Lompat ke isi utama
Suasana acara talkshow pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus

Mempertahankan Diri Melalui Pendidikan Seks

Solider.id, Surakarta- Ada beberapa anggapan yang selama ini masih keliru bahwa anak difabel tidak memiliki dorongan seksual, dorongan seksual berlebihan atau justru aseksual. Padahal faktanya tidak demikian. Anak difabel memiliki dorongan seksual yang sama seperti orang pada umumnya.

Kemampuan bela diri sebagai pertahanan di saat mendapat ancaman perundungan ataupun kekerasan juga suatu kebutuhan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Beberapa pengetahuan tentang bagian tubuh mana saja yang perlu dilindungi. Khususnya para orangtua, bisa memperkenalkan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh.

“Dengan menjelaskan apa itu triangle, yang harus diketahui dan dilindungi,” kata Yustinus Joko Dwi N, terapis yang juga dosen pada acara bincang-bincang tentang pedidikan sesksualitas yang diadakan Love Land Indonesia di Panggung Gesang, Hotel Omah Sinten, Minggu (11/2).

Menurut Yustinus, ketika ABK sudah memiliki rasa suka kepada lawan jenis, maka yang perlu dipahami adalah berilah mereka pemahaman secara bertahapan dan melalui proses adaptasi. Cara yang dilakukan ditak harus sama  dengan non difabel. Sebab ABK memiliki kemampuan yang berbeda dalam memahami, menangkap pemahaman yang diajarkan. “Kelemahan pengajaran tentang pendidikan seksualitas terletak pada abstraksi atau cara menjelaskan penggambaran tentang pemahaman seksual,” tambahnya.

Yuliana Tri Susilowati mengatakan bahwa pertahanan diri bagi ABK misalnya Cerebral Palcy (CP), adalah dengan motorik. Bagaimana orangtua mengajarkan pertahanan diri bagi ABK. Ia memisalkan jika CP bertemu dengan temannya yang jahil. "Memang perlu pertahanan diri,” katanya.

Yulianan menuturkan beberapa pengalaman bagaimana memberi terapi kepada ABK. Bagaimana jika anak akan jatuh, khususnya anak dengan hambatan sensorik taktil di kaki. Menurutnya pendekatan sensorik, dengan memberikan latihan pembebanan. Sedangkan untuk yang hypo sensorik adalah latihan pada tekstur atau pijatan dari keras ke lembut.

Ichwan orangtua Abit seorang ABK menuturkan sejalan dengan dua pemateri di atas. Mengenalkan anak-anak difabel tentang konsep bina diri menjadi hal penting. "Menurut pengalaman saya, anak kita ada tiga macam pertama adalah anak yang tidak tahu bahwa dia luar biasa, kedua tahu bahwa dia luar biasa dan ketiga tahap mampu karena dia luar biasa. Perlu kedewasaan emosi untuk mau menerima mereka sebagai anaugerah," ujar Ichwan. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.