Lompat ke isi utama
Keterangan foto : Nathan Basha berdiri ditengah memaki jas biru

Gerakan Difabel Mental di Negeri Kangguru

Solider.id, Mamuju -- Banyak hal menarik selama menjadi salah satu peserta studi singkat Australia Awards Indonesia (AAI) yang bekerjasama dengan Sydney Southeast Asia Center (SSEAC) dan Pemerintah Australia, selain soal aksesibilitas (https://www.solider.id/baca/4223-keramahan-sydney-dirindukan-refleksi-a…) yang sangat menarik juga adalah adanya beberapa narasumber dari kalangan Difabel Mental, hal yang tidak pernah terjadi di daerah manapun di Indonesia.

Di negara ini (baca; Indonesia) difabel mental masih belum mendapatkan hak yang sama dengan yang ada di Australia, baik itu hak untuk berbicara dan didengarkan, hak berorganisasi sebagai pengurus inti, apalagi hak untuk bekerja. Hal ini justru berbanding terbalik dengan yang terjadi di Sydney Australia.

Hari pertama kuliah (Senin 22/01) di sesi yang kedua dengan Panel : Tantangan sebagai pemimpin DPO. Narasumber yang pertama adalah Alana Julian seorang wanita dengan difabel mental yang di sebabkan karena kecelakaan dan divonis dokter umurnya tidak akan lama lagi, tapi mampu bangkit dan menepis anggapan dan keraguan orang-orang tentang dirinya.

Alana adalah seorang fasilitator di Dewan untuk Difabel Intelektual setelah lulus dari program yang bernama My Choice Matters Become A Leader (Pilihan saya penting – menjadi seorang pemimpin). Dia dengan sukses mengadakan kursus kepemimpinan untuk difabel yang tujuannya untuk mendukung peserta kursus menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri dan pemimpin didalam komunitas mereka, Alana juga terlibat dalam Advokasi pemenuhan hak difabel dan pada tahun 2013 Alana ditunjuk oleh Menteri urusan kedifabilitasan sebagai Duta difabel untuk Living Life My Way (Menjalani Hidup Sesuai Jalan Hidupku) di kawasan pantai tengah negara bagian New South Wales (NSW), salahsatu tugasnya adalah membantu masyarakat khususnya komunitas difabel meyiapkan Skema Asuransi Difabel Nasional. Alana juga mampu menciptakan alat komunikasi yang diberi nama B Talk yang bisa membantu komunikasi efektif dengan difabel mental. Oleh klub Rotary lokal di daerahnya  Alana dinominasikan untuk meraih penghargaan Kepemimpinan Pemuda Rotary, dan Alana juga mendirikan Klub Pemuda Rotary di Pantai Tengah negara bagian NSW dan dia dipilih sebagai presidennya.

Hari kedua kuliah (Selasa 23/01) sesi kelima Belajar Dari Pengalaman 1. Bersama narasumber Nathan Basha yang juga seorang difabel mental Down Syndrome tapi dia selalu mengatakan “Itu bukan saya”. Mengawali pertemuan dengan semangat Nathan mencaritakan kisahnya yang setelah dilahirkan di sebuah Rumah Sakit, dokter yang mengetahui Nathan lahir dengan kondisi Down Syndrome memberikan tiga pilihan kepada orang tuanya, dibawa ke panti, di adopsi atau dibawa pulang.  Nathan beruntung sebab orang tuanya mengambil pilihan yang ketiga dengan membawanya pulang .

Nathan kini aktif sebagai pembicara di berbagai konferensi nasional dan iternasional, forum politik, acara di perusahaan, universitas, sekolah, kelompok masyarakat dan lokakarya. Sebagai pembicara Nathan membagikan wawasannya tentang apa yang bisa terjadi ketika orang-orang didorong untuk menggapai impiannya dan hidup sesuai potensi penuh yang dimilikinya.

Nathan tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sydney, dia juga seorang pembuat film dan bekerja di stasiun radio terkenal yang bernama Nova 96,9 FM. Nathan percaya bahwa perubahan bisa terjadi “Semuanya tergantung pola pikir kita – pola pikir yang tidak mau berubah akan mencipatakan halangan. Halangan seperti ini perlu kita labrak sehingga memungkinkan kita untuk memiliki kesempatan dalam hidup dan menjadikan kemampuan seseorang bersinar. Apa yang Anda lihat diluar berbeda dengan apa yang ada didalam diri Anda – apa yang ada didalam diri Anda lebih dari apa yang tampak dari diluar”.

Nathan juga aktif dalam membantu difabel mendapatkan pekerjaan sesuai dengan impian mereka dan dia percaya kita semua bisa bekerja bersama untuk mewujudkan itu.

Hari keempat kuliah (Kamis 25/01) sesi ke lima belas Panel : Advokasi isu-isu difabel di Australia. Dengan narasumber Robert Strike seorang difabel mental karena  Hidrosefalus (Cairan di otak).

Robert adalah anggota Dewan Difabel Intelektual dan pelopor di bidang Advokasi 

Robert besar dan tumbuh di panti, melalui sesi ini dia sedikit menceritakan bagaimana berat dan susahnya seorang difabel mental berada di panti “kita tak punya ruang untuk berekspresi semuanya diatur, disuruh, semuanya tak sesuai dengan yang kita inginkan”. Melaui Advokasi Robert telah bekerja keras untuk mengupayakan penutupan semua panti bagi difabel.

Robert salah satu pendiri gerakan swa-Advokasi di Australia; dia mendirikan swa-Advokasi Sydney pada tahun 1986. Tahun 2009 Robert di anugerahi penghargaan pencapaian seumur hidup oleh Disabilitas Nasional di Canberra, dan tahun 2017 dia mendapat kehormatan untuk menjadi anggota Ordo Australia berkat karya-karyanya di bidang Advokasi.

Tak ada sesuatu yang tidak mungkin. Di negara lain, telah ada sejumlah praktik baik bagaimana mengupayakan agar difabel mental intelektual dapat berpartisipasi dalam pergerakan kesetaraan difabel. Hal ini tentu mungin saja kita lakukan di negara ini. Berbagai upaya dan dorongan harus terus dilakukan agar difabel mental intelektual dapat berperan aktif. Melanggengkan label dan stigma bagi mereka bukanlah solusi yang tepat untuk dapat menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif. (Shafar Malolo)

The subscriber's email address.