Lompat ke isi utama
Mengoptimalkan Potensi Gerak Fungsional Penyandang Disabilitas ‘Cerbral Palsy’ dengan ‘Home Exercise Program”

Mengoptimalkan Potensi Gerak Fungsional Penyandang Disabilitas ‘Cerbral Palsy’ dengan ‘Home Exercise Program”

YOGYAKARTA. SOLIDER. Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Yogyakarta, mengelar acara rutin bulanannya pada Minggu, (28/4) di Lobby Gedung DPRD Kota Yogyakarta,  Jl Timoho no 42, Yogyakarta. Sebanyak tujuh puluhan keluarga hadir dalam kegiatan ini. Mereka sangat berantusias menyimak informasi yang disampaikan oleh nara sumber, Wahyu Ambarwati Utari, AMF, Balai Besar Rehabilitasi soial Bina Daksa Prof. DR soeharso Surakarta pada diskusi dan pelatihan dengan tema mengoptimalkan Gerak fungsional Difabel CP dengan Home Programe Exercise.

Mengawali pelatihan Ambar sebagai nara sumber menyampaikan “Anak-anak bukan milik kita, mereka adalah putra-putri sang hidup yang merupakan amanah yang dititipkan pada kita. Titipan yang sepesial hanya akan diberikan pada orang-orang yang special pula. Jadi mari kita jaga mereka, karena sedikit kemajuan adalah kebahagiaan yang luar biasa” Jangan berhenti melakukan latihan untuk anak-anak kita.

Ambar juga menyampaikan bahwa CP diklasifikasikan berdasar kerusakan gerakan yang terjadi, yang terbanyak adalah CP Spastik, berkisar 70-80% dari total penyandang CP. Kasus yang terjadi Otot kaku permanen, jika kedua tungkai spastisitas (kaku), pada saat seseorang berjalan, kedua tungkai tampak bergerak kaku dan lurus. Karakteristik ini membentuk ritme berjalan yang dikenal sebagai gait gunting (Scissors gait).

Cerebral Palsy, dibagi lagi berdasarkan jumlah ekstremitas atau anggota gerak yang terkena, yang berhubungan dengan kerusakan di pusat otak. Yaitu Plegia artinya lumpuh. Plegia dikategorikan lagi menjadi,  monoplegi yaitu bila hanya satu anggota gerak saja, biasanya terjadi pada lengan. Diplegia, yang terkena empat anggota gerak sekaligus, tapi kedua kaki lebih berat daripada kedua tangan.  Triplegia, tiga anggota gerak yang terkena, kasus paling banyak adalah mengenai kedua lengan dan satu kaki, dan Quadriplegia, ini mirip dengan diplegia karena yang terserang keempat anggota gerak, namun yang membedakan derajat beratnya, serta Hemiplegia kekekakuan mengenai salah satu sisi atau separuh dari tubuh, biasanya lengan yang terkena lebih berat.

CP Atetoid/Diskinetik, kasus CP ini terjadi 10-20 persen. Karakteristiknya: gerakan menulis yang tidak terkontrol dan perlahan. Gerakan secara medis dikatakan abnormal ini mengenai tangan, kaki, lengan atau tungkai dan pada sebagian besar kasus terjadi pada otot muka dan lidah, sehingga menyebabkan anak tampak menyeringai dan selalu mengeluarkan air liur. CP ataksid, jarang dijumpai. Tapi prinsipnya mengenai keseimbangan dan persepsi dalam. Biasanya ditandai dengan koordinasi yang buruk, jalan tidak stabil dengan gaya berjalan kaki terbuka lebar, meletakkan kedua kaki dengan posisi yang berjauhan, kesulitan melakukan gerakan cepat dan tepat seperti kesulitan Menulis dan mengancingkan baju, dan ada pula, CP campuran, bentuk campuran yg sering dijumpai adalah spastic (kaku) dan atetoid.

Sebagai selingan dan menyegarkan suasana Ambar memberikan pertanyaan kepada para peserta, dan bagi peserta yang berhasil menjawab pertanyaan mendapatkan doorpize berupa buku Panduan tentang Tumbuh Kembang Anak.  Acara dilanjutkan dengan mempraktekkan cara melakukan teraphy pada anak-anak CP, Ambar mempraktekkan pada seorang anak CP bernama Haidar yang hadir dalam diskusi tersebut, yang ditirukan oleh beberapa orang tua yang mempraktekkan teraphy pada anak-anak mereka. Teraphy tidak bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan, oleh sebab beberapa anak menangis, dan tidak tersedianya lotion untuk melakukan teraphy.

