Lompat ke isi utama
Sarjiyo sedang perform di salah satu acara

Sarjiyo: Kampanye Inklusi dan Kritik Sosial Melalui Kesenian

Solider.id, Yogyakarta- Banyak altenatif bagi siapapun dalam menyuarakan inklusifitas kepada masyarakat. Mulai dari lokakarya, diskusi kecil-kecilan, pengajian, ceramah, dan lainnya, termasuk kesenian. Sebagian banyak difabel tentu memiliki potensi itu semua, salah satunya kampanye inklusi melalui berkesenian.

Kesenian bukan hanya sebagai hiburan ataupun media berekspresi bagi seseorang. Lebih luas, kesenian merupakan strategi bagi seseorang untuk menjalankan misi atau tujuannya. Seperti salah satu aktor difabel asla Kulon Progo, bernama Sarjiyo.

Sarjiyo,ketua Kelompok Difabel Desa (KDD) desa Sidorejo, Lendah, Kulon Progo sangat getol dalam menyuarakan inklusifitas di lingkungan sosial terkecil, di desa Sidorejo. Bahkan terkadang sampai melampaui itu, di level Provinsi, khususnya DIY.

Sarjiyo berangkat dari berbagai pengalaman waktu masa mudanya. Disabilitas yang ia alami tidak mampu menghambatnya untuk terus berkarya dan belajar. Pemahamannya akan hak difabel mengantarkannya menjadi pemantik diskusi isu difabel di desa dan di berbagai kesempatan.

Ada metode menarik yang sering dilakukan Sarjiyo dalam mengkampanyekan isu difabel dan isu kritik sosial lainnya, yakni dengan berkesenian.

Pada Jumat (9/2), Solider mengunjungi Sarjiyo dan melakukan wawancara eksklusif di warung makannya yang terletak di desa Sidorejo. Ditemani dua gelas kopi hitam yang mengepul dan suara motor yang lalu lalang, wawancara pun dimulai:

Bagaimana awal mula bergelut di bidang kesenian?

Awal mula bergelut di bidang kesenian itu karena saya punya hobi dengan hal yang berbau seni. Mulanya, saya hanya coba-coba. Namun setelah itu malah keterusan. Kesenian pertama yang saya ikuti adalah ketoprak di desa, kemudian berkembang sisi humor dalam kesenian yang saya bawakan. Jadi, saya sebagai pelaku humornya, dagelan lah istilahnya. Aktif berkesenian dari tahun 2012 dalam bentuk organ tunggal. Kalau berkesenian ketoprak itu malah sejak belum menjadi difabel.

Lalu, di sisi lain, saya suka berkesenian karena memang senang berkaraoke. Dulu saya sering ikut lomba karaoke di desa dan juga sering menyumbang lagu jika ada hajatan di dusun. Setelah itu, saya keterusan dan punya seorang kawan yang bernama Deni. Kami akhirnya sering tampil walaupun hanya dengan keyboard pinjaman. Pertama tampil dengan Deni, saya masih merasa grogi. Lama-lama, kami malah membentuk grup kesenian dengan alat seadanya. Mulanya untuk menghibur diri sendiri, menghibur kawan sekitar, lalu muncul tawaran untuk pentas sehingga sampai saat ini kami akhirnya banyak pentas.

Semenjak itu, saya dan Deni akhirnya menggunakan kesenian sebagai kampanye difabel dan inklusi sosial di masyarakat. Selain bersifat hiburan, ada sisipan kampanye inklusi sosial juga. Jadi, kami mencoba mengkampanyekan inklusifitas mulai dari keluarga, masyarakat hingga pemerintah. Latar belakang humor dan ketoprak sangat mendukung saya terutama saat berperan sebagai MC dan saat bernyanyi.

Menyuarakan inklusifitas sosial lewat contoh seperti apa?

Inklusifitas sosial saya suarakan salah satu contohnya lewat sebuah lagu pendek yang kami buat sendiri. Lagi itu kami sisipi dengan pesan terkait difabilitas. Kami juga mengkampanyekan kekhasan yang ada di Kulon Progo seperti batik dalam lirik lagu pendek yang kami buat.

Lalu, ada juga lagu bertema kritik sosial yang sering kami bawakan. Judulnya Dalan Dalan Ndeso. Lagu ini bercerita tentang seorang calon legislatif yang banyak membuat janji saat kampanye tapi setelah itu lupa akan janjinya. Lagu itu bukan buatan saya, tapi buatan seorang teman yang ada di Jogja.

Ada juga lagu berjudul Pak Bupati yang mengkitik pemerintah karena memberi janji namun kenyataannya di masyarakat masih banyak pengangguran dan permasalahan lainnya. Yang lagu Pak Bupati itu rekan saya Deni yang buat. Sekarang, ia sudah meninggal dunia dan penggantinya adalah Anang yang rumahnya di Lendah (Red: kecamatan).

