Lompat ke isi utama
Pers Conference dengan Sri Lestari (39), Gadis yang sudah 16 tahun menjadi Paraplegia

Titik Balik Kehidupan Paraplegia dan Perjuangannya Mewujudkan Mimpi

YOGYAKARTA. SOLIDER. Sri Lestari (39), akrab dipanggil Tari adalah sosok gadis paraplegia yang sangat mandiri dan percaya diri. Keberaniannya bermimpi dan mewujudkannya diantara keterbatasan yang dimiliki, sangat menginspirasi. Gadis itu ingin meyakinkan semua mata, bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan ketika hidup masih punya pengharapan. Dalam pers conferennya, Selasa, 7 Mei 2013, wanita yang mengenakan jilbab itu mengutarakan keinginannya untuk mewujudkan mimpinya. Melakukan perjalanan melintasi Jawa – Bali dengan sepeda motor modifikasinya, adalah salah satu mimpinya. “Saya ingin menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan berbeda di Indonesia dapat hidup bebas, mandiri, produktif dan bahagia” katanya. Berbagi cerita kepada sesama paraplegia, dialog dan supporting pada tiap kota yang dilewatinya menjadi bagian dari perjalanannya.

Mimpi tidak dibatasi oleh latar belakang sosial, keadaan ekonomi keluarga maupun keterbatasan fisik. Siapa saja harus berani punya mimpi dan berjuang mewujudkannya.

Kecekaan tunggal yang dialami pada 1997, saat usianya 23 tahun, membuatnya menjadi seorang paraplegia. Namun, semangat dari dalam dirinya sendiri dan dukungan keluarga yang besar membuatnya mampu melewati setiap kesulitan yang singgah. Keterbatasan gerak karena paraplegia, tidak menghalanginya untuk beraktivitas. Dia tetap melakukan aktivitas di dalam rumah, membantu pekerjaan orang tuanya, seperti menjemur padi juga dapat dijalaninya.

Sulitnya mengakses transportasi publik menjadi salah satu yang melatar belakangi keinginannya untuk memiliki transportasi sendiri. Dari sini mimpi itu dimulai. Sebuah mimpi yang menjadi titik pembuka simpul stigma dan paradigma yang sekian lama terbangun diantara penyandang paraplegia dan keluarganya. Stigma negatif yang melekat bahwa paraplegia, tidak bisa melakukan apapun, cukup disembunyikan saja di rumah tanpa perlu aktivitas, aksesibilitas, apalagi komunitas.

Tahun 2007 Tari mendapatkan bantuan kursi roda dari UCP Whells for Humanity. Sebuah organisasi international yang mengadvokasi hak penyandang disbilitas di negara-negara berkembang. Tari mulai melakukan interaksi dengan dunia luar, mulai menjadi voulenteer untuk anak-anak tuna netra dan korban gempa. Hingga akhirnya pada 2009 dirinya mendapat bantuan motor dari seorang temannya di Belanda. Sebuah bengkel sepeda motor berhasil memodifikasi motor tersebut, dimana hal itu merupakan titik balik hidupnya. Saya mulai bekerja di UCP Roda Untuk Kemanusiaan (UCPRUK) hingga sekarang ini, tuturnya.

Lebih lanjut Tari menuturkan tentang pentingnya edukasi diri sendiri pasien paraplegia. Kesadaran bahwa pasien paraplegia harus bisa memahami kebutuhannya, memperlakukan dirinya, menjadi bagian penting dari hidup paraplegia menuju tingkat kesehatan yang tinggi dan pola hidup sejahtera, madiri, dan menikmati hidup bahagia. Tak kalah penting adalah dukungan dari keluarga sangat berperan dalam kehidupan paraplegia.

Tidak dipungkiri banyak sekali penderita paraplegia yang dibebani perasaan malu untuk keluar rumah. Hal tersebut pernah saya alami, saya hanya sebagai penjaga rumah saja ketika itu. Namun dukungan emosional keluarga, cara memahami perasaan saya sebagai penderita paraplegia, membuat semangat dan kepercayaan diri saya tumbuh kuat. Pemahaman dan kesempatan dari anggota keluarga lain yang diberikan agar saya tetap menjadi seseorang yang berarti membuat saya meninggalkan paradigma sesat tadi. Hidup saya, apapun yang saya lakukan harus menjadi inspirasi, membuat perubahan. Saya memulai langkah dengan membuka diri, membuka akses dengan banyak teman. Saya menceritakan keadaan saya dengan seorang teman, bahwa paraplegia memiliki rahasia yang tidak semua berani mengungkapkannya. Paraplegia tidak bisa merasakan ketika BAK maupun BAB, tapi sedapat mungkin paraplegia harus mampu merawat dirinya sendiri. Aktivitas pribadi seperti toileting dan kebiasaan-kebiasaan untuk tetap hidup sehat saya lakukan sendiri. Bersama keluarga dan teman-teman, saya membangun kehidupan inklusif, seperti bercerita, bermain dan hidup secara positif diantara mereka. Demikian Tari mengakhiri sharingnya. (hnw).

The subscriber's email address.