Lompat ke isi utama

SMSR Yogyakarta Upayakan Optimalisasi Pelayanan Pendidikan Inklusi

Yogyakarta. Solider.  Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta atau SMKN 3 Kasihan yang beralamat di Jalan PG Madukismo berusaha mengoptimalkan penyelenggaraan pendidikan Inklusi. Bertempat di Ruang Rapat SMSR Yogyakarta, Selasa (10/9/2013) SMSR mengundang orang tua siswa inklusi untuk bersama-sama melakukan asessment tentang kebutuhan siswa berkebutuhan khusus yang berjumlah sepuluh siswa dengan tiga jenis difabilitas yaitu seorang siswa difabel low vision, seorang siswa difabel slow learner dan delapan siswa difabel rungu (deaf), sekaligus bersama-sama mengupayakan solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Pertemuan yang menghadirkan Pengawas Pendidikan Luar Biasa Daerah Istimewa Yogyakarta ini dihadiri oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala (Waka). Bidang Kurikulum, Waka Bidang Kesiswaan, Waka Humas, Guru Bimbingan Penyuluhan, enam ketua jurusan dari enam kompetensi yang ada, serta tujuh orang tua siswa inklusi ini merupakan salah satu wadah mencari jalan keluar dalam memberikan pelayanan bagi ke sepuluh siswa berkebutuhan khusus yang belajar di SMSR Yogyakarta.

Siswa inklusi merasa kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan oleh guru pada saat menjelaskan pelajaran rata-rata dialami oleh semua siswa difabel rungu, ditambah dengan keberadaan guru pendamping yang sangat terbatas mengharuskan sekolah mencari jalan keluar bersama. Dalam hal ini difabel rungu membutuhkan ketersediaan penerjemah bahasa isyarat (sign language interpreter) untuk mengoptimalkan pembelajaran di dalam ruang kelas maupun di luar ruang kelas.

Sedangkan kesulitan yang dihadapi oleh siswa low vision adalah pada ketiadaan alat bantu membaca dan guru pendamping khusus. Alat bantu berupa lensa optik (lensa pembesar) ataupun non-optik (buku tulisan besar) sangat dibutuhkan bagi siswa low vision. Melihat beberapa hambatan tersebut, kepala sekolah Drs. Rakhmat Supriyono, M.Pd. merasa perlu menyediakan layanan sesuai dengan kebutuhan siswanya, dengan harapan dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki siswa inklusi.

Berusaha Adaptif terhadap Kebutuhan Difabel

Sekolah bersepakat untuk menginklusikan seluruh gurunya dengan cara memberikan pelatihan bahasa isyarat bagi seluruh guru, dengan demikian diharapkan seluruh masyarakat di SMSR memberikan apresiasi yang lebih baik terhadap keberadaan siswa difabel rungu yang belajar bersama. Berikutnya dengan memasang memasang sign language di tiap-tiap ruangan, serta melakukan kerja sama dengan siswa dengan kompetensi patung untuk membuat patung isyarat abjad dari A hingga Z.

Langkah lain adalah mengajukan kepada Dinas Pendidikan bidang Pendidikan Luar Biasa untuk pengadaan penerjemah bahasa isyarat, sesuai kebutuhan, mengajukan penambahan GPK, mengajukan pengadaan alat optik maupun non-optik.  Yang tidak kalah penting menjadi agenda pembahasan adalah pengadaan pelajaran tambahan bagi siswa berkebutuhan khusus kelas XII yang akan menempun Ujian Nasional 2013/2014.

Lahirnya Forkasi SMSR Yogyakarta

Agenda selanjutnya memberikan peluang bagi orang tua siswa inklusi untuk membentuk sebuah Forum Komunikasi untuk melakukan terobosan mensosialisasikan inklusifitas di SMSR Yogyakarta, serta bersama-sama memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi. Pada hari itu juga Selasa, 10 September 2013 telah terbentuk Forum Komunikasi Siswa Inklusi (Forkasi) SMSR Yogyakarta yang akan bersama-sama dengan sekolah memajukan penyelenggaraan pendidikan Inkludi di SMSR.

The subscriber's email address.