Menutup prakteknya Ambar berpesan agar orang tua selalu memakaikan sepatu AFO (Ankle Foot Orthosis) sesering mungkin, selama mungkin terutama pada saat anak sedang tidur, agar ketika bangun tidur kaki anak tidak kaku ke arah depan melainkan pada posisi kaki yang benar. Jangan lupa lakukan pemijatan terlebih dahulu sehingga anak merasa nyaman ketika menggunakan AFO, dan akan menjadi kebiasaan untuk selalu menggunakan alat tersebut. Ambar mengakhiri diskusinya.

Koordinator WKCP, Anis Sri Lestari dalam wawancaranya menyampaikan bahwa WKCP ini adalah sebuah wadah atau forum yang sifatnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan berbagi, tidak menutup kemungkinan bagi keluarga yang dengan disabilitas yang lain, seperti Autis dan lain sebagainya. WKCP berdiri sejak Maret 2011 dengan dua belas pengurus, yang diantaranya memiliki anak CP. WKCP mulai melakukan kegiatan berbagi bersama keluarga CP semenjak bulan Desember 2011. Sampai dengan saat ini sudah sebanyak 99 keluarga terdata menjadi anggota WKCP.  

WKCP menjalin kerjasama dengan RS Akademik UGM (RSA UGM). Setiap tiga bulan sekali WKCP difasilitasi oleh RSA UGM untuk melakukan kegiatannya di tempat tersebut. RSA UGM memberikan fasilitas berupa tempat, narasumber, snack dan kontribusi bagi para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.  Kerja sama juga dijalin dengan Rumah Therapy Harapan Bunda yang beralamat di Jl. Kaliurang km 8,5. Apabila orang tua membutuhkan bantuan teraphy bagi putra-putrinya bisa datang di rumah teraphy tersebut. Bagi keluarga yang tidak mampu dan menjadi anggota di WKCP hanya akan dikenakan biaya teraphy sebesar Rp. 25.000,- dari biaya teraphy Rp. 60.00-,- dengan menunjukkan surat keterangan dari RT setempat dan rekomendasi dari WKCP Yogyakarta. Sedangkan bagi keluarga yang mampu hanya akan dikenakan biaya Rp. 35.000,- dengan menunjukkan rekomendasi dari WKCP Yogyakarta.

Adapun yang menjadi tujuan dari WKCP adalah saling berbagi semangat dalam merawat anak-anak dengan disabilitas CP. WKCP merupakan forum belajar dengan nara sumber maupun keluarga lainnya, yang tidak menutup kemungkinan untuk menerima masukan-masukan dari para anggota yang hadir. Kerusakan pusat (baca: otak) yang dialami satu anak CP dengan yang lain berbeda-beda, tergantung seberapa besar kerusakan yang terjadi. Berbeda jenis CP nya, berbeda juga kebutuhan dan berbeda pula penanganannya. Itu alasannya mengapa diskusi dan pelatihan semacam ini diadakan. WKCP berkantor di Jl. Ahmad Dahlan No. 123 Yogyakarta, telphone 08175459689. Mengakhiri wawancaranya Anis menambahkan pertemuan WKCP bulan Mei akan diunduh oleh Forum Keluarga Penyandang CP Kulon Progo (FKPCPKP) pada tanggtal 18 Mei 2013 di Pendopo Kecamatan Naggulan Kulon Progo.

Pasangan keluarga yang berhasil diwawancarai, Surani dan Siswanto datang jauh-jauh dari Kemudo Prambanan Klaten, membawa putrinya usia 4 tahun, Nadhira Alya Asmarani menuturkan, “kami rutin mengikuti kegiatan WKCP, dan melakukan teraphy di RS Sardjito seminggu dua kali. Jadi kegiatan ini sangat bermanfaat buat kami keluarga yang memiliki anak dengan Cerebral Palsy. Sekarang anak saya sudah sedikit ada perkembangan, tadinya hanya tergolek lemas, sekarang sudah bisa tengkurap, telinga bagian kanan mulai bisa mendengar. Nadhira pada awalnya lahir normal, ketika berusia dua bulan mengalami pendarahan otak yang oleh dokter dinyatakan hal tersebut disebabkan oleh trauma pijat, yang biasa dilakukannya ke seorang dukun pijat bayi. Nadhira harus diooperasi untuk membersihakn darah yang ada di otaknya ketika usianya dua bulan, dan dirawat di Rumah Sakit Sardjito selama satu bulan penuh. Keluarga ini menggunakan Kartu Jamkesmas untuk pengobatan putrinya, sehingga semua biaya ditanggung oleh Jamkesta”. Demikain pasangan keluarga ini menuturkan kepada kontributor Solider. (hnw)

The subscriber's email address.