Lompat ke isi utama
Komunitas Wahana Keluarga Cerebral palsy (WKCP) yang berdiskusi di Dalem Pakuningratan.

Sahal, Cerebral Palsy Mampu dan Mandiri

“Memiliki anak Cerebral Palsy bukan akhir segalanya. Akan selalu ada harapan,” . Kalimat tersebut diungkapkan oleh Sri Destari, seorang ibu asal Yogyakarta.

Sahal Rais Mahmuda (13) adalah putra sulung Sri Destari dengan suaminya, Gufron Mahmuda. Sahal, panggilan akrab remaja itu menyandang cerebral palsy. Cerebral Palsy merupakan ganggungan yang disebabkan kerusakan jaringan otak dan syaraf dalam menggerakkan anggota badan. Saat ini ia duduk di bangku kelas lima Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul. Dua anaknya yang lain, Azhar Faajri, 8 tahun, dan Ghaisan, 4 tahun.

Mereka bergabung dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Yogyakarta, kurang lebih satu tahun. “Belum lama, tapi saya merasakan mendapat kekuatan baru, semangat baru, pencerahan setiap kali berada dalam komunitas. Sehingga saya merasa lega, tidak begitu berat, selalu punya harapan dalam membersamai, mendampingi, anak kami Sahal,”ujarnya saat Solider temui pada pertengahan Januari lalu di Dalem Yudaningratan.

Desta, sapaan Sri Destari mengakui, bahwa memiliki anak berkebutuhan khusus tidaklah selalu mudah, penuh tuntutan, harus sabar, dan harus tebal telinga.
“Kami harus harus tinggal dalam lingkungan yang menunjukkan kesediaan untuk menolong. Keluarga, saudara maupun pengasuh harus paham bagaimana memperlakukan Sahal.,” tambahnya.

Tidak Hendak Percaya Diagnosis Psikolog

“Diagnosa psikolog bahwa Sahal mengalami Cerebral Palsy (CP) dalam kategori hanya mampu latih, sampai dengan saat ini terasa menyakitkan.” Desta bercerita sambil menahan napas.
Sambil berkaca-kaca ia melanjutkan cerita tentang apa yang dirasakannya. “Saya tidak ingin mempercayai diagnosis tersebut, hingga saat ini sangaat ingin membaliknya. Saya ingin sekali membuktikan bahwa Sahal juga dapat membaca, menulis,dan berhitung,” ujarnya.

Sebelum memutuskan Sahal sekolah di SLB, keluarga ini pernah menyekolahkan Sahal di sekolah Umum, TK Darul Qur’ani. Sahal menggunakan guru pendamping) selama di sekolah umum. Namun, hanya bertahan selama satu tahun, ternyata Sahal tidak bisa mengikuti pelajaran atau daya tangkapnya kurang, tidak mampu konsentrasi, berjalan-jalan terus, serta sedikit hiperaktif.

“Sedih tentu sebagai orang tua, tapi apa boleh buat,” tutur Desta sambil menghela nafas. Demi kebaikan putranya, keluarga ini menyekolahkan Sahal di SLB, dengan harapan akan mendapatkan perlakuan, pendidika, serta terapi yang sesuai dengan keutuhaan Sahal.
Desta dan suaminya memperlakukan Sahal sama dengan adik-adiknya, tidak ada yang dibedakan. Sahal juga memiliki guru les privat di rumahnya sebagaimana dua adiknya. Sahal belajar berhitung, menulis, membaca bersama guru lesnya. Sahal saat ini mampu mengeja suku kata sederhana.

Yang sering mengusik pikiran Desta adalah, bagaimana jika sebagai orangtua mereka lebih dulu pergi nantinya, sementara Sahal belum mampu mandiri sepenuhnya. Itulah yang mendasarinya ingin membalik diagnosis pskikolog dan membuat Sahal keluar dari perkiraan hanya mampu latih, tapi menjadi Sahal yang mampu didik.

Di Balik Cerebral Palsy Sahal

Sahal lahir prematur, ketika usia dalam kandungan ibunya baru tujuh bulan. Lahir dengan berat badan 1,6 gram, membuat Sahal harus dalam pengawasan intensif dokter tumbuh kembang anak. Berbagai kelainan pertumbuhaan fisik pun menyertainya.

Pada usia Sahal enam bulan terlihat bola matanya berputar, seperti mau lepas, tidak bisa fokus pada satu titik. Sehingga keluarga ini fokus melakukan terapi pada mata Sahal. Selama dua tahun Sahal rutin periksa ke Rumah Sakit Khusus Mata dr YAP, Yogyakarta. Selama dua tahun perawatan dan terapi tidak ada perubahan pada mata Sahal. Menurut keterangan Desta, penyebab kelainan pada anaknya adalah virus TORCH saat ia mengandung.

Desta dan suaminya memutuskan untuk berkonsentrasi pada perbaikan gerak motorik Sahal. Selama dua tahun pula dilakukan terapi untuk menguatkan otot lengan dan kakinya. Setelah dua tahun terapi, perkembangan fisik Sahal membuahkan hasil. Dia bisa berjalan, bahkan Sahal sangat aktif dan berani naik sepeda roda tiga saat usianya 4 tahun. Saat usianya 7 tahun, Sahal sudah bisa naik sepeda roda dua.

Catatan Kemandirian Sahal

Saat ini Sahal sudah mampu mencuci piring, menemani membuka warung, mengambil barang belanjaan. Sahal juga sudah tumbuh rasa empatinya. Dapat mendengarkan orang lain berbicara, dan cukup dapat berkomunikasi. Akhir tahun 2015, saat peringatan Hari Difabel Internasionnal oleh WKCP, Sahal menjadi motivator bagi teman-temannya yang tergabung dalam Wahan Keluarga Cerebral Palcy (WKCP).

Sri Destari dan keluarganya yang tinggal di Perumahan Griya Indah V/245 Yogyakarta ini merasa masih punya banyak pekerjaan rumah untuk menyiapkan masa depan Sahal.

The subscriber's email address.