Lompat ke isi utama
Salah satu buku pidato bahasa jawa

Sinau Sesorah Sebagai Modal untuk Berpartisipasi di Masyarakat

Solider.id, Kulon Progo- Kopi masih juga mengepul. Suara motor lalu lalang. Cuaca saat itu lumayan terik setelah beberapa hari sebelumnya, DIY dan sekitarnya diguyur hujan dengan intensitas yang kadang sangat deras.

Setelah selesai bercerita tentang bagaimana media kesenian bisa menjadi media kampanye inklusi sosial yang paling mudah diterima masyarakat, Sarjiyo, ketua Kelompok Difabel Desa (KDD) desa Sidorejo, Lendah, Kulon Progo.

Ia kembali bercerita tentang bagaimana berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat melalui inisiatif yang sudah ia rawat sejak dua tahunan terakhir. Tidak jauh dari hal-hal yang berbau kesenian, inisiatif yang ia rawat untuk masyarakat adalah sebuah kegiatan belajar pidato berbahasa Jawa yang sudah mulai luntur di kalangan generasi muda.

“Kegiatan belajar pidato bahasa Jawa atau sering saya sebut dengan sinau sesorah itu dilatarbelakangi oleh keadaan saya sebagai disabilitas,” ucapnya membuka sambil menyeruput kopi yang perlahan mulai tak panas lagi.

Ia kemudian bercerita bagaimana mulanya hidup di desa dengan disabilitas yang membuatnya cukup kesulitan untuk ikut aktif terlibat dalam kegiatan yang ‘berbau’ fisik seperti kerja bakti. “Fisik saya sebagai difabel daksa tak terlalu mendukung untuk bisa ikut aktif dalam kegiatan kerja bakti,” sambungnya.

Namun, ia tak kehilangan akal. Ia mengganti partisipasi aktifnya dengan menginisiasi sebuah kegiatan belajar pidato bahasa Jawa atau sering ia sebut dengan sinau sesorah. “Ini inisiatif saya sendiri untuk mengganti partisipasi saya di kegiatan seperti kerja bakti karena kondisi fisik kurang mendukung.”

Ia tak sendiri dalam menginisiasi kegiatan ini. Beberapa tokoh masyarakat yang ia lihat punya kapasitas mumpuni dalam membagi ilmunya terkait pidato bahasa Jawa diundangnya untuk turut bergabung.

Mereka menjadi pemateri dalam kegiatan ini. Sarjiyo juga mengundang dan membuka pintu sebesar-besarnya bagi siapapun yang ingin ikut bergabung dan belajar pidato bahasa Jawa.

“Tempat ini menjadi wahana belajar sesorah yang bisa mereka gunakan ketika mereka harus memberi sambutan ketika ada hajatan,” ungkap pria yang gemar bernyanyi ini.

Kegiatan positif ini telah berjalan selama dua tahun terakhir dan dilakukan setiap setengah bulan sekali. Waktunya setiap malam Jumat dua minggu sekali. Tempat belajar selalu berpindah-pindah untuk menghindari kebosanan dari orang-orang yang ikut belajar dalam kegiatan ini.

Terkait generasi muda di desa Sidorejo dalam mengikuti sinau sesorah ini, menurutnya partisipasi anak muda memang sangat kurang. Meski begitu, masih ada beberapa anak muda yang tertarik untuk ikut belajar di kegiatan ini. “Generasi muda tak cukup sadar akan pentingnya bisa berbahasa Jawa yang baik dan benar dalam pidato ataupun sambutan dalam hajatan,” ia menjelaskan.

Menurutnya, para generasi muda masih merasa bahwa bahasa Jawa susah untuk dipelajari dengan kompleksitas bahasanya yang bertingkat-tingkat padahal bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. “Tapi masih ada sedikit yang mau ikut. Ini penting untuk regenerasi,” ungkapnya mantap.

Tokoh masyarakat yang ia ajak untuk menjadi narasumber pembelajaran adalah mereka yang sudah malang melintang dalam memberikan sambutan ketika hajatan.

“Selain ilmu langsung dari narasumber, kami juga menyediakan buku seperti Sekar Semawur dan Kembang Setaman yang bisa dibaca dan dikaji bersama-sama sebagai suplemen sinau sesorah. [Yudha]

The subscriber's email address.