Lompat ke isi utama

Aspek Aksesibilitas dalam World Toilet Summit 2013

Kota Solo akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Toilet Summit 2013 Oktober nanti. Kegiatan yang diselenggarakan tiap tahun ini membahas kebersihan, kesehatan, sanitasi, dan pentingnya toilet secara global. 

Kegiatan akan digelar pada 2 – 4 Oktober 2013 dengan tema “Rural Meets Urban Sanitation”. World Toilet Summit bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam peningkatan sanitasi yang lebih baik, guna mengurangi kemiskinan, mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan bersih baik di pedesaan maupun perkotaan[1]

Penyelenggaraan kegiatan meliputi menyatakan acara meliputi tiga hari summit, dua hari pelatihan untuk para pendamping (training on trainers), empat hari pameran, dan program sosial serta World Toilet Carnival. Isu utama event kali ini adalah tentang sanitasi ruang publik. Selain menjadi ajang promosi penggunaan toilet sehat, acara ini sekaligus juga menjadi ajang promosi pariwisata Kota Solo.

Toilet yang aksesibel

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum peningkatan sanitasi di ruang-ruang publik. Oleh karena itu, perlu pelibatan semua pihak termasuk penyandang disabilitas. Difabel memiliki kebutuhan akan sarana prasarana yang aksesibel, termasuk juga toilet. Beberapa kebutuhan toilet yang aksesibel di antaranya ruangan yang cukup bagi kursi roda, pintu yang cukup dilewati kursi roda, dan adanya handrail.

Kota Solo yang dikenal sebagai kota yang akrab dengan difabel tentu saja memiliki konsen khusus pada penyediaan toilet di ruang-ruang publik yang aksesibel. Hal ini  menjadi relevan mengingat Solo sendiri telah memiliki Perda tentang Kesetaraan Difabel Nomor 2 Tahun 2008. Produk hukum ini memuat peraturan penyediaan fasilitas publik sebagai salah satu bentuk implementasinya. Aksesibilitas toilet menjadi sebuah urgensi dalam hal penjaminan fasilitas kepada difabel.Sejauh ini keberadaan toilet di bangunan-bangunan publik yang aksesibel difabel masih sangat minim. Kebutuhan toilet yang mampu sepenuhnya diakses oleh difabel belum menjadi perhatian. Akibatnya, kebutuhan difabel akan sanitasi terhambat.

Penyediaan kebutuhan akan sanitasi ini sangat penting untuk menunjang kesehatan. Apa jadinya ketika difabel tidak bisa mengakses toilet ketika berada di fasilitas publik seperti gedung pemerintah, mall, gedung perkantoran yang lainnya.Aspek aksesibilitas ini perlu menjadi perhatian penyelenggara World Toilet Summit 2013.  Pelibatan perwakilan dari teman-teman komunitas difabel penting untuk menyerukan aspirasi tentang toilet yang aksesibel bagi semua.

 

 

 

 

 

[1] Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia (ATI). Dikutip dari http://www.jurnas.com/news/101279/Indonesia_Tuan_Rumah_World_Toilet_Summit_2013/1/Sosial_Budaya/Lingkungan

 

The subscriber's email address.