Lompat ke isi utama
Atlet wheelchair racing sedang berlatih di Stadion Sriwedari

Minim Perhatian, Atlet Paralimpic Masih Terpinggirkan

Surakarta, solider.or.id – Menghadapi ASEAN Para Games (APG) 2014 di Myanmar mendatang, sejumlah atlet melakukan latihan di Stadion Sriwedari Surakarta. Di antaranya adalah Doni Yulianto (25) dan Ahmad Saidah (33) atlet wheelchair racing (balapan kursi roda-red). Mereka tetap semangat walaupun sedang menjalani ibadah puasa. Senin (22/7) sore mereka mengayuh melintasi 16 lap dalam waktu 21 menit. Hanya mereka berdua inilah atlet dari Indonesia yang akan berlaga dari cabang olah raga ini.

“Kita sedang latihan kekuatan dan stamina, bukan kecepatan,” tutur Doni, peraih medali emas kelas T54 Peparnas Riau 2012. Sementara rekannya Ahmad Saidah adalah peraih medali emas kelas T53 Peparnas Riau 2012.

Menurut Ahmad, kelas T54 adalah kategori pemakai kursi roda dengan kekuatan pinggang kuat, sementara kelas T53 adalah kategori pemakai kursi roda dengan kekuatan pinggang yang mencapai 50 persen saja.

“Atlet kelas T52 saat ini Indonesia masih belum punya,” jelas Ahmad.  T52 adalah kategori pemakai kursi roda dengan disabilitas tangan dan kaki.

Dalam sesi latihan kali ini Doni menggunakan kursi roda milik National Paralympic Committees (NPCs) Indonesia sedangkan Ahmad menggunakan kursi roda miliknya sendiri. Ketika ditanya lawan mana yang dianggap paling tangguh mereka kompak menjawab Thailand. Salah satu faktor keunggulan tim Thailand adalah peralatan yang dimiliki jauh lebih canggih. Hal ini sudah diketahui oleh Kemenpora sejak lama, tetapi sampai saat ini belum ada langkah untuk mengantisipasinya.

Selain faktor peralatan, para atlet paralimpic juga merasa di-anaktiri-kan dengan minimnya perhatian dari pemerintah. Fasilitas dan bonus yang mereka dapatkan jauh dibandingkan dengan atlet non-paralimpic,padahal mereka juga sama atlet yang berlaga untuk mengharumkan nama bangsa.

Mereka berharap kesejahteraan atlet paralimpic juga lebih mendapat perhatian dari pemerintah. “Kalau Thailand pemerintahnya berani modal, kesejahteraan atlet juga terjamin. Antara atlet difabel dan non-difabel tidak dibedakan. Selain itu, kursi roda mereka juga lebih canggih, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah,” jelas Doni. Sementara,untuk kaderisasi atlet sudah berjalan dengan baik. Ada banyak even oleh Masyarakat Penyandang Cacat (MPC)  yang banyak diikuti  alumni Sekolah Luar Biasa (SLB),kemudian menjadi atlet difabel.

 

The subscriber's email address.