Lompat ke isi utama
Dra. Sri Saptaningsih, MM, manager inklusi SMKN 8 Surakarta sedang berfoto di ruang BK sekolah tersebut.

SMKN 8 Surakarta, Pelopor Sekolah Menengah Kejuruan Inklusif

Surakarta, solider.or.id- Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8 (SMKN 8) Surakarta yang dahulu bernama Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) adalah sekolah inklusif pertama di Indonesia  sejak tahun 1999. Di tahun itu, dua siswa penyandang disabilitas netra masuk di jurusan karawitan dan seni musik.

Sri Saptaningsih selaku manajer inklusi SMKN 8 Surakarta berujar, “Siswa difabel lulusan dari sekolah ini banyak yang berhasil dalam karir dan mereka sangat mandiri. Salah satunya ada yang mempunyai event organizer (EOlalu ada yang sukses berdagang dan melanjutkan kuliah serta ada yang tengah menyelesaikan skripsi. Saat ini kami mendidik sebelas siswa inklusi. Mereka terdiri dari enam siswa disabilitas netra dan low vision, satu siswa penyandang autism, satu siswa tuli, dan dua siswa difabel daksa.

Ada dua peserta didik berprestasi di Olimpiade Sains Nasional (OSN) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 yang berasal dari  SMKN 8 Surakarta. Afif Lutfirahma (16), penyandang disabilitas netra siswa kelas XA jurusan seni musik (seni pertunjukan) baru-baru ini mendapat penghargaan juara II pada Olimpiade Sains Nasional (OSN)  Jawa Tengah bidang studi matematika. Prestasi serupa juga diraih oleh Farida (18) penyandang tuli, siswi kelas XD jurusan tari meraih juara II bidang studi IPA. Menurut Helena Nawa Retnowati (53) yang menjadi guru pendamping Farida saat lomba menyatakan bahwa Farida termasuk siswi yang mempunyai kemauan keras untuk maju. “Pendidikan IPA untuk SMK adalah tentang pendidikan lingkungan hidup, lain dengan pelajaran IPA di SMA yang meliputi Biologi, Fisika, Kimia. Jadi jika Farida bisa menjuarai olimpiade itu, bagi kami sebuah prestasi luar biasa,” ujar Helena saat wawancara.

Mendidik dengan Hati

Solo menjadi satu-satunya kota yang membuka pendaftaran siswa baru jalur keluarga miskin (gakin) saat  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK Surakarta belum resmi dibuka. SMKN 8 telah menerima 12 pendaftar. “Jalur Gakin yang mendaftarkan adalah dari pihak sekolah (SMP) yang bersangkutan dan harus penduduk Solo serta ada keterangan miskin yang terekomendasi. Tentu calon peserta didik itu adalah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan  Masyarakat (Jamkesmas) atau Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS) Platinum. Biaya sekolah gratis karena sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah kota. Semakin miskin, maka peluang untuk diterima akan semakin besar,” ungkap Sri Saptaningsih saat ditanya tentang syarat pendaftaran. Jumlah kuota peserta didik dari Gakin adalah sejumlah sepuluh persen dari keseluruhan siswa yang diterima.

“Falsafah kami adalah seperti penjual peti mati atau penjual batu nisan.  Bisa diartikan begini, kami tidak lebih suka jika banyak siswa inklusi sekolah di sini. Tetapi kami selalu siap menerima berapa pun siswa inklusi yang mendaftar di sekolah kami tentu setelah lolos seleksi,” jelas Sri Saptaningsih mengungkap penerapan sekolah insklusif di SMKN 8 Surakarta.

Saat ditanya tentang kesiapan kota Solo menjadi kota inklusif, Sri Saptaningsih menyatakan bahwa pihaknya telah siap sejak dulu. “Jika sekolah lain masih mempermasalahkan sarana dan prasarana dan bagaimana dengan guru pendamping khusus,  maka kami telah melaksanakan terlebih dahulu. Bagi kami dari semua itu yang terpenting adalah bagaimana kesiapan kita mendidik siswa-siswi inklusi dengan hati,” pungkas Sri Saptaningsih.

The subscriber's email address.