Lompat ke isi utama
Anindya Adnin Mutia  (13) duduk di kursi roda diapit oleh teman-teman sekolahnya

Buruknya Layanan Membuat Keluarga Penyandang Disabilitas Trauma Ke Rumah Sakit

Klaten, solider.or.id – Memiliki pengalaman yang buruk saat mengakses layanan kesehatan bagi kedua putra-putrinya yang berkebutuhan khusus membuat keluarga Tina Kurniati (39) trauma. Ibu 3 anak warga Sentono RT. 33/ RW. 14, Ngawonggo, Ceper, Klaten ini menuturkan pengalamannya pada contributor Solider Kamis (11/4). Anindya Adnin Mutia (13) putri pertama Tina lahir sebagai penderita Osteogenesis Imperfecta (OI). OI adalah kelainan tulang yang langka dimana tulang menjadi getas dan mudah patah.

Sejak lahir hingga sekarang menginjak kelas 2 SMP gadis ini rawan jatuh dan sering mengalami patah tulang. Dari berbagai info yang dikumpulkan, Tina menemukan ada sebuah rujukan medis yang dirasa tepat untuk Anin yaitu di Klinik Endroklinologi RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Namun hal ini belum bisa dilakukan karena kendala biaya dan tempatnya di Jakarta, “Anin memerlukan injeksi rutin dan perlu dilakukan seumur hidup,” tambahnya.

Menurut ibu Tina, sejak lahir ini putrinya lebih banyak berada dalam penanganannya. Dokter dan perawat di rumah sakit justru takut memegang bayi yang mudah mengalami patah tulang ini. Hal yang saat ini masih menjadi kekecewaaannya adalah pihak rumah sakit cenderung abai, tidak memberi saran ataupun solusi penanganan bayi dengan OI sejak awal. Akibatnya Anin mendapat penanganan yang salah sejak awal, hal ini membuat kondisinya memburuk, tulang-tulang yang patah tidak kembali seperti sebelumnya. “Orang sering heran melihat badan Anin yang tidak karuan bentuknya,” jelas Tina. Saat ini gadis yang pintar menggambar dan menulis tersebut tidak bisa berjalan dan harus duduk di atas kursi roda, padahal waktu kecil dia bisa berdiri.

Beberapa saran dokter tempatnya berkonsultasi justru semakin membuat Tina ketakutan. Pernah ada dokter yang menyarankan supaya Anin menjalani operasi untuk merekonstruksi posisi tulang-tulangnya yang pernah patah. Hal ini membuatnya berfikir ulang dan membatalkan niat melakukan tindakan medis lebih lanjut. Selain tidak tega membayangkan rasa sakit yang harus dialami putrinya, kondisi khusus yang dimiliki Anin rekonstruksi tulang justru bisa membahayakan nyawanya. Dari pengalamannya diketahui gadis yang beranjak remaja ini memiliki sejumlah alergi seperti overprotein.

Rangkaian kejadian buruk dengan penanganan medis membuat Tina dan keluarga menjadi trauma berurusan dengan rumah sakit. Ketika lagi-lagi tulang sang putri patah  ibunya sendirilah yang membebat dan memberikan obat. Penanganan medis yang dilakukan hanya sejauh berobat pada dokter keluarga. Biaya berobat ke dokter masuk dalam Askes sang ayah yang PNS.

Untuk mengurangi resiko kecelakaan, beberapa langkah preventif dilakukan dengan memberi penyadaran pada Anin mengenai kerapuhan tulang-tulangnya. Dengan langkah ini diharapkan resiko kecelakaan yang akibat aktivitas sehari-hari dapat diminimalisir.

Trauma bertambah ketika putra kedua, Wiar Samudra (10) diketahui mengidap Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). ADHD adalah peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. Saat umur setahun dokter salah mendiagnosa Wiar menderita hernia sehingga terpaksa dioperasi. Biaya operasi masih dijamin oleh Askes sang ayah. Askes jugalah yang menjamin biaya therapy yang dijalani putra kedua Tina ini.

Dengan serangkaian kejadian buruk yang dialaminya, kini Tina dan keluarganya mengaku mengalami trauma berobat ke rumah sakit. Saking takutnya keluarga ini lebih memilih menggunakan obat-obat herbal dan tradisional ketika sakit.

Sebagai ibu dengan 2 anak penyandang disabilitas, Tina berharap ada jaminan kesehatan yang mampu meningkatkan kualitas kesehatan putra-putrinya. Perempuan lulusan IKIP Negeri Yogyakarta ini juga mengharap ada upaya advokasi sehingga penyandang disabilitas dapat mengakses jaminan layanan kesehatan. Selain itu diharapkan adanya layanan medis yang ramah terhadap penyandang disabilitas. 

The subscriber's email address.