Apakah kesenian ketoprak masih sering dilakukan?

Sekarang saya sudah tidak bermain ketoprak lagi karena faktor kondisi fisik. Tapi ketika harus tampil sebagai aktor drama humor, saya masih bisa. Bahkan saya pernah diundang di Jogja National Museum (JNM) untuk membuat sebuah drama dan saya sendiri yang menjadi sutradara. Waktu itu acaranya adalah kampanye stop kekerasan perempuan. Yang bermain di drama itu adalah gabungan pemain multi difabel. Cerita yang dimainkan adalah lakon Ande-ande Lumut yang bercerita bagaimana perempuan mengalami pelecehan seksual, lalu tokoh utama Klenting Kuning membalaskan perlakuan yang dilakukan oleh Yuyu Kangkang.

Menjadi sutradara drama di JNM belajar dari mana?

Belajar sendiri saja. Saya melihat di TV. Cerita Ande-ande Lumut kan sudah familiar. Saya garap dengan tambahan suguhan humor hingga penonton tertarik. Jadi misi untuk mengkampanyekan stop kekerasan perempuan bisa diterima dengan enak.

Kalau humor belajar darimana?

Sebetulnya humor sudah masuk dalam kebiasaan saya ketika bergaul dengan orang. Memang karakter saya seperti itu, kadang bisa otak-atik waton gatuk (Red: cocok-mencocokkan). Jadi hanya mengalir saja, tidak belajar dari siapapun. Hanya imajinasi sendiri dan saya kadang tak ada niatan untuk mengeluarkan gurauan. Hanya mengalir saja. Dulu juga pernah iseng ikut audisi API (Akademi Palawak Indonesai) yang pertama. Tapi, langsung tereliminasi dari awal.

Kenapa memilih seni untuk menjadi media ekspesi kampanye?

Kesenian itu sangat familiar dan banyak disukai orang. Ketika memasukkan kampenye difabel dan sosial inklusi melalui media seni, meresapnya akan mudah karena pada dasarnya hampir semua orang suka dengan hal-hal yang berbau hiburan dan kesenian.

Selain nilai inklusi, nilai apa yang ingin disampaikan melalui media seni?

Ya itu, selain inklusi ada kritik sosial kepada pemerintah. Misal anggota DPRD yang harus ingat dengan janjinya dan bupati yang harus merespon apa yang menjadi kemauaa rakyat kecil. Ada juga yang isinya mengupas tentang bencana alam. Dengan lagu Lereng Merapi kita bisa mengenang dan bercerita tentang merapi ketika meletus dan mengingatkan diri sendiri dan orang lainagar senantiasa tetap berhati-hati.

Lagu Lereng Merapi yang buat adalah Mbah Dono, seorang kawan dari Jogja yang suka bikin lagu.  Namun yang jelas, kebanyakan lagu yang kami nyanyikan itu di pasaran tidak ada. Kaset dan CDnya hanya kami yang punya.

Sudah tampil dimana saja?

Kebanyakan di tempat hajatan, lalu acara Hari Difabel Internasional (HDI), kegiatan kampanye tentang perempuan, pernah juga dengan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) di desa Sendangtirto. Tampil dengan Mas Dalijo dan Mbok Beruk. Waktu itu sebetulnya grogi tapi karena mereka sudah menjadi seniman yang senior. Tapi, karena tantangan, jadi mengalir saja. Ketika selesai, saya merasa ada kebanggan sendiri.

Ada pengalaman unik lain ketika pentas?

Pengalaman manggung pada 2012, Saya mendapat kesempatan ikut pelatihan lawak dan dagelan yang diadakan di Padepokan Bagong Kusudihardjo selama 4 hari. Yang menjadi narasumber adalah Bu Yuningsih, lalu Mbah Darmo sulap-selip, lalu ada dari TPI jakarta dan Pak Darminto. Pelatihan ini memberikan wawasan bagaimana kiat-kiat menjadi pelaku seni. Seperti apa yang dikatakan oleh Bu Yuningsih.

Kalau menjadi pelaku seni itu harus pinter cari ndoro atau penanggap. Mau berkesenian seperti apa ketika pinter mencari penanggap maka akan bisa tetap berjalan. Sebagus apa pun berkesenian tanpa ndoro maka akan susah untuk mengembangkan.

Ke depan akan bagaimana untuk kesenian?

Kalau saya, mengalir saja. Ketika ada orang yang masih mau mengundang, saya akan tetap mau tampil. Karena tujuan saya berkesenian adalah untuk kampanye difabel dan sosial inklusi di masyarakat. [Yudha]

The subscriber's email address.