Lompat ke isi utama
Seorang difabel tuli sedang memandu acara silaturahmi Gerkatin Solo di BBKPMS RS Paru,dengan bahasa isyarat

Gerkatin Solo Gelar Silaturahmi Keluarga Penyandang Tuli

Surakarta, solider- Bertempat di Aula Balai Besar Kesehatan Paru (BBKPMS) RS Paru  Jalan Prof.DR. Soeharso No.28 Solo, pada Minggu 15 September 2013 Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo menggelar acara silaturahmi keluarga besar penyandang tuli. Lebih dari 400 peserta dari Solo,Semarang, Yogyakarta, Mataram,dan Bandung turut memeriahkan acara tersebut. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 pagi hingga 13.00 ini mendapatkan antusiasme para peserta, terbukti dengan banyaknya hadirin yang meluber hingga di luar ruang pertemuan.

Ketua Gerkatin Solo, Mohammad Isnaeni mengatakan bahwa tujuan diadakannya acara ini adalah untuk silaturahmi dan sosialisasi kegiatan yang selama ini telah dilakukan oleh Gerkatin Solo, selain itu juga untuk memacu motivasi para tuli agar lebih maju. “Teman-teman tuli yang sebagian besar adalah generasi muda, mengalami perkembangan yang sangat pesat. Jika pada waktu-waktu lalu mereka hadir untuk motivasi mendapatkan uang (bantuan- red), maka saat ini mereka yang hadir benar-benar karena termotivasi untuk lebih maju, berkembang dalam kreativitas dan kebersamaan,” ujar  Mohammad Isnaeni yang didampingi oleh Rohmah, penerjemah bahasa isyarat, mahasiswi Pendidikan Luar Biasa FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS).

Mohammad Isnaeni berujar jika undangan disebar melalui media sosial seperti Facebook, surel (surat elektronik) serta SMS. “Hampir semua teman tuli saya sudah mengakses media sosial,”ujar Mohammad Isnaeni. “ Oh ya, biaya acara ini murni dari kas Gerkatin Solo dan peserta hanya diminta kontribusinya sebesar dua puluh ribu rupiah per orang sebagai pengganti kudapan, hadiah hadir (doorprize), dan makan siang,”imbuhnya.

Rakernas Gerkatin seluruh Indonesia yang bertempat di Bali pada 5 sampai dengan 9 September 2013 telah membantu sosialisasi program Gerkatin Solo yang sudah banyak melakukan kegiatan. Kegiatan Gerkatin Solo menjadi percontohan dari daerah lain, tak heran banyak yang datang dari luar daerah seperti Mataram dan Bandung.

Belum adanya database dari para tuli yang bergabung di Gerkatin Solo adalah salah satu kendala yang selama ini dirasakan oleh ketuanya Mohammad Isnaeni. “Kami belum mempunyai database atau pendataan profil yang lengkap dari para anggota. Kami hanya mempunya data yang minim seperti nama, alamat dan nomor kontak yang bisa dihubungi. Data tersebut  kami peroleh saat acara-acara seperti ini,”pungkas suami dari Dwi Maryamah yang juga difabel tuli dan bapak dari seorang putri ini.

The subscriber's email address.