanjutkan aksinya ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prov. Sulsel dan Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Makassar dengan tuntutan yang sama, agar kasus ini segera ditindaklanjuti secara hukum dan mediasi damai dari wakil rakyat.

The subscriber's email address.