Lompat ke isi utama
Diskusi Kota Layak Difabel dan Manula di Lingkungan Kota Yogyakarta

Diskusi Kota Layak Difabel dan Manula di Lingkungan Kota Yogyakarta

YOGYAKARTA. SOLIDER. Tim Peneliti Fakultas Geografi UGM bekerja sama dengan Organisation Handicap Nasional (Ohana) melakukan kegiatan diskusi dengan beberapa organisasi difabel yang ada di Yogyakarta, pada Senin (22/7) bertempat di Kantor Lembaga Ombudsman Daerah (LOD DIY), Jl. Tentara Zeni Pelajar No. 1A Pingit Kidul Yogyakarta.  

Focus Group Discussioin (FGD) ini merupakan  salah satu kegiatan dari rangkaian riset dengan tema Kota Layak Difabel dan Manula, studi kasus pergerakan difabel dan manula di lingkungan kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebuah riset hibah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dari Dirjen Pendidikan Tinggi Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

Diskusi ini melibatkan perwakilan Difable People Organisation (DPO) khusus difabel penyandang difabel daksa, seperti Ohana, Sigab, Sapda, dan Cikal dan dipandu fasilitator FGD, Angga dari Ohana. Pertemuaan ini bertujuan memetakan pergerakan infrastruktur dan aksesibilitas fisik pada fasilitas publik di berbagai elemen layanan publik di lingkungan kota Yogyakarta serta mengakomodasi kebutuhan difabel yang  belum terpenuhi.

Pemberian angket di awal acara dilakukan untuk mengetahui kegiatan rutin yang dijalankan oleh para penyandang disabilitas. Selain itu, hal mengenai kesesuaian fasilitas publik bagi kaum difabel, kelayakan infrastruktur kota Yogyakarta bagi difabel, alat transportasi, serta kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap kaum difabel penting untuk data riset ke depannya. Tindak lanjut angket ini kemudian adalah supaya bisa menganalisa dan memetakan berbagai permasalahan yang ada pada setiap fasilitas publik di kota Yogyakarta yang berkaitan dengan hak dasar difabel. Aksesibilitas atas hak dasar tersebut mencakup layanan publik seperti di rumah sakit, sarana pendidikan, sarana transportasi, tempat  wisata, tempat ibadah, kantor kecamatan dan kantor kelurahan, Dinas Sosial, terminal, bandara, halte, taki,Trans Jogja, kereta api, pesawat udara, dan traficlight.

Hasil Pemetaan Diskusi 

Diskusi interaktif ini banyak membahas inklusivitas Kota Yogyakarta, yang pada kenyataannya masih saja belum memenuhi standar aksesibilitas. Hampir semua pembangunan infrastruktur fasilitas publik belum menyentuh keberadaan dan kebutuhan difabel. Contohnya adalah pembangunan ramp di berbagai bangunan hanya sekedar ada, kegunaannya masih sangat minim dari kata aksesibel. 

Fasilitas penting seperti toilet di berbagai tempat pariwisata, perkantoran, tempat-tempat ibadah juga masih jauh aksesibel. Jalan juga belum memenuhi standar yang mudah diakses difabel. Guiding block yang belum merata, banyaknya polisi tidur yang menyulitkan difabel netra adalah beberapa temuan fasilitas yang belum inklusif. Tempat-tempat wisata juga masih menyimpan keluhan dari para difabel. Misalnya, hampir semua tempat rekreasi (pantai, candi, gunung) tidak bisa diakses dengan mudah oleh para difabel dan  tempat parkir terlalu jauh dari lokasi wisata.

Dr. M. Baiquni, M.A., dosen Fakultas Geografi UGM, sekaligus Ketua Tim Peneliti/Riset “Liveable City untuk Difabel dan Manula Studi Kasus Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta” menuturkan,  “Kota Yogyakarta ini sudah ada kebijakan, akan tetapi implementasinya masih sangat kurang. Hal tersebut yang mengakibatkan semua kebijakan tidak berjalan dengan semestinya. Hasil pemetaan yang sudah dilakukan dalam diskusi akan disampaikan pada DPRD kota Yogyakarta sebagai penentu kebijakan.”

The subscriber's email address.